30 September 2022, 23:40 WIB

Pakar : Belum Ada Bukti Paparan BPA Berbahaya bagi Kesehatan


Dinda Shabrina |

POLEMIK penggunaan senyawa kimia Bisfenol A (BPA) diduga menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari kanker hingga kemandulan, santer terdengar belakangan ini. Betulkah tudingan itu?

Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof Aru Wisaksono Sudoyo menyatakan, sungguh tidak tepat mengaitkan kanker dengan BPA. Sebab, belum ada bukti ilmiahnya.

“Sampai saat ini belum ada buktinya. Tidak cukup data untuk menyatakan BPA ini menyebabkan kanker. Kita perlu mengumpulkan data yang lebih banyak lagi dalam beberapa tahun ke depan sampai kita benar-benar yakin tentang hal ini,” kata Prof Aru saat ditemui Media Indonesia, Jumat (30/9).

Diketahui, kontroversi BPA semakin memanas setelah munculnya rencana pelabelan BPA pada air mineral kemasan galon isi ulang. Alih-alih BPA sebabkan penyakit kanker, kata Prof Aru, sebetulnya faktor penyebab kanker itu lebih disebabkan oleh gaya hidup.

Hal ini, tegasnya, sudah dibuktikan melalui bukti ilmiah yang sahih yaitu, overweight atau obesitas, gaya hidup kurang olahraga, dan pola makan tidak sehat.

Selain tiga faktor tersebut, faktor lain seperti zat kimiawi dari lingkungan pengaruhnya sangat kecil hanya sekitar 2%.

“Isu rokok lebih penting lho justru dikaitkan dengan kanker dibandingkan BPA. Sekali lagi, masih ada konflik data terkait BPA menyebabkan kanker,” jelas Prof Aru.

BPA biasa didapati dalam kemasan kaleng atau plastik. Fungsinya untuk memperkuat daya tahan kemasan sehingga bisa digunakan ulang. Komposisi BPA dalam wadah atau kaleng ini sangat kecil, dan tidak mudah untuk terurai.

Dokter spesialis penyakit dalam, Laurentius Aswin Pramono, mengatakan, saat ini penelitian dampak BPA terhadap kesehatan baru ada dalam tingkat mencit, atau studi sel di laboratorium.  Akan tetapi, itu tidak bisa membuat kita berkesimpulan bahwa BPA merupakan penyebab dari kanker ataupun gangguan endokrin dan hormon,” imbuhnya.

Pada dasarnya, jelas dia, semua bahan kimia bersifat endocrine disruptor, yaitu komponen kimiawi yang bisa mengganggu fungsi sistem endokrin dan reproduktif dalam tubuh kita.

“Namun, untuk menimbulkan gangguan metabolisme dan endokrin, butuh kadar yang sangat besar dalam satu waktu secara bersamaan. Dalam berbagai review study, penggunaan bahan kimia dalam keseharian ternyata tidak mampu mencapai ambang yang bisa menyebabkan endocrine disruption,” tuturnya.

Ia menyontohkan, kandungan BPA dalam galon guna ulang hanya 0,001% dari ambang batas yang bisa mengganggu. “Disebutkan, butuh 10 ribu galon dalam satu waktu untuk bisa mencapai jumlah tersebut. Terkait hal ini, memang tidak perlu khawatir untuk menggunakan galon sehari-hari,” ujarnya.

Secara umum, zat-zat kimia yang masuk ke tubuh akan dibersihkan melalui berbagai mekanisme. Misalnya melalui detoksifikasi di liver (hati), dan dibuang oleh ginjal melalui urin. “Ada banyak jalur pembuangan zat kimia dari tubuh kita. Untuk BPA, akan didetoks di liver. Jadi dalam jumlah kecil tidak berbahaya karena akan didetoksifikasi, sehingga tidak masuk ke peredaran darah,” tutur Aswin.

Dengan kata lain, BPA yang masuk ke tubuh sehari-hari dalam jumlah kecil tidak akan terakumulasi, sehingga potensinya sangat minim untuk bisa menimbulkan endocrine disruption. “Yang berpotensi mengganggu adalah yang masuk dalam jumlah yang sangat besar dalam satu waktu, bukan akumulasi selama puluhan tahun,” tegas Aswin.

Secara etiologi dalam skala global, tidak ada hubungan kausalitas yang kuat antara BPA dengan berbagai penyakit, seperti kanker dan gangguan endokrin. “Tidak seperti rokok dengan kanker paru, atau virus HPV dengan kanker serviks, yang memang secara etiologi hubungan kausalitasnya sangat kuat,” papar dia.

Aswin menekankan, banyak sekali faktor yang bisa berpotensi menimbulkan gangguan endokrin dan hormon. “Ada hal-hal yang lebih penting untuk diperhatikan. Terutama sekali gaya hidup,” ujarnya. Pola makan dengan prinsip gizi seimbang, serta berolahraga secara teratur, adalah cara yang sangat baik untuk menjaga kesehatan metabolisme, kadar hormon, dan endokrin kita. (H-2)

BERITA TERKAIT