25 November 2022, 15:09 WIB

HaloPuan dan IMM Gelar Edukasi Stunting untuk Kalangan Mahasiswa


mediaindonesia.com |

LEMBAGA sosial Ketua DPR RI Puan Maharani, HaloPuan, dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Barat memulai kerja sama dalam edukasi stunting di kalangan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Bandung, Kota Bandung,  Kamis (24/11).

Edukasi ini dikemas ke dalam bentuk workshop tentang bagaimana menjaga asupan gizi seimbang di kalangan anak muda dan mengolah daun kelor menjadi asupan tambahan yang enak dimakan.

Kegiatan bertajuk “Workshop Mahasiswa Peduli Stunting: Mengolah Daun Kelor Menjadi Asupan Super” ini diikuti oleh 150 mahasiswa dari berbagai tingkatan dan jurusan. Rektor Universitas Muhammadiyah, Herry Suhardiyanto, hadir sekaligus membuka kegiatan.

Herry mengatakan, stunting merupakan persoalan penting di Indonesia dan dipicu oleh banyak faktor.

Berbagai upaya perlu dilakukan, termasuk di antaranya menyadarkan berbagai pihak mengenai pentingnya langkah-langkah pencegahan yang terarah untuk mengatasi stunting.

“Terima kasih kepada HaloPuan yang telah concern mengenai hal ini, dan kepada mahasiswa saya harapkan dapat ambil bagian dalam upaya bergerak bersama warga untuk menyadarkan pentingnya gizi agar tidak terjadi lost generation,” papar Herry dalam keterangan pers, Jumat (25/11).

Herry juga mengatakan Universitas Muhammadiyah Bandung sudah mulai melakukan riset mengenai kelor. Dia pun berharap gagasan HaloPuan perihal kelor sebagai asupan dalam mengatasi stunting bisa makin menarik perhatian kepada tanaman yang banyak tumbuh di Nusantara ini.

Baca juga: Kolaborasi Tuntaskan Persoalan Gizi di Indonesia

Sementara itu, dosen bioteknologi Universitas Muhammadiyah Bandung, Luthfiah Hastiani Muharram, yang tampil sebagai narasumber menjelaskan persoalan malnutrisi di usia remaja, termasuk kekurangan energi kronik, anemia, dan obesitas.

Dia memerinci beberapa faktor penyebabnya, antara lain kebiasaan tidak sarapan, kebiasaan kurang mengonsumsi sayuran, serta kebiasaan mengonsumsi makanan berpemanis dan berpenyedap rasa.

Semua itu bersumber pada pola makan yang keliru. Luthfiah karenanya mengingatkan mahasiswa tentang pentingnya memperhatikan asupan dengan mengutip sebuah ayat dalam Al-Quran Surah ‘Abasa, Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.

Tim HaloPuan menjelaskan mengapa mereka menjadikan kelor sebagai asupan alternatif dalam mengatasi stunting.

Tim HaloPuan mengatakan sekitar 32% remaja di Indonesia mengalami anemia, atau kondisi kekurangan sel darah merah yang sehat. Ini salah satu faktor awal terjadinya kasus stunting.

Sementara itu, daun kelor memiliki kandungan mikronutrisi yang sangat kaya, terutama zat besi. Zat besi bisa membantu tubuh membentuk sel-sel darah merah. Alhasil, mengonsumsi daun kelor secara rutin bisa mencegah kondisi anemia.

Tim HaloPuan kemudian memeragakan bagaimana mengolah daun kelor menjadi bubuk, agar bisa diolah menjadi berbagai menu makanan yang bisa dinikmati.

Setelah dipisahkan dari ranting dan dahannya, daun kelor dicuci bersih dan dijemur dalam suhu ruangan hingga tiga sampai lima hari. Daun yang sudah kering kemudian digiling dengan grinder atau blender.

Kegiatan pertama bagi HaloPuan dan IMM Jawa Barat ini juga dimeriahkan oleh penampilan tari tradisional dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung. HaloPuan dan IMM Jawa Barat juga mengadakan lomba membuat video dan poster kampanye anti-stunting yang diikuti sejumlah mahasiswa.

Koordinator HaloPuan, Poppy Astari, menjelaskan bahwa persoalan stunting sudah menjadi perhatian Puan Maharani sejak Ketua DPR RI itu menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

HaloPuan yang merupakan bentuk pehatian itu telah berkeliling ke 19 kota dan kabupaten di Jawa dalam menyosialisasikan pencegahan stunting dengan daun kelor kepada kaum ibu.

HaloPuan kali ini mencoba membawa gagasan tersebut ke kalangan mahasiswa. Ini karena mahasiswa merupakan warga masyarakat yang berada di usia produktif, dan calon orang tua di masa depan.

“Ini baru kali pertama HaloPuan hadir di tengah mahasiswa bekerja sama dengan IMM Jawa Barat,” kata Poppy.

Ketua Umum DPD IMM Jawa Barat, Faisal Amien Prawira, mengatakan IMM Jawa Barat dan HaloPuan memiliki kepedulian yang sama, yakni bagaimana ikut berperan dalam mencegah stunting di Jawa Barat.

Ini terutama dimulai dari kesadaran mahasiswa sendiri untuk mempersiapkan diri dalam membangun keluarga nanti. Ini juga karena prevalensi stunting di Jawa Barat mencapai lebih daripada 24,5% atau di atas angka rata-rata nasional 24,4%.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Puan Maharani karena ini sangat membantu kami, dan berharap workshop ini bisa menjadi agenda besar dalam menjawab tantangan masa depan,” kata Faisal.

Muhammad Nur Muhajir, mahasiswa Fakultas Agama Islam, mengatakan workshop ini memberi referensi bagi mahasiswa untuk terjun ke tengah masyarakat dalam menyosialisasikan pengetahuan soal stunting.

“Apalagi di tempat saya banyak pernikahan di usia dini, dan kondisi ini, seperti tadi telah disampaikan, bisa menyebabkan terjadinya stunting,” katanya.

Halimah Nurlatifah, mahasiswa Fakultas Ekonomi, menambahkan bahwa workshop ini memberi mahasiswa pengetahuan tentang bagaimana cara memanfaatkan daun kelor.

“Ternyata bubuk kelor adalah salah satu solusi dalam mencegah stunting,” ujanya.

Workshop diakhiri dengan pemberian bibit kelor dari HaloPuan kepada Ketua Umum DPD IMM Jawa Barat, Faisal Amien Prawira, dan dosen bioteknologi Universitas Muhammadiyah Bandung, Luthfiah Hastiani Muharram. Setiap peserta mahasiswa juga menerima bingkisan berupa satu bungkus bubuk kelor seberat 200 gram.(RO/OL-09)


 

BERITA TERKAIT