24 May 2023, 19:54 WIB

Cerita Nenek Marsini, Jemaah Haji Lansia Berkebutuhan Khusus


Windy Dyah Indriantari |

SEPINTAS Marsini Markim Tohir, 78, tampak sehat. Ia dengan lancar menceritakan tentang kelima anaknya dan di mana mereka tinggal. Ia mampu menyebutkan alamat tempat tinggalnya di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Di usia senjanya dia masih mampu berjalan dengan cukup lincah. Namun, justru itu yang menambah kekhawatiran tim petugas haji layanan lansia. Pasalnya, Marsini menderita demensia atau yang lebih dikenal dengan sebutan pikun.

Marsini kerap ingin beranjak dari tempatnya duduk di lobi Hotel Abraj Tabah, di Madinah. Ia mengatakan ingin kembali ke rumahnya untuk mandi dan bersiap-siap berangkat haji. Rupanya, ia tidak ingat telah menempuh 9 jam lebih perjalanan menumpang pesawat terbang meninggalkan Tanah Air.

Baca juga : 360 Jemaah Haji Kloter 1 Telah Tiba di Madinah

Yuminah Rohmatullah, petugas haji layanan lansia Sektor 2 Daerah Kerja (Daker) Madinah mengatakan Marsini harus diupayakan tetap di tempat dengan diajak mengobrol, supaya tidak pergi sendiri.

Petugas tengah mengupayakan menemukan teman-teman sekamar jemaah haji Kloter 1 Embarkasi Solo-Yogyakarta (SOC-1) yang baru tiba di Madinah, Rabu (24/5) pagi tadi.

Baca juga : Tanpa Pendamping, Nenek Embun Tetap Semangat Berangkat Haji

Yuminah mengatakan dalam penyisiran pertama setelah kedatangan Kloter SOC-1 di hotel, pihaknya mengidentifikasi sedikitnya tujuh orang masuk golongan berkebutuhan khusus. Ada yang pikun seperti Marsini, ada yang menderita stroke, dan lainnya yang membuat mereka memerlukan pendamping.

"Tapi ini baru penyisiran awal. Nanti bisa saja bertambah karena jumlah lansia di kloter ini ada 120 orang, yang tertua usianya 86 tahun," papar Yuminah.

Ia mengingatkan itu baru untuk kategori lansia. Di kelompok usia lainnya juga ada golongan jemaah risiko tinggi yang mungkin berkebutuhan khusus sehingga memerlukan pendampingan.

Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi dr Imran membeberkan teknik mengembalikan ingatan penderita demensia.

"Biasanya dipicu oleh karena memang ada gangguan dari sisi memori, yang kedua itu bisa dipicu oleh kelelahan dan dehidrasi. Penanganan awal dengan mengajak dia bercerita untuk mengembalikan ingatannya. Paling tidak ingatan dia di kampung, lalu tujuannya dari Tanah Air ke Tanah suci itu apa," tutur Imran.

Selain itu diberi minum untuk mengembalikan cairan tubuhnya. Selanjutnya, penderita demensia, menurut dokter Imran, perlu didampingi karena ia bisa kembali lupa ingatan.

"Pendampingnya itu yang akan selalu mengingatkan, merecall selalu memorinya. Tidak masalah, kalau misalnya (pendampingnya) tetangga, atau orang dikenal saat di asrama haji udah kenal itu bisa," tandas dokter Imran. (Z-8)


 

BERITA TERKAIT