25 January 2023, 07:15 WIB

Perluas Riset Obat, UI Bidik Potensi Biota Laut


Zubaedah Hanum |

SUDAH bukan rahasia lagi jika perairan Indonesia kaya akan biota laut, namun belum termanfaatkan secara maksimal. Padahal, biota laut menjadi salah satu bahan baku potensial obat sejumlah penyakit.

Diketahui, Indonesia memiliki 18% terumbu karang dunia dan beragam biota laut lainnya yang dapat dimanfaatkan dalam bidang farmakologi untuk bahan obat-obatan alami, kosmetik, dan suplemen.

Data pemerintah menyebutkan, ada sekitar 15.000 jenis tumbuhan di Indonesia yang berpotensi sebagai obat, namun baru 7.000 spesies yang digunakan sebagai bahan baku obat. Jumlah ini baru 46%, bahkan belum sampai separuhnya.

Membaca potensi tersebut, Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FF UI) bekerja sama dengan Pusat Riset Vaksin dan Obat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan bahan baku obat dari biodiversitas bahan alam Indonesia.

Kolaborasi ini diresmikan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama oleh Dekan FF UI, Prof Arry Yanuar dan Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN Masteria Yunovilsa Putra, pada 18 Januari 2023 lalu.

“Selama ini pemanfaatan bahan untuk obat masih banyak dari tanaman dan herbal. Kali ini, kami akan perluas sampai ke biota laut dan mengembangkan basis datanya," kata Prof Arry.

Lewat kolaborasi ini, kedua pihak sepakat untuk melakukan investigasi senyawa bioaktif dari tanaman dan bahan laut dengan metode metabolomik dalam mengidentifikasi senyawa sekunder yang bisa dimanfaatkan dalam pembuatan obat.

Senyawa tersebut nantinya akan dikelompokkan sesuai dengan prospect pengobatan penyakit tertentu, misalnya kanker, diabetes, dan sebagainya.

Riset biota laut antara UI dan BRIN sebelumnya sudah dilakukan lewat kolaborasi pengembangan obat Covid-19 di masa pandemi. Dari riset tersebut, sebut Prof Arry, UI tertarik untuk melakukan uji coba lebih lanjut. "Kami berharap ada produk lain yang dihasilkan dan ke depannya dapat bersinergi dengan mitra industri,” kata Prof Arry lagi.

Penandatanganan kerja sama UI-BRIN diadakan di Gedung A Rumpun Ilmu Kesehatan, UI Kampus Depok. Dalam kesempatan istimewa itu hadir Ketua dan Tim Pusat Kolaborasi Riset Metabolomik Nasional FF UI, Prof Abdul Mun’im; Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan, Fadlina Chany Saputri; Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum Sutriyo; Manajer Kerjasama, Ventura dan Hubungan Alumni Rani Sauriasari; Kepala Biro Humas dan KIP Amelita Lusia; serta jajaran dari BRIN.

Nantinya, kerja sama FF UI dan BRIN juga melingkupi pertukaran informasi dan keahlian dalam bidang biologi farmasi (studi metabolomik pemurnian, uji bioaktivitas, dan elusidasi struktur kimia).

Kedua pihak juga bekerja sama dalam peningkatan kompetensi periset, dosen, mahasiswa, dan pranata laboratorium; pemanfaatan sarana dan prasarana masing-masing pihak; penyusunan publikasi dan dokumen kekayaan intelektual hasil kegiatan bersama; pertukaran dan pemanfaatan data dan informasi; serta monitoring, evaluasi, dan pelaporan kegiatan.

Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN Masteria Yunovilsa Putra menyambut baik kolaborasi bersama Farmasi UI. “Ini adalah awalan yang bagus bagi kita. Ke depannya, tidak hanya untuk Pusat Kolaborasi Riset (PKR), kami berharap kita bisa mengembangkan produk-produk biologi. Saat ini, BRIN sedang mengembangkan vaksin tuberkulosis dan monoclonal antibody. Saya dengar UI juga sedang mengembangkan vaksin yang sama. Semoga kita bisa mengembangkan ini bersama-sama,” kata Masteria.

Dalam tulisan yang diterbitkan di jurnal Oseana (2008), Abdullah Rasyid dari Oseanografi-LIPI Jakarta mengungkapkan penemuan obat dari biota laut sudah dimulai sejak 1970-an.

Lebih dari 10.000 senyawa bioaktif telah berhasil diisolasi dari biota laut dan sekitarnya. Sekitar 300 paten dari senyawa tersebut berhasil dipublikasi selama kurun waktu 30 tahun (1969-1999).

Ia mengatakan, senyawa-senyawa dari biota laut seperti spons, moluska, algae, squalamine, telah dimanfaatkan untuk kasus infeksi akibat jamur, penanganan tuberkulosis, penanganan parasit helmintik, infeksi protozoa, antibiotik alami, antivirus, penyakit kronis, penyakit kanker dan antinflamasi (antiperadangan). (H-2)

 

BERITA TERKAIT