27 November 2022, 22:51 WIB

BNPB: Pencarian Korban Gempa Cianjur Berlanjut Sepekan


Dinda Shabrina |

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyatakan bahwa proses pencarian dan evakuasi korban gempa di Cianjur, Jawa Barat, masih berlanjut hingga satu minggu ke depan.

Proses tersebut sesuai dengan acuan tanggap darurat yang tertera dalam Surat Keterangan (SK), yakni 14 hari. Jika proses penanganan bencana telah mendekati 14 hari, tim BNPB dan tim penanganan bencana segera menyampaikan terkait ada atau tidaknya penambahan waktu.

“Masih ada 11 korban lagi yang belum ditemukan. Kita baru saja menemukan tiga jenazah. Sebelumnya, ada 14 korban yang belum ditemukan. Jadi total korban meninggal ada 321 orang,” jelas Suharyanto dalam konferensi pers, Minggu (27/11).

Baca juga: PMI Suplai 136 Ribu Liter Air untuk 6 Ribu Pengungsi Gempa Cianjur

Adapun waktu penanganan evakuasi dan pengungsian korban tidak cukup dalam 1-2 minggu. Mengingat, banyaknya infrakstruktur yang rusak. Sehingga, dibutuhkan waktu lebih lama agar semua dapat tertangani dengan baik.

“Rumah yang rusak berat saja sampai 27 ribu. Belum yang rusak ringan dan sedang. Kalau dari BMKG sudah bisa meyakinkan ke pengungsi, baru kita coba komunikasikan. Masalahnya, para pengungsi masih pada takut dan trauma," imbuhnya.

Subkoordinator Sub-Substansi Fasilitasi Tanggap Darurat Kementerian Kesehatan Rakhmad Ramadhanjaya mengungkapkan banyak pengungsi yang menderita berbagai penyakit di posko pengungsian.

“Memang ada 5 jenis penyakit yang muncul. Pertama, tentu ISPA, karena cuaca yang panas hujan. Lalu, kedua gastritis, ketiga hipertensi, keempat diare dan kelilma diabetes,” papar Rakhmad.

Baca juga: Masyarakat DIY Diminta Waspadai Ancaman Bencana Hidrometeorologi hingga Maret 2023

Pengungsi yang menderita ISPA mencapai 600 orang. “Trennya mengalami penurunan. Tapi ini tetap menjadi perhatian. Sebelumnya, terdapat 744 kasus," sambungnya.

Bupati Cianjur Herman Suherman menyebut hingga saat ini, korban gempa Cianjur sangat membutuhkan tenda kecil. Sebab, di sejumlah tenda komunal sudah muncul berbagai penyakit yang dikhawatirkan semakin menular.

"Sudah muncul penyakit ISPA, panas, hingga diare. Saya khawatir ini (penyakit) akan menyebar ke yang lain. Makanya kami berharap untuk warga yang rumahnya masih utuh, bisa kembali. Untuk yang rumahnya tidak utuh, kita siapkan tenda kecil," kata Suherman.(OL-11)


 

BERITA TERKAIT