03 December 2022, 08:21 WIB

Unika Atma Jaya Kukuhkan Dua Guru Besar Bidang Ekonomi dan Psikologi


Faustinus Nua |

Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya mengukuhkan dua guru besar bidang Ekonomi dan Psikologi. Keduanya, yakni Prof. Dr. Weli, S.Kom., M.Si. sebagai guru besar Ilmu Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan Prof. Dr. Clara R.P. Ajisuksmo, M.Sc, Psikolog guru besar Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi.

Pengukuhan dilakukan langsung oleh Rektor Unika Atma Jaya, Dr. A. Prasetyantoko di Auditorium Y15, Kampus I Semanggi, Unika Atma Jaya, Jumat (2/12/2022).

Rektor Unika Atma Jaya, A. Prasetyantoko mengapresiasi capaian keduanya sebagai profesor yang ke-23 dan ke-24 bagi Unika Atma Jaya. Pengukuhan dua guru besar baru tersebut tentu menambah energi bagi Unika Atma Jaya untuk semakin mengembangkan kualitas mutu akademik dalam situasi pasca pandemi dengan dua disiplin ilmu yang saling mendukung bahkan melengkapi dalam penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat.

“Peran lembaga pendidikan tinggi yang cukup penting adalah menghasilkan berbagai hasil penelitian dan kajian yang dapat memberikan manfaat bagi perbaikan standar kehidupan umat manusia. Penelitian dan kajian juga dilakukan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan produktif untuk menjamin pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan posisi tawar dan daya saing suatu bangsa,” kata Prasetyantoko dalam keterangannya, Sabtu (3/12).

Sementara itu, dalam orasi ilmiah, Prof. Weli, mengangkat tentang Kurikulum Sistem Informasi Akuntansi dalam Era Smart Society 5.0 untuk Akuntan Profesional berkelanjutan. Dalam penelitiannya di bidang ilmu ekonomi isu disrupsi profesi akuntan yang diprediksi akibat transformasi digital pada era revolusi industri 4.0, sebenarnya merupakan peluang yang besar bagi seluruh insan pendidikan akuntansi. "Kemajuan teknologi seharusnya membuat akuntan menjadi lebih mampu memenuhi keinginannya dalam bekerja," ucap Prof. Weli.

Selanjutnya, Prof. Clara dalam orasi ilmiahnya menekankan pada persoalan pendidikan untuk anak marjinal. Saat ini, tidak semua anak dapat tepenuhi haknya di bidang pendidikan, secara khusus dari keluarga yang tidak mampu. "Masih banyak anak usia sekolah yang tidak sekolah. Jumlah anak laki-laki yang tidak sekolah lebih banyak daripada anak perempuan. Hal ini karena anak laki-laki dari keluarga miskin seringkali sudah dilibatkan dalam kegiatan ekonomi untuk membantu menunjang kehidupan keluarga," jelasnya.

Pada anak perempuan alasan putus sekolah lebih banyak karena menikah. Juga kenyataan, bahwa penduduk yang bekerja didominasi oleh tamatan SD ke bawah.

Hal itu, kata Prof. Clara menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masih sangat rendah. Mutu sumber daya manusia Indonesia belum dapat memenuhi standar kemampuan yang menjawab kebutuhan pasar kerja. (OL-12)

BERITA TERKAIT