03 October 2022, 19:09 WIB

Kemenkominfo Gelar Workshop Literasi Digital di Flores Timur dan Sikka


Widhoroso |

BERDASARKAN survei indeks literasi digital nasional yang diselenggarakan ementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Katadata Insight Center pada 2021, Indonesia masih berada dalam kategori sedang dengan angka 3.49 dari 5,00. Merespon hal tersebut, Kemenkominfo menyelenggarakan program literasi digital dengan materi yang didasarkan pada empat pilar utama literasi digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Pada 19 dan 20 September 2022, Kemenkominfo bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi (GNLD) berkolaborasi menggelar workshop literasi digital bertema 'Produktif di Media Sosial dengan Aman, Beretika, dan Berbudaya' di Flores Timur dan Sikka, NTT.  Workshop bertujuan memberikan pemahaman mengenai literasi digital kepada lebih dari 400 orang peserta perwakilan masyarakat dan komunitas di Flores Timur dan Sikka.

Di Larantuka, wokshop dibuka oleh Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Flores Timur, Heronimus Lamawuran. Dalam sambutuannya, ia mengajak masyarakat Larantuka untuk dapat menjaga privasinya di media sosial maupun platform digital lainnya.

Workshop di Larantuka menghadirkan narasumber Fransiskus Padji Tukan (musisi dan kreator konten), Maksimus Masan Kian (tokoh pendidikan muda Larantuka), dan Khemal Andrias (pegiat literasi digital).

Fransiskus Padji Tukan menyampaikan di era digital, informasi bisa berbahaya jika tidak digunakan dengan baik. "Realitas sekarang ini sedang tergantikan dengan siber. Kita merasa ketika kita mendapat informasi dari media sosial, itulah realitas. Hal ini bisa berbahaya ketika kita tidak melakukan cek fakta dahulu ketika mendapat informasi,” ucapnya.

Sedangkan Maksimus Masan menyampaikan media sosial dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun banyak orang apabila digunakan secara baik dan beretika. "Kecakapan digital yang bagus terletak pada perilaku atau etika dalam menggunakan media dengan bertanggung jawab, bermanfaat, dan memberi makna untuk banyak orang,” tuturnya.

Sedangan Khemal Andrias menyampaikan pembobolan data pribadi saat membagikan kegiatannya di media sosial. "Kita harus sangat hati-hati sebelum memposting kegiatan kita di media sosial karena orang yang tidak bertanggung jawab dapat menggunakan data pribadi kita untuk keuntungannya,” tuturnya.

Sementara workshop di Sikka diisi narasumber lokal dan nasional yaitu Handrianus Yovin Karwayu (influencer lokal), Dr. Gerry Gobang (tokoh pendidikan Sikka), dan Khemal Andrias (pegiat literasi digital). Handrianus Yovin Karwayu dalam paparannya mengingatkan bahwa media sosial bisa digunakan bukan hanya untuk bergaya atau membagikan hal-hal yang tidak baik, tetapi juga bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Sedangkan Gerry Gobang menyampaikan bahwa batasan antara yang terang dan gelap di media sosial itu sangat tipis. "Karena itu diperlukan etika dalam penggunaan media sosial agar tidak terjebak dalam sisi gelapnya," ucapnya.

Sedangkan Khemal Andrias mengajak masyarakat Sikka untuk menggunakan tools keamanan digital yang bisa diakses secara umum melalui s.id/jagaprivasi agar masyarakat Sikka dapat melacak apakah aktivitas mereka di internet sudah aman atau belum. (RO/OL-15)

BERITA TERKAIT