27 November 2022, 22:15 WIB

Pakar: Atasi Penyakit Jantung dengan Preventif, bukan Kuratif


M Iqbal Al Machmudi |

PENCEGAHAN penyakit jantung harus dilakukan secara preventif, bukan kuratif. Langkah itu bisa dilakukan dengan memperkuat regulasi kesehatan yang membatasi penggunaan rokok dan konsumsi gula, garam, lemak (GGL).

"Yang harus dilakukan adalah mencegah sejak dini," kata Pengurus PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan PP Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dr Iqbal Mochtar, Minggu (27/11).

Ia menyebutkan, di berbagai negara terdapat program nasional penanggulangan obesitas untuk mengontrol tekanan darah, diet dan exercise warganya. Hal itu, sebut Iqbal, belum ada di Indonesia.

Pemerintah juga belum sepenuhnya membatasi konsumsi dan iklan rokok padahal itu menjadi faktor risiko utama penyakit jantung koroner. "Di satu sisi pemerintah biarkan rokok berkembang dan disisi lain mau mengobati. Akibatnya paradoks," ujarnya.

Demikian juga dengan konsumsi garam, gula, lemak (GGL) yang seharusnya diatur dengan benar-benar dari penjualan dan konsumsi masyarakat.

"Ini hulunya, ini yang mesti diprioritaskan. Pencegahan lebih penting dari pengobatan dan lebih efisien. Negara lain punya program nasional kok," katanya.

Berdasarkan Global Burden of Desease dan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2014-2019 penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Sementara data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018 menunjukkan tren peningkatan penyakit jantung yakni 0,5% pada 2013 menjadi 1,5% pada 2018.

Bahkan penyakit jantung menjadi beban biaya terbesar. Berdasarkan data BPJS Kesehatan pada 2021 pembiayaan kesehatan terbesar ada pada penyakit jantung sekitar Rp7,7 triliun.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan sejauh ini, Kemenkes sudah menyosialisasi dan mendorong masyarakat untuk banyak beraktivitas fisik. Hal itu sebagai upaya pencegahan penyakit jantung dan penyakit tidak menular (PTM) lainnya.

"Ini peningkatan skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) pada kolesterol, diabetes, dan lainnya. Kemudian mendorong aktivitas fisik masyarakat," ujarnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, edukasi di layanan primer terus dilakukan melalui kampanye, antara lain kampanye imunisasi, gizi seimbang, olah raga, anti rokok, sanitasi dan kebersihan lingkungan, skrining penyakit, dan kepatuhan pengobatan.

Selain pencegahan, intervensi lain untuk pengobatan jantung adalah operasi pasang ring. Menkes Budi meminta agar operasi jantung pasang ring bisa dilakukan di 514 kabupaten/kota untuk mengatasi kasus penyakit jantung yang terus meningkat.

"Saya minta 514 kabupaten/kota bisa operasi pasang ring. Semua provinsi harus bisa operasi gagal jantung terbuka dan bedah otak terbuka," ujar Budi.

Butuh anggaran Rp31 triliun sampai 2027 untuk menjadikan 514 kabupaten/kota bisa melakukan operasi jantung. Untuk tahap 1 Kemenkes menyediakan anggaran Rp17,9 triliun dan Rp13,1 triliun di tahap 2. Ini sungguh dana yang besar.

Di sisi lain, patut dipertanyakan efektivitas kebijakan pencegahan yang dilakukan Kemenkes melalui kampanye-kampanyenya. Sebab, faktanya jumlah penyakit jantung terus meningkat. (H-2)

BERITA TERKAIT