30 September 2022, 23:50 WIB

Opera Majapahit: Gayatri Sang Sri Rajapatni, Merawat Ibu Bhumi


Faustinus Nua |

KEKAYAAN masa lalu bangsa Indonesia merupakan kisah yang harus selalu dikenang dari generasi ke generasi. Jauh sebelum datangnya kaum kolonial, pada abad ke-13, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya di Bumi Nusantara dan disegani bangsa-bangsa asing.

Di balik kisah hebat sang raja Hayam Wuruk, Opera Majapahit mengangkat sudut pandang berbeda, yakni Putri Gayatri anak Raja Kertanegara yang diperistri oleh Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit.

Gayatri merupakan nenek dari Hayam Wuruk yang menciptakan legacy dan dengan kecerdasannya merancang kekayaan Majapahit. Sutradara Mhyajo mengungkapkan bahwa kisah Gayatri merupakan adaptasi dari kakawin Negarakertagama karya Empu Prapanca.

Bila dalam kitab tersebut lebih menonjolkan sosok Hayam Wuruk, sang sutradara sekaligus penulis naskah mencoba mengangkat sang nenek yang sangat dihormati Hayam Wuruk, cucunya.

Di mata Mhyajo, Gayatri merupakan sosok perempuan hebat dalam sejarah masa kuno bangsa Indonesia.

"Dari pembicaraan hari pertama saat itu nama Gayatri saya sudah jatuh cinta. Saya menulis di Jakarta, saya belum pernah sejatuh cinta itu sama seseorang hanya dengan menyebut namanya," ucap Mhyajo saat ditemui Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Sebelum menulis naskah, Mhyajo bersama tim terlebih dahulu melakukan riset. Bahkan mereka mendatangi para ahli sejarah dan bahasa untuk mengetahui lebih jauh sosok Gayatri.

"Karya ini sarat riset sejarah serta antropologis yang akan membuat penonton seolah berada dalam semesta berbeda, namun familiar," kata dia.

Rencananya, Opera Majapahit: Gayatri Sang Sri Rajapatni akan dipentaskan untuk khalayak ramai pada Sabtu 8 Oktober 2022 mendatang. Dengan mengambil tempat di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, nantinya akan ada dua sesi pementasan, yakni pukul 14.00 dan 20.00 WIB.

Penata Kostum, RM Radinindra Nayaka Anilasuta menyebut bahwa timnya harus membuat kostum yang benar-benar berbeda. Kostum yang digunakan terinspirasi dari arca-arca di daerah Jawa Timur. "Kami memberi identitas individu tokoh-tokoh tanpa memainkan warna," imbuhnya.

Kostum yang dihadirkan merupakan sesuatu yang baru tetapi sarat akan makna sejarah. Kapokja Apresiasi dan Literasi Musik, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud-Ristek, Edi Irawan mengapresiasi karya tersebut. Hal itu merupakan salah satu bentuk implementasi dari UU Pemajuan Budaya.

"Kami mengucapkan terima kepada rekan-rekan semua. Ini upaya kita bersama untuk mewujudkan apa yang menjadi amanat UU Pemajuan Budaya," terangnya.

Edi mengatakan bahwa Kemendikbud-Ristek senantiasa mendukung upaya pelestarian kebudayaan termasuk lewat pertunjukan seni yang mengangkat sejarah bangsa. Sejarah panjang tersebut harus diceritakan turun-temurun seperti merawat ibu bumi. (H-2)

 

BERITA TERKAIT