30 September 2022, 19:40 WIB

Peristiwa Sekitar Berpengaruh pada Pola Memasak


mediaindonesia.com |

APA yang terjadi di sekitar kita, seperti pandemi dan kenaikan harga sembako, rupanya memengaruhi pola masyarakat dalam memasak.

Hal itu terlihat dari hasil survei World Cooking Index yang dilakukan Cookpad dan Gallup. Survei ini mencakup 150 negara di dunia, termasuk Indonesia.

“Survei ini antara lain menanyakan berapa kali Anda memasak makan siang dan malam di rumah. Hasilnya, ada peningkatan frekuensi memasak selama pandemi Covid-19. Kini, ketika pandemi mereda angkanya kembali seperti kondisi semula,” ujar CEO Cookpad, Rimpei Iwata, dalam kunjungannya ke Jakarta, baru-baru ini. 

Lebih rinci ia menjelaskan, berdasarkan hasil survei tersebut, rata-rata masyarakat Indonesia memasak 6,5 kali per pekan (untuk makan siang dan malam).

Saat pandemi melanda, tahun 2020, angka tersebut meningkat, menjadi 9 kali per pekan. Lalu, setelah pandemi mereda, frekuensi memasak kembali seperti sebelum pandemi.

Direktur Cookpad Indonesia, Soetrisno Misawa, menambahkan, selain perubahan frekuensi, preferensi jenis masakan juga berubah seiring dengan perkembangan yang terjadi di lingkungan sekitar. Hal tersebut tergambar dari pencarian di platform berbagi resep masakan Cookpad.

Baca juga: Tips Mencegah Minyak Meletup dan Berceceran saat Menggoreng

“Saat pandemi, banyak masyarakat mencari resep pembuatan jajanan anak. Kemungkinan karena ketika restoran ditutup, anak-anak di rumah, mereka membutuhkan konsumsi seperti snack," jelasnya dalam keterangan pers, Jumat (30/9).

"Pencarian lain yang juga populer ialah menu makanan yang mudah dimasak, lalu menu-menu restoran seperti japanese maupun korean food, dan yang juga banyak dicari adalah resep makanan/minuman untuk meningkatkan daya tahan tubuh, seperti wedang jahe, dan jamu berbahan empon-empon,” papar Soetrisno.

Setelah pandemi mereda, jenis resep yang banyak dicari pengguna Cookpad juga berubah. Masyarakat lebih banyak mencari resep bekal anak dan bekal makan untuk bekerja.

Hal ini terjadi ketika banyak kantin sekolah dan tempat-tempat makan di sekitar perkantoran yang belum buka sepenuhnya.

“Tak hanya pandemi yang memengaruhi pola memasak, kejadian seperti naiknya harga minyak beberapa waktu lalu juga meningkatkan pencarian resep memasak dengan sedikit atau tanpa minyak,” kata Soetrisno. 

Bukan Hanya Halau Lapar 

Pada kesempatan tersebut, Rimpei juga menjelaskan dampak memasak yang bukan sekadar memenuhi kebutuhan kita akan konsumsi makanan. Memasak bukan hanya untuk menghalau lapar.

Lebih dari itu, memasak juga bisa membuat hidup lebih sehat, meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, dan memperkuat hubungan sosial. 

“Dengan kita memasak, kita akan membuat bahan dan cara memasak yang digunakan. Apakah bahannya sehat, diperoleh dari proses pertanian dan distribusi yang ramah lingkungan, apakah cara memasak yang kita pilih lebih sehat?" katanya.

Lalu, terkait hubungan sosial, memasak yang diikuti makan bersama akan mempererat hubungan kita dengan orang lain melalui percakapan yang terjadi,” terang Rimpei.

Semua itu, lanjut Rimpei, akan sulit didapat jika kita hanya sebagai pihak yang tinggal makan, tanpa melakukan praktik memasak. Sebab, mereka tidak melalui proses pemilihan bahan dan proses membuat makanan/minuman, hanya makan saja.

Memang, pemerintah/otoritas berwenang menerapkan peraturan agar kita menuju hidup sehat dan ramah lingkungan.

Tapi kalau setiap individu memiliki kesadaran pribadi akan pentingnya hidup sehat dan ramah lingkungan, tentunya hal itu juga akan sangat mendukung program pemerintah. Kegiatan memasak membantu membangun timbulnya kesadaran tersebut.

“Jadi, kami berharap lebih banyak lagi orang yang memasak. Dengan demikian, ke depan, kita akan lebih mudah membangun kehidupan yang lebih sehat, lebih ramah lingkungan, dan memiliki hubungan sosial berkualitas,” pungkas Rimpei. ((RO/OL-09)

 

BERITA TERKAIT