Tidak Mudah, ini Cara Produksi Oksigen


Agus Utantoro - 15 July 2021, 17:14 WIB

UNTUK memproduksi oksigen tidaklah mudah, terlebih lagi jika mengarah ke produksi skala rumahan. Hal ini cukup berdasar karena produksi oksigen pada prinsipnya memisahkan oksigen yang ada di udara dari zat lain yaitu nitrogen dan argon.

Itu disampaikan pakar energi yang juga dosen Departemen Teknik Kimia UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., Kamis (15/7). Udara, imbuhnya, terdiri atas 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% argon. Cara pemisahannya dengan distilasi kriogenik atau pressure swing adsorption (PSA).

Distilasi kriogenik yaitu menekan dan mendinginkan udara sehingga menjadi cair. Setelahnya, oksigen, nitrogen, dan argonnya dipisahkan dengan distilasi. "Kemurnian oksigen yang dihasilkan dari distilasi kriogenik ini lebih dari 99%," ujarnya.

Panut menambahkan produksi skala kecil yang cocok adalah PSA dengan prinsip udara ditekan melewai bejana yang berisi bahan penyerap, misalnya zeolit atau karbon aktif. Nitrogen terperangkap atau terserap masuk ke pori-pori bahan isian tetapi oksigennya lolos (tidak terserap) sehingga gas yang keluar bejana adalah oksigen dengan kemurnian 90%-93%.

Jika bahan isiannya sudah jenuh dengan nitrogen, katanya lagi, operasi dihentikan. Dengan penurunan tekanan di bejana itu, nitrogen akan keluar dari pori-pori bahan isian sehingga bisa dialirkan ke tempat lain atau dibuang.

Supaya alat bisa bekerja menghasilkan oksigen secara kontinu, dalam alat dipasang paling sedikit dua bejana yang berisi bahan penyerap yang bekerja secara bergantian. Ia mengungkapkan, oksigen konsentrator portabel yang dijual di pasaran secara umum bekerja dengan PSA.

Sedangan cara lain produksi oksigen yaitu elektrolisis air yang menghasilkan oksigen murni dan hidrogen murni. Oksigen keluar dari sisi anoda (+) dan hidrogen keluar dari sisi katoda (-). "Cara ini membutuhkan energi listrik yang besar. Alternatif lain produksi oksigen dengan kadar sekitar 95% juga dapat dilakukan dengan pemisahan nitrogennya menggunakan membrane," kata Panut.

Menurut Panut, UGM akan berusaha bekerja sama dengan alumni yang bekerja di industri kimia yang punya unit produksi oksigen, seperti industri pupuk dan industri metanol sintetis. Namun, diakuinya, banyaknya rumah sakit yang sama-sama memerlukan oksigen membuat hal itu tidak mudah karena harus ada pembagian secara nasional.  

"Saya kira para dokter di rumah sakit sudah menerapkan standar penggunaan oksigen bagi para pasien dengan baik. Yang bisa dilakukan, optimalisasi kapasitas produksi unit-unit produksi yang kita miliki sehingga mencapai 100% kapasitas terpasang," jelas Panut.

Dia juga menerangkan bahwa dengan banyaknya pasien yang tidak tertampung di kamar rawat inap standar rumah sakit, kebutuhan tabung oksigen yang dapat digeser mengikuti posisi pasien juga menjadi persoalan tersendiri. Jadi, pengadaan tabung oksigen juga harus diusahakan secepatnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT