29 November 2022, 15:00 WIB

Jualan di Tepi Sawah, Cara Pelaku Usaha Raup Cuan di Kota Rambutan


Dana Alfi Anjani, staf Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Binjai |

KITA bisa melihat sawah di mana saja. Tapi, apa sawah itu sudah cukup estetis untuk bertengger di media sosial?

Berkunjunglah ke Binjai, Sumatra Utara maka wisata yang akan kita nikmati adalah hamparan sawah dengan hiasan berbentuk hati dan aneka warna-warni kain yang terbentang indah ditiup angin.

Sebagai kota kecil yang hanya memiliki lima kecamatan, nyatanya Kota Binjai punya tantangan tersendiri menghidupkan roda ekonomi terutama pada sektor wisata. Hal ini tak lain karena Binjai tidak memiliki sumber daya alam yang layak dijadikan sebagai destinasi wisata.

Tak seperti tetangganya, Kabupaten Langkat, Deli Serdang, dan Kota Medan, Binjai tidak punya aliran sungai yang estetik, ataupun air terjun yang aduhai. Sungai yang akan dijumpai di Binjai adalah sungai dengan air keruh yang akan meluap kala curah hujan tinggi.

Tingginya keinginan masyarakat untuk berwisata dan healing tipis-tipis pada akhirnya menjadi salah satu alasan munculnya ragam tempat wisata baru. Meskipun temanya mirip-mirip bak pinang dibelah dua walau tak seluruhnya sama.

Jika beberapa waktu belakangan tren tempat nongkrong hanya seputaran coffee shop yang dibangun bak proyek mangkrak, kini para pemburu makanan haus healing punya satu kesukaan baru. Estetik dan instagramable.

If you don’t have one, create one.  Tak punya sumber daya alam bukan berarti tak bisa ciptakan pemandangan alam. Barangkali itu yang ada di kepala para pelaku usaha wisata dan kuliner yang ada di Kota Binjai.

Itulah yang kemudian membuat Kota Binjai tersohor, areal sawah yang disulap menjadi destinasi wisata cantik dan instagramable lengkap dengan ragam ornamen pendukung.

Binjai punya Sawah Lukis dan Kakuta, yang kemudian meningkatkan pamor kota ini sebagai kota wisata. Wisatawan lokal berbondong datang hanya untuk berfoto, di sawah.

Tak hanya dua destinasi tadi, berbagai tempat makan seperti coffee shop pun mulai menunjukkan tajinya dengan sebuah fusi yang unik. Yakni menggabungkan kedai kopi ala proyek mangkrak dengan pemandangan sawah.

Kombinasi kreatif ini memang selayaknya dipuji. Tak ada yang salah dengan melahirkan ide baru yang kemudian bisa bermanfaat bagi banyak orang. Siapa yang menyangka kita  bisa berjualan di tepi sawah menjadi konten, dan mendatangkan cuan.

Bukan sekadar jualan tepi sawah, para pelaku usaha juga menggabungkan faktor penting lainnya yaitu makanan yang nikmat. Sebut saja nasi goreng, mi Aceh, ifu mie Binjai, hingga penganan ringan dipromosikan sebagai makanan khas Binjai. Tidak hanya rambutan dan jambu madu, deretan menu makanan mulai didaulat sebagai makanan khas Binjai demi konsep cari untung dari wisata tadi.

Apakah berhasil? Tingginya kunjungan masyarakat pada destinasi wisata tersebut dan kontennya yang berseliweran di dunia maya sudah jadi bukti betapa konsep wisata alam buatan pun bisa digandrungi.

Makin banyak orang datang, makin dikenal pula spot tersebut. Maka makin tinggi pula pendapatan yang dicapai, yang kemudian juga masuk sebagai pendapatan asli daerah untuk pembangunan kota.

Suatu ritme yang kompleks bukan? Tentang bagaimana sebidang sawah yang dihiasi, pajaknya mampu menggaji pegawai negeri, membantu program dan bangunan baru berdiri.

Menjadi kreatif dan peka pada perkembangan pada akhirnya adalah kunci peningkatan ekonomi. Sebab sebagai bidang yang dinamis, berjualan tetap jadi hal utama untuk dapatkan keuntungan. Perbedaannya adalah pada apa yang dijual untuk capai untung. Binjai jelas tahu apa itu; sawah, dan segala tren yang menyertainya. (O-2)

BERITA TERKAIT