25 October 2022, 07:45 WIB

Cerita Malin Kundang, Kisah Si Anak Durhaka


Meilani Teniwut |

CERITA Malin Kudang pasti sudah tidak asing lagi di telingga Anda. Kisah ini, sejak Anda kecil, pasti sudah menjadi bahan bacaan atau cerita dongeng nusantara.

Tidak hanya sekedar bahan bacaan, kisah Malin Kundang telah  diolah dalam berbagai bentuk, baik cerpen, drama, dan sinetron. Karya-karya adaptasi ini sangat beragam. 

Dalam bentuk drama, Dramawan dan sastrawan Wisran Hadi menjadikan kisah Malin Kundang sebagai dasar dari dramanya yang berjudul Malin Kundang (1978) dan Puti Bungsu (1979).

Baca juga: Menarik Minat Anak-Anak terhadap Bahasa Inggris Melalui Cerita Rakyat

Sedangkan dalam bentuk sinetron, cerita Malin Kundang telah masuk dalam sinetron yang diputar di SCTV pukul 20:00-21:00 WIB sejak 11 Januari 2005 hingga 25 Juli 2006. Sinetron ini memiliki 81 episode dalam 2 musim yaitu musim 1: 65 episode & musim 2: 16 episode diproduksi MD Entertainment dan Surya Citra Pictures. Dalam sinetron ini latar cerita Malin Kundang dibawa ke alam modern.

Lagenda Malin kundang berkisah tentang anak yang durhaka pada ibunya. Kisahnya serupa dengan kisah tentang Si Tenggang dari Malaysia. 

Di balik cerita tersebut memiliki banyak kisah menarik dan terkandung banyak pesan moral kepada pembaca. Lantas apakah malin kundang itu bener- bener terjadi? 

Nah untuk menjawab pertanyaan kalian, berikut ini adalah penjelasan lengkap dari berbagai sumber. 

Apakah cerita Malin Kundang itu benar?

Cerita Malin Kundang merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal Sumatera Barat. Masyarakat menganggap cerita ini adalah mitos yang bertema anak durhaka.

Sementara itu, berdasarkan sejumlah hasil riset kebenaran penelitian tidak ada dalam sejarah. Batu itu sengaja dibuat lalu dikaitkan dengan legenda si anak durhaka. Hal ini dimaksudkan untuk menarik wisatawan.

Batu Malin Kundang terletak dimana?

Batu malin kundang dalam cerita rakyat tersebut, terletak di sebuah obyek wisata yang berada di Pantai Air Manis, Kota Padang, Sumatra Barat.

Bentuk batu yang menyerupai orang sedang bersujud tersebut bisa ditemukan di tepi Pantai Air Manis dan menarik wisatawan untuk datang dan melihatnya.

Pantai Air Manis terletak 15 kilometer dari pusat Kota Padang. Dari Bandara Internasional Minangkabau, pengunjung bisa pergi ke Air Manis melalui Kota Padang. Dari pusat kota, wisatwan dapat menggunakan angkutan umum dengan trayek Padang-Bungus.

Legenda Malin Kundang telah memberi inspirasi bagi sebuah karya seni di pantai Air Manis, Padang. Karya itu berbentuk pecahan kapal dan seseorang yang disebutkan sebagai Malin Kundang, dalam posisi tertelungkup di pesisir Pantai Air Manis, Kota Padang, Sumatra Barat. 

Bongkahan batu itu disebut menggambarkan akhir hidup tokoh Malin Kundang, saudagar yang saat kedatangannya ke kampung halaman mendapat kutukan karena menolak mengakui ibunya.

Keberadaan Batu Malin Kundang telah memopulerkan Pantai Air Manis, tempat latar legenda sebagai salah satu daya tarik wisata di Padang. Relief pada Batu Malin Kundang sendiri dikerjakan pada 1980-an, hasil karya Dasril Bayras bersama Ibenzani Usman.

Dongeng Kisah Malin Kundang

Karena kepopulerannya kisah Malin Kundang berkali-kali diolah dalam berbagai bentuk, baik cerpen, drama, dan sinetron. Karya-karya adaptasi ini sangat beragam.

Berikut ini adalah kisah dogeng Malin Kundang. 

Zaman dahulu kala, hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah, yang tinggal bersama anak laki-lakinya, Malin Kundang.

Mande Rubayah sangat menyayangi dan memanjakan Malin Kundang. Malin kemudian tumbuh menjadi seorang anak yang rajin dan penurut.

Ketika Mande Rubayah sudah tua, ia hanya mampu bekerja sebagai penjual kue untuk mencupi kebutuhan dirinya dan anak tunggalnya. Suatu hari, Malin jatuh sakit keras, hingga nyawanya hampir melayang namun akhirnya ia dapat diseiamatkan-berkat usaha keras ibunya.

Setelah sembuh dari sakitnya ia semakin disayang. Mereka adalah ibu dan anak yang saling menyayangi. Saat dewasa, Malin memohon untuk merantau agar dapat mengubah nasibnya dan ibunya

Saat Malin sudah dewasa ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau ke kota, karena saat itu sedang ada kapal besar merapat di Pantai Air Manis.

“Jangan Malin, ibu takut terjadi sesuatu denganmu di tanah rantau sana. Menetaplah saja di sini, temani ibu,” ucap ibunya yang sedih setelah mendengar keinginan Malin yang ingin merantau.

“Ibu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganku,” ujar Malin sambil menggenggam tangan ibunya.

“Ini kesempatan, Bu, kerena belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Aku ingin mengubah nasib kita Bu, izinkanlah” pinta Malin memohon.

Mande Rubayah mengizinkan Malin untuk merantau, ia pun memberikan bekal nasi untuk Malin.

“Baiklah, ibu izinkan. Cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu Nak,” kata ibunya sambil menangis.

Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengizinkan Malin untuk pergi. Kemudian Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus,

“Untuk bekalmu di perjalanan,” katanya sambil menyerahkannya pada Malin. Setelah itu Malin Kundang berangkat ke tanah rantau meninggalkan ibunya sendirian.

Mande Rubayah yang selalu mendoakan agar Malin selamat dan cepat kembali

Hari demi hari terus berlalu, hari yang terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut.

“Sudah sampai manakah kamu berlayar Nak?” tanyanya dalam hati sambil terus memandang laut.

la selalu mendoakan agar anaknya selalu selamat dan cepat kembali. Beberapa waktu kemudian ketika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya.

“Apakah kalian melihat anakku, Malin? Apakah dia baik-baik saja? Kapan ia pulang?” tanyanya.

Namun setiap ia bertanya pada awak kapal atau nahkoda tidak pernah mendapatkan jawaban. Malin tak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.

Bertahun-tahun tak ada kabar, Mande Rubayah mendapat kabar Malin telah menikah dengan putri bangsawan.

Bertahun-tahun Mande Rubayah terus bertanya namun tak pernah ada jawaban hingga tubuhnya semakin tua, dan kini jalannya mulai terbungkuk-bungkuk. 

Pada suatu hari, Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda yang dahulu membawa Malin, nahkoda itu memberi kabar bahagia pada Mande Rubayah.

“Mande, tahukah kau, anakmu kini telah menikah dengan gadis cantik, putri seorang bangsawan yang sangat kaya raya,” ucapnya saat itu.

“Malin cepatlah pulang kemari Nak, ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang…” rintihnya pilu setiap malam.

Ia yakin anaknya pasti datang. Benar saja tidak berapa lama kemudian di suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang megah nan indah berlayar menuju pantai.

Penduduk desa menyambut kapal yang datang, terlihat sepasang anak muda yang berdiri di anjungan

Penduduk desa mulai berkumpul, mereka mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira. Mande Rubayah amat gembira mendengar hal itu, ia selalu berdoa agar anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya, sinar keceriaan mulai mengampirinya kembali.

Namun hingga berbulan-bulan semenjak ia menerima kabar Malin dari nahkoda itu, Malin tidak kunjung kembali untuk menengoknya.

Ketika kapal itu mulai merapat, terlihat sepasang anak muda berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum karena bahagia disambut dengan meriah.

Mande Rubayah langsung berusaha menghampiri dan memeluk Malin karena takut kehilangan anaknya lagi

Mande Rubayah juga ikut berdesakan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras saat melihat lelaki muda yang berada di kapal itu, ia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anaknya, Malin Kundang.

Belum sempat para sesepuh kampung menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. la langsung memeluknya erat Malin karena takut kehilangan anaknya lagi.

“Malin, anakku. Kau benar anakku kan?” katanya menahan isak tangis karena gembira, “Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?”

Malin terkejut karena dipeluk oleh ibunya dan istrinya pun juga merendahkan Mande Rubayah

Malin terkejut karena dipeluk perempuan tua renta yang berpakaian compang-camping itu. Ia tidak percaya bahwa perempuan itu adalah ibunya. Sebelum dia sempat berpikir berbicara, istrinya yang cantik itu meludah dan berkata,

“Perempuan jelek inikah ibumu? Mengapa dahulu kau bohong padaku! Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan yang sederajat denganku?!” ucapnya sinis

Mendengar kata-kata pedas istrinya, Malin Kundang langsung mendorong ibunya hingga terguling ke pasir, “Perempuan gila! Aku bukan anakmu!” ucapnya kasar.

Malin tidak mengakui ibunya dan menendang Mande Rubayah hingga terkapar di pasir sambil menangis

Mande Rubayah tidak percaya akan perilaku anaknya, ia jatuh terduduk sambil berkata,

“Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak! Mengapa kau jadi seperti ini Nak?!”

Malin Kundang tidak memperdulikan perkataan ibunya. Dia tidak akan mengakui ibunya. la malu kepada istrinya. Melihat perempuan itu bersujud hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata,

“Hai, perempuan gila! lbuku tidak seperti engkau! Melarat dan kotor!”

Perempuan tua itu terkapar di pasir, menangis, dan sakit hati. Orang-orang yang meilhatnya ikut terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi.

Mande Rubayah berdoa dengan hatinya yang pilu dan kemudian langit berubah menjadi gelap.

Dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Ia tak menyangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat demikian. Hatinya perih dan sakit, lalu tangannya diangkat ke langit. Ia kemudian berdoa dengan hatinya yang pilu,

“Ya, Tuhan, kalau memang dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku yang bernama Malin Kundang, aku mohon keadilanmu, Ya Tuhan!” ucapnya pilu sambil menangis.

Tidak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya.

Datang badai besar yang menghantam kapal Malin Kundang dan tampak sebongkah batu yang menyerupai tubuhnya

Tiba-tiba datanglah badai besar, menghantam kapal Malin Kundang. Lalu sambaran petir yang menggelegar. Saat itu juga kapal hancur berkeping- keping. Kemudian terbawa ombak hingga ke pantai.

Esoknya saat matahari pagi muncul di ufuk timur, badai telah reda. Di pinggir pantai terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang! Tampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia.

Itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu karena telah durhaka. Di sela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.

Kisah Legenda Malin Kundang ini memiliki pesan yang dapat diambil si Kecil, yaitu sayangi kedua orangtua saat susah dan senang, dan jangan melupakan jasa orangtua yang telah menyayangi dan mendidik dari kecil.

Itulah dongeng anak dari Sumatra Barat, kisah Malin Kundang, si Anak yang durhaka pada ibunya. Semoga bisa jadi pembelajaran ya untuk diceritakan ke anak-anak. (OL-1)

BERITA TERKAIT