15 September 2022, 22:49 WIB

Menuju Akhir Pandemi, IDI: Jangan Lengah, Tetap Pakai Masker


M Iqbal Al Machmudi |

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pandemi covid-19 akan segera berakhir karena kasus harian dunia yang menurun drastis. Meski begitu kewaspadaan dan kehati-hatian tetap harus menjadi kesadaran bersama.

"Covid-19 merupakan virus yang tidak dapat diprediksi dan situasinya dinamis. Kasus baru omikron saja puncaknya hingga 60 ribu kasus," kata Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Erlina Burhan, Sp.P(K) dalam Talkshow dari AstraZeneca di Perkantoran Hijau Arkadia Tower, Jakarta, Kamis (15/9).

Berdasarkan pengalaman yang sudah dilewati, adanya varian baru membuat angka kasus harian kembali naik. Kemudian adanya mobilitas besar dari masyarakat juga membuat kasus baru kembali meningkat.

"Meskipun ada Subvarian baru BA.4 dan BA.5, tetapi tidak ada puncak dan melihat bahwa pasien yang dirawat menurun, kematian akibat covid juga menurun dan stabil sehingga ini arahnya menuju endemi," tuturnya.

Namun, lanjut Erlina, masyarakat tidak perlu euforia dan tetap berhati-hati serta pertahankan apa yang baik seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga daya tahan tubuh.

"Sehingga kebiasaan baik tersebutlah yang bisa dilanjutkan. Dan satu lagi meningkatkan cakupan booster pertama, masih kurang dan booster kedua masih mencangkup nakes dan berikutnya adalah lansia," ungkapnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sasaran vaksinasi nasional ditargetkan sebesar 234,666,020 juta penduduk. Sementara, masyarakat yang telah melakukan vaksinasi booster baru mencapai 26.46% atau sekitar 62,091,264 orang.

Baca juga: Ada Peluang Anak di Bawah 5 Tahun Divaksin Covid-19

Hal tersebut menunjukkan sekitar 73% masyarakat belum melakukan vaksinasi booster. Di satu sisi, kumulatif total dosis vaksinasi per 13 September 2022 mencapai 437,124,042 orang.

cakupan vaksinasi primer di Indonesia sudah sangat baik namun vaksinasi booster yang kurang. Padahal booster bisa melindungi infeksi berat dan kematian walaupun seseorang terinfeksi hanya level ringan, tidak berat, dan tidak memerlukan layanan rumah sakit.

"Jadi itulah mengapa booster ini penting hingga seluruh dunia mendorong masyarakatnya untuk vaksin booster. Masalah di Indonesia adalah cakupannya saja yang rendah," tuturnya.

Menurut dr Erlina, banyak faktor masih rendahnya vaksinasi booster dibandingkan dengan vaksin primer. Mungkin saja faktor dari orang yang menilai cukup 2 dosis saja atau sudah lelah dengan covid-19 sehingga tidak dibooster atau adanya kesulitan distribusi, sentra vaksinasi yang tidak seluas dulu.

"Sehingga saya menilai perlunya kolaborasi untuk menunjukkan bahwa semua orang bisa mengatasi pandemi," pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT