27 September 2022, 18:04 WIB

Mau Tembus Universitas Top di AS dan Inggris? Jangan Hanya Andalkan Prestasi Akademis


Mediaindonesia.com |

SEJUMLAH universitas ternama di Amerika Serikat dan Inggris kerap menjadi tujuan utama dari berbagai calon mahasiswa di seluruh dunia. 

Sebut saja misalya Universitas Brown, Universitas Columbia, Universitas Cornell, Perguruan Tinggi Dartmouth, Universitas Harvard, Universitas Pennsylvania, Universitas Princeton, dan Universitas Yale di AS serta Universitas Oxford serta Universitas Cambridge di Inggris.

Namun, untuk bisa menempuh pendidikan tinggi di kampus ternama itu, tidaklah mudah. Setiap tahunnya, universitas-universitas unggulan di AS dan Inggris menerima puluhan ribu aplikasi dari seluruh dunia dan hanya meloloskan sebagian kecilnya. 

Sebagai contoh, pada 2022 ini, Harvard hanya menerima 4,59% dari 42.749 pelajar yang melamar. Beratnya kompetisi menjadi pemicu utama bagi pelajar-pelajar berprestasi seluruh dunia untuk membangun profil yang sebaik-baiknya. 

Prestasi akademis saja tidaklah cukup untuk menjamin keberhasilannya. Eks Interviewer di University of Chicago dan US University Admissions Strategist, Lyn Han mengungkapkan, dalam menyeleksi semua calon mahasiswanya, universitas-universitas unggulan di AS dan Inggris tidak hanya menilai pencapaian akademis, tetapi juga kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan, serta kepribadian calon mahasiswa yang tersirat melalui penulisan esai dan wawancara. 

"Selama ini, ada anggapan yang kuat bahwa pelajar yang memiliki nilai rapor sempurna pasti bisa menembus universitas unggulan seperti Harvard University atau University of Oxford. Pencapaian akademis memang penting, tetapi bukan golden ticket yang dapat menjamin keberhasilan seseorang dalam menembus universitas kelas dunia,” katanya dalam Extracurricular & Leadership Building Profile Seminar with Crimson Education.

Dengan pendekatan holistik yang memungkinkan calon mahasiswa dinilai secara utuh, bakat dan minatnya pun menjadi penting untuk penilaian dalam seleksi penerimaan universitas.

Country Manager Indonesia di Crimson Education Vanya Sunanto memaparkan, adanya perbedaan antara pendekatan dalam sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung mengutamakan pencapaian akademis dengan sistem pendidikan di AS dan Inggris yang cenderung holistik inilah yang dijembatani oleh Crimson Education melalui layanan konsultasi dan bimbingan seleksi penerimaan universitas di AS dan Inggris. 

Di Crimson, kami selalu mengawali layanan kami dengan menggali segala sesuatu tentang calon siswa kami, mulai dari bakat, minat, kelebihan, kekurangan, aspirasi, hingga cita-cita yang ingin ia capai. Dengan analisis yang menyeluruh, kami tidak hanya merancang rencana akademis yang terpersonalisasi dan memberikan bimbingan akademis, tetapi juga bimbingan non-akademis yang mencakup pengembangan profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan, penulisan esai, dan persiapan wawancara," ujarnya.

Vanya menambahkan, semuanya proses dilakukan secara strategis dan statistik Crimson Education telah membuktikan bahwa pendekatan ini memiliki tingkat keberhasilan yang lebih baik daripada pendekatan yang semata-mata mengandalkan pencapaian akademis.

Baca juga : Kemenkeu: Gaji Guru PPPK Harusnya Dibayar Tepat Waktu oleh Pemda

Menurutnya, profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan yang kuat dapat dibangun dari ide yang sederhana atau bahkan kegemaran pribadi, selama disertai dengan konsistensi. 

Dalam seleksinya, universitas-universitas unggulan di AS menilai semua calon mahasiswanya berdasarkan tiga hal utama, yaitu pencapaian akademis (dengan bobot penilaian sebesar 40%); profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan (dengan bobot penilaian sebesar 30%); serta esai dan wawancara (dengan bobot penilaian sebesar 30%). 

Universitas-universitas tersebut tidak mencari mahasiswa yang sekadar cemerlang secara akademis, melainkan mahasiswa yang cerdas, kreatif, berinisiatif tinggi, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Mereka mencari sosok yang memiliki semangat untuk menciptakan perubahan di dunia. 

Di sinilah peranan profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan dalam memperkuat aplikasi calon mahasiswa. Kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan yang terbukti membawa manfaat atau memberikan dampak sosial, meskipun pada skala kecil, akan semakin memberikan nilai lebih. 

Sedikit berbeda dengan AS, universitas-universitas unggulan di Inggris memiliki kecondongan mencari sosok akademisi yang teguh menjunjung ilmu pengetahuan, sehingga bobot penilaian dalam tahapan seleksinya pun berbeda. 

Pencapaian akademis memiliki bobot penilaian sebesar 75%, sedangkan bobot penilaian profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan adalah 15%, dan 10% sisanya merupakan bobot penilaian esai dan wawancara. Kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan untuk seleksi penerimaan universitas di Inggris pun tidak dapat dipilih secara sembarang, melainkan harus memiliki keterkaitan dengan program studi yang diminati. 

Mentor Anderson Tan menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang pelajar Indonesia yang berhasil menembus universitas unggulan di Inggris dan menempuh bidang studi PPE (Philosophy, PoIitics, and Economics). 

“Sejak kecil, saya menggemari video game yang berlatar belakang sejarah. Diplomasi juga menjadi topik yang saya sukai. Ketika saya berusia 14 tahun, saya mulai aktif mengikuti konferensi MUN (Model United Nations). Berpartisipasi aktif dalam konferensi MUN mengharuskan saya untuk banyak membaca berita dan buku yang berkaitan dengan hubungan internasional, sejarah, dan politik,” ujarnya. 

“Saking senangnya saya membaca kumpulan berita dan buku-buku tersebut, tanpa saya sadari saya sudah menyelesaikan 20-30 buku dalam waktu singkat. Dalam esai yang saya tulis sebagai bagian dari aplikasi UCAS (Universities and College Admissions Service), saya mengutip, beropini, dan bahkan mengkritik buku-buku yang saya baca–inilah yang menunjukkan ketertarikan saya terhadap hubungan internasional dan tingginya antusiasme saya untuk dapat memelajarinya secara mendalam,” ungkap Anderson Tan. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT