01 November 2022, 17:11 WIB

Kisah Perjuangan Kapitan Pattimura dan Hal Positif yang Bisa Dicontoh


Meilani Teniwut |

APAKAH pernah kamu mendengar nama Pattimura? Pattimura merupakan nama salah satu pahlawan nasional yang kemudian diabadikan menjadi nama universitas, bandar udara, bahkan diabadikan menjadi gambar dalam uang pecahan Rp1.000 yang pernah diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Lantas, siapakah sebenarnya Pattimura dan apa peran Pattimura dalam sejarah Indonesia? Hal positif apa saja yang bisa dicontoh? Baca terus ya artikel ini. 

Profil Kapitan Pattimura

Kapitan Pattimura atau Patimura ialah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Haria, Saparua, Maluku. Terlahir pada 8 Juni 1783 di Saparua dengan nama asli Thomas Matulessy atau Thomas Matulessia. 

Orangtuanya ialah Frans Matulessia dan Fransina Tilahoi. Dia memiliki seorang adik laki-laki bernama Yohanis. Menurut I.O. Nanulaitta, dikutip dari Historia.id, keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan. 

Pada 1810, Kepulauan Maluku diambil alih dari penjajahan Belanda oleh Inggris. Mattulessi menerima pelatihan militer dari tentara mereka dan mencapai pangkat sersan mayor. Setelah penandatanganan Perjanjian Anglo Belanda pada 13 Agustus 1814, pada 1816 kepulauan Maluku dikembalikan kepada Belanda. Pattimura menghadiri upacara tersebut. Setelah itu, dengan melanggar perjanjian, dia dan rekan-rekan prajuritnya dipulangkan ke kampung halaman mereka. 

Namun, Pattimura menolak untuk menerima pemulihan kekuasaan Belanda. Ia merasa bahwa mereka akan berhenti membayar guru-guru agama Kristen pribumi, seperti yang telah mereka lakukan pada 1810. Ia khawatir bahwa usulan peralihan ke mata uang kertas akan membuat orang Maluku tidak dapat memberi derma karena hanya koin yang dianggap sah. Dengan demikian, gereja tidak dapat membantu orang miskin.

Perjuangan yang dilakukan oleh Pattimura 

Pattimura dengan perjuangannya yaitu melawan penjajahan Belanda yang masuk ke tanah Maluku untuk menguasai perdagangan rempah-rempah. Salah satu pertempuran terbesar yang dipimpinnya ketika rakyat Maluku bersatu untuk merebut Benteng Duurstede dari tangan penjajah Belanda. Pattimura wafat pada 16 Desember 1817 di umur 34 tahun karena tertangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan.

Dalam perlawanannya melawan penjajahan Belanda, Pattimura dikenal cerdik dan mampu menghimpun kekuatan besar rakyat Maluku sehingga mempersulit pergerakan Belanda di Maluku. Bahkan, namanya pun disegani oleh para pemimpin VOC kala itu yang harus memutar otak untuk menghadapi perlawanan rakyat Maluku. 

Tidak heran Pattimura sangat piawai dalam pertempuran dan menghimpun pasukan. Menurut sejarah, ia pernah menjadi tentara berpangkat Sersan dalam kekuatan militer Inggris di tanah Ambon.

Selama 200 tahun rakyat Maluku mengalami perpecahan dan kemiskinan. Rakyat Maluku memproduksi cengkih dan pala untuk pasar dunia, tetapi mayoritas masyarakat tidak ada keuntungan dari sisi ekonomi yang dirasakan. Alih-alih mendapatkan keuntungan, rakyat Maluku justru semakin menderita dengan berbagai kebijakan seperti pajak yang berat berupa penyerahan wajib (Verplichte leverantien) dan contingenten serta blokade ekonomi yang mengisolasi rakyat Maluku dari pedagang-pedagang Indonesia lain. 

Pada fase kedua pendudukan Inggris di Maluku dalam 1810-1817 harus berakhir pada 25 Maret 1817 setelah Belanda kembali menguasai wilayah Maluku. Rakyat Maluku menolak tegas kedatangan Belanda dengan membuat Proklamasi Haria dan Keberatan Hatawano. Proklamasi Haria disusun oleh Pattimura.

Ketika pemerintah Belanda mulai memaksanakan kekuasaannya melalui Gubernur Van Middelkoop clan Residen Saparua Johannes Rudolf van der Berg, pecahlah perlawanan bersenjata rakyat Maluku. Diadakan musyawarah dan konsolidasi kekuatan. Pada forum-forum tersebut menyetujui Pattimura sebagai kapten besar yang memimpin perjuangan. Pada 7 Mei 1817 dalam rapat umum di Baileu negeri Haria, Thomas Matulessy dikukuhkan dalam upacara adat sebagai Kapitan Besar.

Setelah dilantik sebagai kapten, Pattimura memilih beberapa pembantunya yang juga berjiwa kesatria, yaitu Anthoni Rhebok, Philips Latimahina, Lucas Selano, Arong Lisapafy, Melchior Kesaulya dan Sarassa Sanaki, Martha Christina Tiahahu, dan Paulus Tiahahu. Pattimura bersama Philips Latumahina dan Lucas Selano melakukan penyerbuan ke benteng Duurstede. 

Berita tentang jatuhnya benteng Duurstede ke tangan pasukan Pattimura dan pemusnahan orang-orang Belanda, menggoncangkan dan membingungkan pemerintah Belanda di kota Ambon. Gubernur Van Middelkoop dan komisaris Engelhard memutuskan militer yang besar ke Saparua di bawah pimpinan mayor Beetjes. Ekspedisi tersebut kemudian disebut dengan ekspedisi Beetjes.

Mengetahui hal tersebut, dengan segera Kapitan Pattimura mengatur taktik dan strategi pertempuran. Pasukan rakyat sekitar 1.000 orang diatur dalam pertahanan sepanjang pesisir mulai dari teluk Haria sampai ke teluk Saparua. Pattimura bersama pasukannya berhasil mengalahkan Beetjes dan tentaranya. 

Pada 20 Mei 1817 diadakan rapat raksasa di Haria untuk mengadakan pernyataan kebulatan tekad melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Peringatan kebulatan tekad ini dikenal dengan nama Proklamasi Portho Haria yang berisi 14 pasal pernyataan dan ditandatangani oleh 21 Raja Patih dari pulau Saparua dan Nusalaut. Proklamasi ini membangkitkan semangat juang yang mendorong tumbuhnya front-front pertempuran di berbagai tempat bahkan sampai ke Maluku Utara.

Pada 4 Juli 1817, suatu armada kuat dipimpin Overste de Groot menuju Saparua dengan tugas menjalankan vandalisme. Seluruh negeri di jazirah Hatawano dibumihanguskan. Siasat berunding, serang mendadak, aksi vandalisme, dan adu domba dijalankan silih berganti. Belanda juga melancarkan politik pengkhianatan terhadap Pattimura dan para pembantunya. 

Pada 11 November 1817 dengan didampingi beberapa orang pengkhianat, Letnan Pietersen berhasil menyergap Pattimura dan Philips Latumahina. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada 16 Desember 1817 di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Hal-hal positif yang bisa dicontoh dari Pattimura

Lewat perjuangan dan kegigihannya, ini memberikan banyak hal postif. Berikut hal-hal postif yang bisa menginspirasikan kamu. 

1. Giat mencari ilmu.

Mus Huliselan dalam jurnal Perang Pattimura untuk Maluku dan Indonesia (2017), Kapitan Pattimura sejak usia 13 tahun telah terlibat dalam berbagai diskusi dengan orang dewasa tentang penjajahan Belanda terhadap rakyat Maluku.

Dalam umurnya yang masih sangat dini, ia senang belajar dengan cara mengikuti diskusi. Padahal diskusi tersebut tidak lazim dihadiri oleh anak-anak seusianya. Dari situlah jiwa cinta tanah air dan anti kolonial lahir dalam diri Kapitan Pattimura.

Semasa bergabung dengan Korps 500 juga, Pattimura senang mencari ilmu. Ia berkembang menjadi seorang penembak jitu. Karena kegemarannya belajar membuatnya memiliki kecakapan dan kemampuan melebihi teman-teman seangkatannya, hingga ia dengan cepat diangkat sebagai mayor.

2. Berani. 

Kapitan Pattimura memiliki sikap berani membela kebenaran yang patut untuk dicontoh. Ia berani melawan kolonialisme dan imperialisme penjajah yang menyengsarakan rakyat dengan nyawa sebagai taruhannya. 

Pattimura turun langsung ke medan perang. Ia juga pintar dalam menyusun taktik dalam mengusir penjajah dari tanah Maluku.

3. Memiliki jiwa kepemimpinan. 

Kapitan Pattimura juga memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Menurut John A. Pattikayhatu dan kawan-kawan dalam buku Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Maluku (1981), Pattimura merupakan seorang yang berani, berwatak keras, dan tindakannya sering juga keras terhadap anak buahnya.

Kecakapannya militernya, kemampuan memimpin, sikap gagah berani, tegas, dan mementingkan kepentingan umum membuatnya sangat disegani. Jiwa kepemimpinan tersebutlah yang membuat Pattimura sanggup memimpin rakyat. 

Jiwa kepemimpinan Pattimura juga perjuangannya tidak hanya menyentuh rakyat, melainkan juga raja-raja di Indonesia. Dari mulai di Maluku, Jawa, hingga ke Bali, mendukung perjuangan Pattimura dalam menghadapi Belanda.

4. Teguh dalam pendirian.

Teguh dalam pendirian ialah hal positif yang bisa dicontoh dari Kapitan Pattimura. Ia telah dibujuk berkali-kali oleh Belanda menggunakan cara halus, tetapi tidak menghentikan perjuangannya. Bahkan dengan cara kekerasan pun, Belanda tidak bisa menggoyahkan pendiriannya dan kecintaannya terhadap tanah airnya.

Salmon H. Maelissa dalam tesis Perlawanan Pasukan Pattimura di Saparua 1892 (1999), Kapittan Pattimura telah minum sumpah (angkat janji setia melalui tetesan darah yang diminum bersama) untuk berjuang mengusir penjajah dari wilayahnya. Janji tersebut diucapkan Thomas Matulessy di Gunung Saniri, saat ia diberikan tanggung jawab memimpin pasukan perang dan diberi gelar Kapitan Pattimura.

Diketahui bahwa akhir perjuangan Pattimura karena politik adu domba yang dilakukan oleh Belanda. Adu domba membuat pasukan Pattimura tercerai-berai, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya.

Setelah tertangkap oleh Belandapun, Kapitan Pattimura tetap teguh hingga akhirnya ia digantung di benteng victoria. Mayatnya bahkan dijadikan tontonan dan contoh yang akan terjadi jika rakyat melawan Belanda. Namun, hal tersebut bukan membuat gentar. Semangat dan keteguhan Kapitan Pattimura justru membangkitkan jiwa nasionalisme rakyat Indonesia.

5. Rela berkorban. 

Hal positif selanjutnya yang bisa dicontoh dari Kapitan Pattimura adalah sikapnya yang rela berkorban. Perjuangan menlawan kolonialisme bukanlah hal yang mudah, tetapi Pattimura berani berkorban demi kepentingan rakyat Maluku.

Ia bahkan tidak menikah dan tidak memiliki keturunan. Pattimura mengabdikan dirinya untuk tanah airnya. Semasa mudanya Kapitan Pattimura bergabung ke dalam militer Inggris yang bertugas untuk menjaga rakyat Maluku. (OL-14)

BERITA TERKAIT