25 November 2022, 07:18 WIB

Selain Kecanduan, Vape Tingkatkan Risiko Penyakit Paru-Paru dan Jantung


mediaindonesia.com |

HEALTH Talk yang bertajuk 'Rokok Berbahaya Bagi Jantung Bagaimana dengan Vape?" dengan menghadirkan pembicara dr. Andrew E.P Sunardi,Sp.JP, yang dihelat Siloam Hospitals Bogor, Jawa Barat, Rabu (23/11).

"Rokok yang mengandung bahan beracun menjadi penyebab meningkatnya masalah paru-paru dan juga kondisi kardiovaskuler yang menyebabkan stroke hingga penyakit jantung. Bahkan paparan asap rokok saja meningkatkan risiko sakit jantung," jelas dr.Andrew.

Menurut badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 1,9 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat penyakit jantung yang dipicu tembakau.

Di tengah pengguna rokok yang semakin meningkat, kini hadir vape atau rokok elektrik yang dipromosikan sebagai alat yang dapat membantu orang berhenti merokok.

Namun, menurut sejumlah penelitian, pada dasarnya asap adalah musuh besar bagi jantung. Bukan hanya pada asap rokok, asap polusi dari pembakaran apapun dapat memicu risiko serangan jantung.

Baca juga: Mengelola Aktivitas Harian Ternyata Bisa Turunkan Risiko Penyakit Jantung

“Data menunjukan kematian karena keluhan atau permasalahan jantung sebesar 30% yang disebabkan oleh rokok. Pengguna Vape juga tidak lebih dari itu, karena tetap mengandung nikotin,” jawab dr. Andrew

Bahaya vape bagi kesehatan tubuh, menurut dr.Andrew, adalah kecanduan, mengganggu perkembangan otak bagi remaja, meningkatkan risiko penyakit paru-paru, menimbulkan risiko penyakit kardiovaskular, dan menyebabkan keracunan nikotin.

Vape menggunakan cairan yang menjadi bahan bakar yang digunakan untuk proses pembakaran. Asap yang dikeluarkan akan memiliki aroma yang beragam seperti buah-buahan.

Karena itulah, sejak 2016 Badan pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menggolongkan rokok elektrik sebagai produk tembakau dan mengaturnya sesuai undang-undang pertembakauan.

Pada awal kehadirannya, vape dianggap sebagai alternatif produk tembakau yang lebih sehat. Namun, selama 10 tahun riset menemukan bahwa fakta yang ada tidak selaras dengan klaim tersebut.

Dalam penelitian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) diketahui dampak merokok Vape sama berbahayanya dengan rokok konvensional.

“Jelas dan benar penggunaan vape dapat memicu serangan jantung, dan bahaya kandungan Pm 2.5 bagi kesehatan tubuh maupun lingkungan," ujarnya.

"Kandungan ini menghasilkan kandungan partikel halus layaknya asap knalpot dan sejenis lainnya yang berbahaya bagi jantung dan paru paru,” kata dr. Andrew.

Pada rokok tradisional, aliran darah meningkat sedikit setelah menghisap rokok dan kemudian menurun setelah asap dilepaskan. Namun, aliran darah menurun baik saat mengisap maupun melepaskan asap pada perokok elektronik.

 Akibatnya, kadar oksigen dalam darah berkurang dan laju aliran di pembuluh darah turun yang dapat mempengaruhi fungsi jantung, yang membutuhkan asupan darah dan oksigen yang memadai.

“Apapun bentuk rokoknya, risikonya akan sama dan akan menurunkan kualitas kesehatan pada tubuh," katanya.

Oleh karena itu, dr.Andrew menyarankan unuk melakukan sejumlah pencegahan dengan berhenti merokok, mulai hidup sehat dengan pola yang teratur, mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan rendah gula.

"Segera lakukan pemeriksaan pada faskes terdekat, jika dianggap terdapat gangguan abnormal,” ucap dr Andrew E.P Sunardi Sp.JP yang berpraktik di Siloam Hospitals Bogor dan untuk mengetahui jadwal praktik bisa men-download Aplikasi My Siloam. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT