18 November 2022, 09:00 WIB

Mengenal Budaya Patriarki dan Dampaknya pada Perempuan 


Meilani Teniwut |

BUDAYA patriarki dianggap tidak hanya soal menjadi pemimpin atau tokoh adat lainnya, tapi lebih dalam dari itu. Patriarki sendiri memberikan dampak kekerasan terhadap perempuan akibat posisi sosial kaum laki-laki yang lebih tinggi daripada kaum perempuan. Sehingga masyarakat cenderung menganggap wajar adanya perilaku pelecehan terhadap perempuan dalam bentuk sekecil apapun.

Melansir Asian Development Bank, terdapat beberapa penyebab kesenjangan gender di dunia kerja. Di antaranya adalah stigma bahwa perempuan lebih tidak produktif. 

Perempuan sering kali menerima upah lebih rendah dibandingkan dengan pekerja laki-laki meskipun waktu dan beban kerjanya sama. Selain itu, banyak perempuan mengalami diskriminasi termasuk dalam urusan pemilihan profesi.

Baca juga: LBH APIK: Patriarki & Sistem Hukum Membuat Kekerasan Seksual Marak

Dalam bahasa Jawa, cukup akrab di telinga kita bahwa tugas perempuan hanyalah macak, manak, dan masak. Persepsi itu merupakan persepsi kolektif masyarakat yang membuat perempuan dilihat hanya sebagai objek dan menempatkan laki-laki pada posisi istimewa.

Namun, apa sih sebenarnya patriarki itu? Bagaimana patriarki muncul pertama kali? Berikut penjelasannya.

Pengertian patriarki 

Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. 

Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak, dan harta benda. 

Beberapa masyarakat patriarkal juga patrilineal, yang berarti bahwa properti dan gelar diwariskan kepada keturunan laki-laki. 

Secara tersirat sistem ini melembagakan pemerintahan dan hak istimewa laki-laki serta menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki. 

Istilah patriarki, berasal dari kata patriarkat yang artinya adalah struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral dan bahkan segala-galanya.

Sistem patriarki membuat laki-laki memiliki hak istimewa terhadap perempuan. Dominasi para laki-laki tidak hanya mencakup ranah personal saja, akan tetapi juga dalam ranah yang lebih luas lagi, seperti pendidikan, ekonomi, partisipasi politik, sosial, hukum dan lain-lain.

Dalam ranah personal, budaya patriarki merupakan penyebab, bahkan akar dari munculnya berbagai macam kekerasan yang terjadi, tidak hanya pada perempuan saja akan tetapi juga pada laki-laki. Karena label hak istimewa yang dimiliki oleh laki-laki, banyak dari mereka yang merasa memiliki hak untuk mengeksploitasi tubuh perempuan.

Secara historis, budaya patriarki telah terwujud dalam organisasi sosial, agama, politik dan bahkan ekonomi dari berbagai budaya yang berbeda. Bahkan meskipun tidak secara jelas tertuang dalam konstitusi maupun hukum negara, akan tetapi sebagian besar masyarakat kontemporer pada praktiknya bersifat patriarkal.

Dampak patriarki pada perempuan

Hadirnya budaya patriarki di masyarakat dapat menyebabkan ketimpangan gender yang menurut Siswanto, hal tersebut dapat melahirkan subordinasi, marginalisasi, kekerasan, stereotip dan beban ganda. 

1. Marginalisasi

Marginalisasi merupakan suatu proses peminggiran yang diakibatkan oleh perbedaan jenis kelamin yang dapat mengakibatkan kemiskinan. Ada beragam cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan seseorang maupun kelompok, salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender.

2. Subordinasi

Subordinasi merupakan suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis gender lebih rendah dari gender yang lain. Nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memilah sekaligus memisahkan peran gender perempuan dan laki-laki. 

Perempuan dianggap memiliki tanggung jawab serta memiliki peran dalam urusan domestik serta reproduksi, sedangkan laki-laki memiliki peran dalam urusan produksi serta urusan publik.

3. Stereotip

Penandaan, pelabelan atau stereotip sering kali memiliki sifat negatif secara umum dan akhirnya melahirkan ketidakadilan dalam masyarakat. Stereotip sering kali digunakan sebagai salah satu alasan untuk membenarkan suatu tindakan yang dilakukan oleh satu kelompok atas kelompok lainnya.

4. Kekerasan (violence)

Kekerasan artinya adalah tindak kekerasan, baik itu tindakan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu gender atau sebuah institusi keluarga, masyarakat maupun negara terhadap gender lainnya.

5. Beban ganda

Beban ganda artinya, beban pekerjaan yang diterima oleh salah satu gender lebih banyak, apabila dibandingkan dengan gender yang lainnya.

Karena dampak-dampak buruk yang disebabkan oleh budaya patriarki, maka banyak masyarakat khususnya penganut feminis yang menuntut kesetaraan gender. 

Kesetaraan gender dapat diartikan sebagai suatu keadaan antara laki-laki dan perempuan dalam hak atau hukum dan kondisi atau kualitas hidup.

Keadilan gender dapat tercerminkan dalam keadaan saat perempuan serta laki-laki memiliki hak, status dan wewenang yang sama di muka hukum, memiliki peluang serta kesempatan yang sama serta adil dalam menikmati hasil pembangunan.

Contoh budaya patriarki

Budaya patriarki tidak hanya terjadi di negara-negara Barat saja, akan tetapi juga terjadi di Indonesia. Agar lebih jelas memahami budaya patriarki, berikut beberapa contoh dari budaya patriarki.

1. Dalam ranah rumah tangga

Perempuan selalu dituntut untuk dapat melakukan berbagai macam pekerjaan rumah yang masuk dalam pekerjaan domestik, mulai dari bersih-bersih hingga menyediakan makanan. 

Apabila seorang perempuan tidak mampu melakukan tuntutan tersebut, maka ia bisa dikucilkan oleh orang-orang sekitar. 

Akan tetapi, hal ini berbeda dengan laki-laki, dalam budaya patriarki, laki-laki tidak dituntut untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Sehingga, ketika laki-laki melakukannya, mereka cenderung akan mendapatkan pujian seakan-akan melakukan hal yang luar biasa.

2. Dalam ranah pekerjaan

Seorang perempuan tidak boleh bekerja dengan pekerjaan laki-laki, seperti menjadi pilot, arsitek yang saat ini profesi-prose tersebut didominasi oleh laki-laki. Sehingga, terkadang masih banyak yang meragukan kemampuan perempuan ketika menjadi pilot atau pekerjaan lain yang didominasi oleh laki-laki.

3. Dalam ranah politik

Perempuan masih ditempatkan sebagai bayang-bayang laki-laki dalam ranah politik. Masyarakat yang patriarkal sejak awal, menganggap bahwa laki-laki lebih kuat dibandingkan perempuan, baik itu dalam keluarga, masyarakat, kehidupan pribadi maupun bernegara.

Budaya patriarki serta nilai sosial terutama di Indonesia, menuntut perempuan untuk tidak ikut berpartisipasi dalam ranah politik maupun pemerintahan. 

Sistem dan arah kebijakan pemerintah terhadap isu-isu perempuan dinilai semakin responsif gender. Akan tetapi, posisi perempuan tetap rentan pada berbagai bentuk manipulasi politik dan sering kali dipakai sebagai alat legitimasi.

4. Dalam ranah kehidupan pribadi

Perempuan terus didorong untuk memperhatikan penampilannya secara detail, mulai dari kulit, bentuk badan, baju yang dikenakan dan lainnya. 

Perempuan juga harus mengikuti hal-hal yang disepakati oleh masyarakat, seperti perempuan harus memakai baju tertutup, tidak boleh keluar rumah hingga larut malam dan lainnya dengan alasan untuk melindungi perempuan.

Akan tetapi, masyarakat patriarkal justru mengesampingkan hal yang lebih penting yaitu pendidikan terhadap perempuan. 

Masih banyak kelompok di Indonesia yang percaya, bahwa pendidikan tinggi hanya cukup diberikan pada laki-laki saja dan tidak pada perempuan. Karena perempuan cukup tinggal di rumah, melakukan pekerjaan domestik dan memiliki penampilan yang baik saja. (OL-1)

BERITA TERKAIT