09 September 2022, 21:25 WIB

Beasiswa Idealnya Bukan Hanya Berikan Dana Pendidikan


mediaindonesia.com |

PROGRAM beasiswa yang baik tidak hanya memberikan dana sekolah atau kuliah, namun harus juga bisa mendidik dan mengasah para penerimanya agar dapat berkontribusi balik kepada sesama dan masyarakatnya.

Hal itu ditegaskan Direktur Eksekutif Indonesian International Education Foundation (IIEF), Diana Kartika Jahja, S.S., M. App. Ling.

IIEF adalah sebuah lembaga nirlaba yang memiliki kiprah selama 40 tahun dan telah dipercaya oleh berbagai lembaga sponsor, baik nasional maupun internasional, untuk mendisain dan mengelola berbagai program beasiswa dan pengembangan kapasitas lainnya.

“Mengelola program beasiswa itu jauh lebih rumit dari sekedar membagikan uang sekolah/kuliah,” ujar Diana pada temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, penting sekali membekali generasi muda penerima beasiswa dengan berbagai keterampilan dan soft skill.

"Karena itu, setiap program beasiswa yang dikembangkan oleh IIEF pun selalu memasukkan komponen kegiatan community service (pengabdian masyarakat), d imana semua penerima beasiswa selain menerima dana beasiswa dan pengayaan akademik dan profesional, mereka pun dilatih dan diajak untuk aktif melakukan kegiatan sosial untuk sesama," papar Diana.

Baca juga: UNM Tampung 80 Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP-Kuliah

Contohnya, program Beasiswa Cakrawala yang merupakan inisiatif IIEF untuk membantu anak-anak dari keluarga industri penerbangan atau aviasi sebagai salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19.

Program beasiswa dengan 130 peserta asal Jabodetabek ini memberikan tunjangan belajar 1 tahun, untuk siswa SMA sebesar Rp 12 juta, sedangkan untuk mahasiswa sebesar Rp19,2 juta.

"Tapi tak hanya itu, para penerima beasiswa juga mendapat program pendampingan non-akademis serta pengembangan kepemimpinan dan profesional bersama para mentor profesional," jelasnya. 

Selain itu, mereka dibimbing untuk berkegiatan bersama merencanakan dan menjalankan proyek sosial untuk mengasah nilai-nilai pengabdian sosial kepada masyarakat.

Passion Bidang Pendidikan

Diana sendiri memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang pendidikan, khususnya dalam hal pengembangan dan pengelolaan program beasiswa, program pertukaran internasional, program pemberdayaan anak muda, kerjasama internasional pendidikan tinggi, dan ujian sertifikasi berstandar internasional.

Bagi Diana, mendisain, mengembangkan program, menulis proposal untuk berbagai lembaga termasuk lembaga internasional merupakan passion-nya.

Berbagai proposal yang Diana kembangkan telah berhasil dimenangkan. S

ebagai contoh, saat ini IIEF dipercaya untuk mengelola program global yang dilaksanakan di lebih dari 80 negara di dunia, yang bertajuk Access Microscholarship Program, sebuah program beasiswa dalam bentuk pelatihan Bahasa Inggris gratis, yang diprakarsai oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Di bawah kepemimpinan Diana, IIEF selalu aktif mengembangkan berbagai program dan inisiatif yang bertujuan untuk memperluas akses insan Indonesia untuk dapat berkiprah lebih luas di arena global.

Sebagai contoh, Ia merupakan salah satu tokoh kunci dari suksesnya beasiswa yang disponsori Ford Foundation yang bertajuk International Fellowship Program, yang merupakan program global yang dilaksanakan di 22 negara di dunia.

Di Indonesia, program ini sangat ditujukan untuk mereka yang mewakili masyarakat terpinggirkan, termasuk kaum difabel, yang diberikan kesempatan mengenyam pendidikan S2/S3 di luar negeri. 

Diana juga aktif menggandeng berbagai pihak untuk berkontribusi dalam dunia perbeasiswaan di Indonesia.

Pada tahun 2011, IIEF dipercaya oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk menjadi pelaksana program beasiswa pascasarjana bertajuk USAID/PRESTASI.

Pada tahun 2022 ini, IIEF sukses menggandeng Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek untuk melaksanakan serangkaian program yang menyiapkan insan muda Indonesia terpilih untuk sukses diterima di perguruan tinggi luar negeri lewat jalur beasiswa LPDP. 

IIEF juga merupakan perwakilan tunggal dari ETS (Educational Testing Service), lembaga internasional yang berpusat di Princeton, AS, pembuat ujian Bahasa Inggris berstandar internasional TOEFL®.

IIEF adalah pemegang lisensi tunggal untuk ujian TOEFL ITP® untuk seluruh Indonesia, yang kerap dipakai sebagai persyaratan untukberbagai keperluan, seperti persyaratan pendaftaran beasiswa, persyaratan melamar pekerjaan, persyaratan mendaftar program pascasarjana, syarat kelulusan universitas, dll. 

Ketika pandemi Covid-19 menyerang dunia, Diana memegang peranan aktif dalam mendorong diluncurkannya ujian TOEFL ITP® Digital di dunia.

“Ujian TOEFL ITP® memegang peranan kunci sebagai pintu awal berbagai kebutuhan banyak masyarakat, sehingga akses terhadap ujian tersebut tidak boleh terhalang, oleh karena pandemi sekalipun,” ujar perempuan yang meraih gelar sarjana dari Jurusan Sastra Universitas Indonesia dan Master of Applied Linguistics dari University of Melbourne, Australia itu. 

Saat ini, lanjut Diana, Indonesia adalah salah satu pengguna TOEFL ITP® Digital terbesar di dunia, dan itu membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sungguh dapat berdaptasi dengan perubahan secara cepat. (RO/OL-09)
 

BERITA TERKAIT