09 December 2022, 11:00 WIB

Puisi Bertema Hari Ibu, Cocok Dibaca Pas 22 Desember


Meilani Teniwut |

DI Indonesia, Hari Ibu dirayakan tiap 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Perayaan itu dilakukan dengan membebastugaskan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajiban mereka, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Ibu merupakan orang pertama yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang sampai sekarang. Beliau merupakan seseorang yang telah berjasa bagi kita semua. Pengorbanan seorang ibu sangatlah besar demi anaknya agar kelak dapat hidup bahagia.

Mungkin ada sebagian dari kita yang tidak dapat merasakan kehangatan akan kasih sayang ibu sejak kecil. Oleh karena itu, hendaknya kita bersyukur apabila masih bisa berkumpul dengan ibu kita yang telah membesarkan kita dengan penuh kesabaran dan ketulusan.

Baca juga: Ini 35 Ide Kado untuk Hari Ibu

Ucapan terima kasih kepada ibu sering kali diungkapkan melalui puisi-puisi nan indah. Sehingga, tak jarang kita menemui puisi yang bertemakan ibu pada artikel, majalah atau bahkan buku pelajaran sekolah.

Hari Istimewa

Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi seluruh ibu di dunia ini.
Selamat Hari Ibu untuk ibuku tersayang.

Terima kasih atas semua hal yang telah kau berikan untukku.
Semoga kau bahagia dan sehat selalu.

Terima kasih buat semua yang sudah kau berikan untukku.
Aku tahu aku tidak akan dapat membalas semua kasih sayangmu selama hidupku. Selamat Hari Ibu, Bu.

Ibu Super

Karya: Joanna Fuchs

Ibu, kamu adalah ibu yang luar biasa,
Begitu lembut, namun begitu kuat.

Banyak cara yang kamu tunjukkan bahwa kamu peduli.
Ibu sabar saat aku melakukan kesalahan,
Ibu memberikan bimbingan ketika aku bertanya,
Tampaknya kamu dapat melakukan hampir semua hal,
Ibu adalah master dari setiap tugas.

Ibu adalah sumber kenyamanan yang dapat diandalkan;
Ibu adalah bantalku saat aku jatuh.

Ibu membantu di saat-saat sulit;
Ibu mendukungku setiap kali aku menelepon.

Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu,
Ibu memiliki rasa hormatku sepenuhnya.

Jika aku memiliki pilihan,
Ibu akan menjadi orang yang aku pilih!

Setetes Air Mata

Karya: Hanim Fatmawati Madiun

Setetes air mata seorang ibu
Gejolak hati yang seakan akan ingin menjerit
Air mata terus mengalir
Membasahi kedua pipinya
Yang sangat lembut
 
Di malam yang sunyi gelap gurita
Kedinginan yang merada di tubuhnya
Hati yang terluka terhanyut dalam kesedihan
Seorang ibu terus
Meneteskan air mata
Dan ia mulai bertanya
Kepada seorang anak
 
Ia mulai mengucapkan
Kata-kata dengan lisan
Mulutnya seakan akan ingin marah
Penderitaan yang dirasakan
 
Ia mulai berbaring
Dan meneteskan air mata
Apa yang ia rasakan
Dan mulai merenung dan diam
Tanpa kata-kata

Pelangiku

Hari-hari yang indah seperti pelangi,
dongeng dan mimpi indah di malam hari,
kecupan untuk menghapus air mataku,
pelukan hangat yang dalam untukku.
Bunda memberi hadiah hidup untukku,
aku berterima kasih atas perhatianmu.

Maafkan Aku, Ibu

Karya: Anonim
 
Akulah sang pengukir mimpi
Yang menghendaki pergi berasal dari sunyi
Yang hanyut oleh gelisah
Dan ditelan rasa bersalah
Ibu, kaulah matahariku
 
Terang dalam gelapku
Kau tuntun aku di jalur berliku
Yang penuh oleh batu
Ucapanmu bagaikan kamus hidupku
Aku berteduh dalam naungan doamu
Memohon ampunan darimu
 
Karena rida Allah adalah ridamu
Aku senang memilikimu Ibu
Karena engkau sinar hidupku
Kaulah kunci berasal dari kesuksesanku
Ibu, maafkan aku

Dia...Mamaku

Karya: Zakiyah Noer Islami
 
Kala itu purnama sempurna
Benderang cahayanya menyinari samudera
Kala itu seorang wanita menderita
Teriakannya mengguncangkan Nusantara
 
Demi buah cinta yang terindah
Dia meradang, dia mengerang dengan bangganya
Wahai dunia tahukah engkau
Siapa wanita yang terhebat itu
 
Dia….mamaku

Catatan Terima Kasih

Karya: Lang Leav
 
Kamu telah memberitahuku
Semua hal

Aku perlu mendengar
Sebelum aku tahu,
Aku perlu mendengar mereka

Agar tidak takut dari semua hal
Aku pernah takut,
Sebelum aku tahu
Aku seharusnya tidak takut pada mereka.

Ibu Luar Biasa

Apa yang bisa aku katakan tentang ibu yang luar biasa,
Orang yang luar biasa, seorang ibu yang tiada duanya.
Kapanpun aku membutuhkan ibu, ia selalu ada.
 
Ibu mendengarkan, memahami, dan menunjukkan bahwa ibu peduli.
Ibu melakukan hal-hal yang dilakukan ibu lain,
Tapi Bu, ada jauh lebih banyak lagi dari dirimu.
 
Sulit untuk menggambarkan perasaan yang aku rasakan,
Cintaku padamu, Bu, dalam dan nyata.
Untuk ibuku yang luar biasa, Selamat Hari Ibu!
 
Aku Bahagia, Ibu adalah Ibuku

Aku senang kamu ibuku,
Karena Ibu telah merawatku dengan baik.
Ibu mencintaiku dan ibu menunjukkannya,
Aku sangat bersyukur dan bahagia.
 
Aku sangat mencintaimu,
Bertepatan di hari ibu ini,
Terima kasih atas semua yang ibu lakukan,
Selamat Hari Ibu!

Bunga

Oleh Ellen Erviandani
 
Aku pilih mati !
Jika bunga tetap menangis
Karena tiap-tiap tetesannya luka dalam jiwaku
 
Aku pilih mati !
Buratan benang kusam jalannya terlampau terbatas
Kala itu menghendaki aku bunuh sang waktu
 
Aku pilih mati !
Sebagai aku kupu-kupu yang tak bersayap
Bagi aku yang tak terbang cerahkan kelopaknya
 
Aku marah !
Jika keasingan merengut senyum bunga
Sangat teriris…
 
Aku tak pilih mati !
Sinar doa-doanya selimuti malamku
Begitu banyak harapan mimpi bunga padaku
 
Aku bakal berdiam diri
Dengarkan sepoi angin berasal dari dirinya
Menyongsong tajam sorot mata tuanya
 
Aku tak boleh mati !
Mendahului bunga
Itu pintanya

Pergimu Tiada Kembali

Bila sepi malam seperti ini,
Rinduku padamu mengusik jiwa.
 
Teringat akan senyumanmu,
Yang meneduhkan, mendamaikan, dan menenangkan jiwaku.
 
Ibu,
Sedih ini kan terobati
Seandainya engkau ada di sini.
 
Galau ini akan terhapus,
Jika engkau masih bersama kami.
 
Kini hanya doa
Yang bisa kupanjatkan.
 
Moga engkau bahagia di alam sana.

Maafkan Aku, Ibu

Akulah sang pengukir mimpi
Yang menghendaki pergi berasal dari sunyi
 
Yang hanyut oleh gelisah
Dan ditelan rasa bersalah
 
Ibu, kaulah matahariku
Terang dalam gelapku
 
Kau tuntun aku di jalur berliku
Yang penuh oleh batu
 
Ucapanmu bagaikan kamus hidupku
Aku berteduh dalam naungan do’amu
 
Memohon ampunan darimu
Karena ridho Allah adalah ridhomu
 
Aku senang memilikimu Ibu
Karena engkau sinar hidupku
 
Kaulah kunci berasal dari kesuksesanku
Ibu, maafkan aku

Samudra Kasih Bunda

Ibu selalu memberi, memberi, memberi
Sedari kita kecil hingga dewasa
sampai dia pun tutup usia
 
Kasih sayangnya pancaran kasih sayang Tuhan
Tulis ikhlasnya pancaran tulus ikhlas Tuhan
Dia samudra amat dalam dan langit luas kehidupan
 
Dia seindah kerajaan burung-burung dan terumbu karang istana ikan
Yang menjajikan kedamaian dan hidup bahagia
Dia benteng pelindung atas bencana menimpa
Meski tubuhnya sendiri renta
 
Ibulah cahaya-cahaya di kegelapan
Pandu penunjuk jalan lurus
Karena hati dan cintanya yang tulus
Pengorbananmu, Buda, iklas sumbangsihmu
Teladan bagi banyak hal yang bernama baik
Dengan akhlak dan cantik
 
Dari rahimu kan lahir anak-anak salih-salihah
Di telapak kakimu tergelar surga
Karena selalu kau jaga langkahnya
 
Di hadapan ibu yang mulia
Terkaparlah anak-anak durhaka
Ialah mereka yang mengingkari dan mengkhianati
Tulus mendalam kasih sayangmu
 
Yang lalai dan lupa karena tipu daya dunia
Maka samudra ampunmu, Buda, kumohonkan sepenuh kalbu
Jika kami pernah bersalah, berdosa
Seringnya mengecewakan dan menyesakkan nafasmu
 
Adapun doa restumu, Bunda, panjatkan dan limpahkanlah
Untuk putra-putri yang mendambakanmu
Sebelum kami berangkat mengayun langkah
Membuka lahan-lahan kehidupan.

Tidak Akan Terganti

Oleh Nurhalimah Lubis

Ketika kupandang lekat terhadap sudut matamu
Tersimpan derita yang begitu mendalam
Aku sadar disana banyak tersimpan air mata untuk kita anakmu
 
Air mata yang telah kita lakukan
Ibu
Kamu selalu berharap kita anakmu yang kan menjadi nomer satu
Namun sering kali kita melawan dan melalaikan perintahmu
 
Kami selalu membuatmu bersedih
Mulai saat ini aku bertekad untuk menghapus air matamu…
 
dan menggantinya bersama dengan canda dan tawa
Terima kasih Ibu
Kau takkan pernah tergantikan di di dalam hati kita anakmu

Pantaskah Aku

Ku duduk berdiam diri
Wanita yang mulai renta ku pandangi
Wanita yang selama ini mengasihi
Serta merawatku sepenuh hati
 
Seorang wanita yang tak kenal mengeluh
Yang tak peduli dipelipisnya berjuta peluh
Yang bekerja keras tak kenal waktu
Hanya demi kesuksesanku
 
Tapi pantaskah aku ?
Masih dicintainya
Masih disayanginya
Masih menjadi kebanggaannya
 
Aku hanyalah anak tak tau diri
Yang hanya tidur dan pergi setiap hari
Yang membentaknya kala dinasihati
Yang manja dan mementingkan diri sendiri
 
Pantaskah aku, ibu ?
Mendapat kasih sayangmu
Mendapat cinta tulusmu
Memanggilmu seorang ibu
 
Aku marah,
Aku benci,
Pada diri sendiri
Mengapa baru ku sadari ?
Aku mengecewakannya
Aku beban hidupnya
Aku berdosa padanya
 
Pantaskah aku,
Mendapat surgamu ibu ?

Demikian puisi yang telah dirangkum dari berbagai sumber sebagai rekomendasi untuk kamu, semoga bermanfaat. (OL-1)

BERITA TERKAIT