02 October 2022, 14:37 WIB

Mengkhawatirkan, Daya Hidup Bahasa Daerah di Indonesia Menurun


Faustinua Nua |

KEPALA Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Prof. E. Aminudin Aziz menyebut daya hidup atau vitalitas bahasa daerah di Indonesia terus mengalami penurunan. Bila dulu hanya terjadi pada bahasa-bahasa daerah dari Indonesia timur yang memang jumlah penuturnya sedikit, kini justru terjadi juga pada bahasa daerah dengan penutur yang banyak.

"Lalu tahun lalu 2021 kami mengadakan lagi kajian tentang daya hidup bahasa-bahasa daerah. Nah ternyata ini memang mengkhawatirkan, tidak ada satu pun bahasa kita, bahasa daerah yang daya hidupnya itu naik. Tidak ada. Cenderung turun," ujar Aminudin, Minggu (2/10).

Dijelaskannya, total bahasa daerah di Indonesia adalah 718 bahasa daerah. Berdasarkan kajian, pada 2019, tercatat 11 bahasa daerah yang dinyatakan punah atau tidak ada penuturnya lagi.

Terkait vitalitas bahasa daerah yang terus menurun, imbuh Aminudin, merupakan fenomena global. UNESCO pun mengakui setiap dua minggu ada satu bahasa daerah yang hilang atau punah di dunia.

"Sehingga dalam 30 tahun ini ada 200 bahasa daerah, bahasa ibu seluruh dunia itu hilang," imbuhnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan Badan Bahasa telah melakukan kajian pada tahun 2021 terhadap 24 bahasa daerah dengan jumlah penutur yang besar. Semuanya mengalami pelemahan atau berkurang penutur bahasa daerah.

Baca juga:  Cara Kreatif Menguatkan Eksistensi Bahasa Daerah

Bila dulu bahasa yang mengalami pelemahan atau berkurang penuturnya ada di Indonesia bagian timur, saat ini justru terjadi juga di Indonesia bagian barat. Bahasa Jawa yang memiliki penutur sekitar 90 juta, Bahasa Sunda dengan 48 juta penutur dan Bahasa Bali juga mengalami penurunan penuturnya.

"Kalau kehilangan untuk bahasa Sunda statistiknya 10 tahun terakhir itu 2 juta orang. Kehilangan 2 juta dari penutur 48 juta ndak terlalu terasa, tapi bagi bahasa-bahasa kecil yang ada di Indonesia timur, yang penuturnya hanya tinggal 5 ribu orang, kehilangan 500 atau 1000 orang itu mencengangkan, malapetaka," tukas Aminudin.

Penyebab menurunnya vitalitas bahasa daerah di Indonesia terkait dengan sikap penuturnya yang cenderung menggunakan bahasa Indonesia, hingga perkawinan campur antaretnis atau suku yang berbeda bahasa daerah. Di sisi lain, bahasa Indonesia makin mendapat tempatnya sebagai bahasa yang bisa menghubungkan antara masyarakat di seluruh tanah air.

"Dari 24 itu semuanya mengalami kemunduran, yang istilah kami ini mengkhawatirkan, karena zero sum, menaikan popularitas bahasa Indonesia menurunkan bahasa daerah," tukasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT