06 September 2022, 15:15 WIB

Obat Tradisional Dalam Negeri Masih Kurang Penelitian


M. Iqbal Al Machmudi |

BERKEMBANGNYA inovasi obat tradisional atau jamu dalam dunia kesehatan masih menemui tantangan yakni masih kurangnya penelitian. Padahal berbagai negara maju sudah melihat potensi jamu sebagai obat alternatif juga penting bandingkan dengan obat kimia.

"Kurangnya penelitian karena kesulitan, dukungan keuangan untuk penelitian tentang TCM (Pengobatan tradisional Cina) dan pengobatan herbal," kata Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia dalam T20 Indonesia Parallel Session 3D secara daring, Selasa (6/9).

Baca juga : Ini Obat Panu Paling Ampuh Usir Jamur pada Kulit

Kemudian kurangnya kemauan politik dan kapasitas untuk memantau keamanan produk TCM, sistem informasi dan analisis serta integrasi TCM ke dalam sistem kesehatan.

"Hal ini seharusnya tidak memperlambat potensi produk herbal, kita harus melihat ini sebagai peluang. Indonesia dengan sekitar 143 ha hutan tropis, dengan 28 ribu spesies tumbuhan, 32 ribu bahan telah dimanfaatkan," ujarnya.

Indonesia dengan 217 juta penduduk tetap menjadi pemain utama baru untuk Farmasi Hijau dengan produk jamu.

Menurutnya saat ini semakin banyak negara yang mengakui peran jamu dalam sistem kesehatan nasional. Di Tiongkok penggunaan obat herbal sudah mapan untuk tujuan kesehatan, kemudian di Jepang hampir 50-70% jamu telah diresepkan.

Sementara itu, Kantor Regional WHO untuk Amerika (AMOR/PAHO) melaporkan bahwa 71% penduduk Chili dan 40% penduduk Kolombia menggunakan obat tradisional. Bahkan di antara yang negara maju, obat herbal sangat populer.

"Penggunaan jamu oleh penduduk di Perancis mencapai 49%, Kanada 70%, Inggris 40%, dan Amerika Serikat 42%. Inilah kondisi pasar ekspor jamu ke depan," ungkapnya.

Di kesempatan yang sama, Biomolecular Pharmacology Expert Dexa Group Dr Raymond Tjandrawinata mengatakan seperti halnya India dengan ayuverda, Indonesia memiliki jamu tradisional yang baik untuk pencegahan penyakit dan sebagainya dan telah digunakan oleh masyarakat.

Namun masih terdapat mitos di masyarakat tentang obat tradisional, seperti sedikit khasiat, tidak adanya bukti, sedikit pengetahuan tentang farmakologi herbal, takut salah diagnosis dan dosis yang tidak tepat dan sebagainya. Hal ini yang harus diubah, agar masyarakat mengerti pentingnya Green Pharmacy yang produknya bisa membantu pasien.

"Di masa depan, Green Pharmacy harus menjadi obat integratif untuk pengobatan konvensional, pengobatan gaya hidup, dan terapi komplementer yang terinformasi. Jadi kehidupan manusia akan lebih baik, kualitas hidup menjadi jauh lebih tinggi," ujar Raymond.

Fitofarmaka tidak hanya bermanfaat bagi pasien, tetapi juga para petani yang menyediakan bahan baku untuk produk Green Pharmacy.

Saat ini, terdapat 24 jenis obat fitofarmaka di Indonesia yang sudah diproduksi, dan perlu meningkatkannya. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa hanya 1-3 persen dokter yang meresepkan fitofarmaka di rumah sakit.

"Ini adalah sesuatu yang perlu kita kerjakan untuk memberi manfaat bagi pasien. Kita punya Formularium Nasional tapi masih ada 5 produk saja, kita perlu menambah minimal menjadi 20 produk," ucapnya.

"Kita harus berkolaborasi untuk memastikan fitofarmaka Green Pharmacy dapat dengan mudah ditambahkan ke dalam formularium. Kita perlu meningkatkan menjadi 40-50 persen untuk resep Green Pharmacy di Indonesia," pungkasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT