01 December 2022, 19:13 WIB

Kyai Mangrove Sururi Berupaya Jauhkan Rob, Dekatkan Rezeki


Retno Hemawati |

Tubuh kurus Sururi, 65, tidak sebanding dengan niat besarnya menumbuhkan mangrove di warga Mangunharjo, Mangkang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Niat awalnya adalah melindungi permukiman warga yang acap kali diterjang air rob dan mencegah abrasi. Dia berkisah, pada tahun 1990-2000, jarak antara bibir pantai dengan permukiman warga hanya tinggal 500 meter. Sejak saat itulah dia dibantu dengan warga, aktivis, dan mahasiwa mulai menanam mangrove dengan semangat yang besar. Lama berselang jarak bibir pantai dan permukiman warga kini menjadi 1,4 kilometer.

Air rob masih juga hadir, namun tidak membuat parah seperti sebelum banyak mangrove ditanam. Bagi anak-anak, air rob yang datang menjadi berkah untuk mereka berenang dan mencari ikan, hasil tambak ikan yang jebol. Tetapi bagi orang dewasa, rob membuat aktivitas mereka menjadi sulit. Meski demikian diakui warga setempat, rob yang datang kini hanya berdurasi pendek alias cepat surut.

Sururi awalnya adalah pekerja serabutan, termasuk buruh bangunan. Tetapi sejak 1995 dia sudah penuh waktu membudidayakan mangrove. Dia menjual mangrove dengan jenis Rhizhopora, Bruguiera, dan Xylocarpus berusia tiga bulan dengan harga Rp2 ribu per batang. Mangrove ini dijualnya ke berbagai daerah seperti Batang, Rembang, Jepara, Parangtritis, Probolinggo, hingga Ujung Pangkah Gresik, Jawa Timur. Harga menjadi lebih jika termasuk menanam, dia membanderol Rp5 ribu per batang, dan menjadi Rp6 ribu per batang untuk ongkos kirim.

Kegencarannya dalam hal membudidayakan mangrove membuatnya juga disebut kemudian Kyai Mangrove. "Bagi saya, menanam mangrove ini bagian dari ibadah, perintah agama, katanya saat dijumpai Media Indonesia, pekan lalu.

Banyak yang ingin berjumpa dengannya, namun jangan harap Anda bisa menemui di hari Jumat. "Itu hari saya untuk beribadah. Sejak saja giat di aktivitas mangrove ini, saya jarang bisa menghadiri majelis taklim, itulah mengapa saya kemudian mengkhususkan diri di Hari Jumat untuk beribadah penuh, maklum rumah saya kan di samping masjid," katanya.

Niat baik Sururi kemudian dilirik oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). "Djarum Foundation paling banyak membeli mangrove sejak 2008 melalui program Trees for Life dari BLDF. Setidaknya setahun mereka bisa membeli 50 ribu hingga 60 ribu batang mangrove per tahun. Itulah yang kemudian saya bisa menyekolahkan anak-anak," tambahnya.

Dia menambahkan dari sekian banyak mangrove yang ditanam, tingkat suksesnya tidak lebih dari 50 persen hingga mampu tumbuh besar.

F.X Supandji, Vice President Director Djarum Foundation membenarkan hal itu. "Bibit yang kami budidayakan termasuk mangrove ditanam di berbagai lokasi di Indonesia. Bibit-bibit tanaman ini diproses dan disemai di Pusat Pembibitan Tanaman di Kudus, yang hingga hari ini kami sudah mengoleksi 360 jenis bibit tanaman, termasuk diantaranya 22 jenis tanaman langka,” ujarnya.

Hal lain, istri Sururi, Nur, 60, yang tergabung dalam Kelompok Batik Wijaya Kusuma dan warga sekitar juga memanfaatkan limbah mangrove, untuk membuat pewarna alam. Pewarna alam ini diolah untuk menghasilkan warna cokelat untuk mewarnai batik. "Batik ini kemudian bisa dijual setidaknya Rp300 ribu per lembar dengan pengerjaan satu lembarnya mingguan hingga bulanan, bisa jadi tambahan pendapatan untuk membantu perekonomian keluarga."

Nur menambahkan, mangrove selain untuk mencegah abrasi dan pewarna alami, juga mampu dibuat sirup dan kerupuk. "Sebenarnya tidak ada yang terbuang dari mangrove, banyak sekali manfaatnya," tutupnya. (OL-12)

BERITA TERKAIT