05 November 2022, 15:49 WIB

Risalah Islam Berkemajuan dari Muhammadiyah untuk Indonesia


Widjajadi |

KETUA Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan, risalah Islam berkemajuan bukan hanya menjadi buah pikiran, tetapi harus menjadi wujud nyata langkah Muhammadiyah bagi bangsa Indonesia.

Menurut dia, risalah Islam berkemajuan yang akan dibahas dan dirumuskan lewat Muktamar ke-48 di Solo akan merupakan pandangan persyarikatan dan menjadi pokok pikiran Muhammadiyah.

"Risalah Islam Berkemajuan dapat kita laksanakan dan menjadi alam pikiran seluruh warga dan pimpinan Muhammadiyah. Sekaligus menjadi fungsi terbaik bagi Muhammadiyah dan masyarakat luas di mana Islam berkemajuan tidak hanya menjadi buah pikiran tetapi menjadi orientasi berpikir," ungkap Haedar dalam persidangan pleno I Muktamar ke-48 di kompleks kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sabtu ( 5/11).

Dia tegaskan, mewujudkan berbagai langkah nyata Muhammadiyah bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta sebagai perspektif Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin.

"Tentang program dan apa yang kita lakukan lima tahun mendatang, adalah proyeksi apa yang sudah dilakukan pada periode sebelumnya, dan akan menjadi kesatuan program jangka panjang Muhammadiyah," imbuh Haedar.

Dia menegaskan, langkah ke depan sebagai milik bersama harus dikembangkan secara masif setelah Muktamar, dan berlanjut hingga Musyawarah Wilayah,Daerah, Cabang, dan Musyawarah Ranting.

Pada saat sama, Haedar juga mengungkapkan, Aisyiyah juga mempersiapkan risalah perempuan berkemajuan yang merupakan perspektif pandangan 'Aisyiyah berbasis Islam tentang posisi dan peran perempuan di ranah perempuan.

Dia ingatkan, risalah perempuan berkemajuan akan menjadi rujukan umum perempuan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh perempuan dengan spirit Islam yang melahirkan perempuan berkemajuan yang menebar rahmat bagi semesta.

Semenyara terkait berbagai isu yang menjadi bahasan di Muktamar 48, seperti isu strategis keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal, diharapkan menjadi formulasi cara pandang Muhammadiyah dan Aisyiyah atas problem krusial.

"Problem itu bukan semata-mata dijadikan isu tetapi juga kita berikan solusi yang bisa kita tawarkan, tidak saja menjadi wacana tetapi juga terlibat menyelesaikan masalah itu dan mengajak semua pihak menyelesaikannya." tukas Haedar.

Bahkan Haedar mengharapkan pembahasan isu isu lewat muktamar ke-48, bisa menjadi solusi bagi kehidupan dimana gerak amal usaha dan gerak dakwah bil hal dan gerak pemikiran menjadi fondasi dan penyelesaiaan masalah.

"Insya Allah Muktamar Muhammadiyah 'Aisyiyah memberi solusi dan terlibat aktif menyelesaikan masalah yang tentu kita tidak bisa sendirian. Tetapi perlu dukungan berbagai pihak yang dengan kesadaran kolektif karena masalah yang dihadapi adalah masalah kita bersama." ujar dia.

Ketum PP Muhammadiyah pada akhirnya menyampaikan agar persidangan dan muktamar dapat menjadi pengikat untuk merekat ukhuwah di persyarikatan.

"Sekaligus melangkah bersama dengan kebersamaan sebagaimana refrain Mars Muktamar 48 Derap Berkemajuan, di Solo jalin ukhuwah, Muktamar satukan langkah, bersama cerahkan semesta." pungkas Haedar. (OL-13)

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKAIT