19 August 2022, 14:48 WIB

Asmaul Husna: Al-Malik Yang Merajai Miliki Segala yang Wujud


Mediaindonesia.com |

KITA kembali membahas asmaul husna atau nama-nama terindah Allah. Kali ini pembahasan mengenai Al-Malik berarti Yang Maha Merajai atau Yang Maha Memiliki. 

Di muka Bumi terdapat banyak raja. Namun mereka semua di bawah kekuasaan satu adiraja raja tertinggi ialah Allah subhanahu wa ta'ala. Istimewanya Maha Merajai atau Memiliki ini bersifat mutlak. Maksudnya segala yang wujud merupakan milik Allah tanpa terkecuali. Tidak ada sebiji  atom pun yang bukan milik-Nya.

Tidak membutuhkan makhluk

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Maqshadu Al-Asna dilansir dari @limofficial_lirboyo di Instagram, setiap yang dimiliki pasti membutuhkan pemiliknya. Segala yang maujud pasti membutuhkan Allah. 

Namun ini tidak berlaku kebalikannya. Allah sama sekali tidak membutuhkan segala yang maujud. Jadi dalam hal membutuhkan antara Allah dan makhluk, tidak terjadi hubungan saling tergantung. Dengan kata lain, makhluk membutuhkan Allah. Allah tidak membutuhkan makhluk.

Tentu hubungan Allah dengan makhluk berbeda dengan antara sesama makhluk. Seorang manusia, misalnya, sekali waktu dia membutuhkan orang lain. Di lain waktu, dia dibutuhkan oleh orang lain. Ini menunjukkan ada hubungan saling membutuhkan.

Manusia dan raja

Selanjutnya muncul pertanyaan, jika Allah ialah Al-Malik Al-Mutlaq bagaimana bisa ada manusia yang disebut raja? Manusia bisa menjadi raja, tetapi kekuasaannya tidaklah mutlak, melainkan sesuai dengan kemampuannya mengendalikan pasukan dan rakyat yang ada di bawah kekuasaannya. 

Tidak akan pernah ada raja dari golongan manusia yang kekuasaannya mutlak. Jika dia berhasil menguasai seluruh permukaan Bumi sekali pun masih ada langit dan berbagai wujud bukan miliknya.

Raja dalam diri

Minimal manusia harus bisa menjadi raja bagi dirinya sendiri. Lantas bagaimana caranya? Agar bisa menjadi raja bagi dirinya sendiri, seorang manusia bisa mengendalikan pasukan dan rakyat yang terkandung pada dirinya.

Baca juga: Asmaul Husna: Sayang Allah Ar-Rahim Lebih Eksklusif ketimbang Ar-Rahman

Dalam hal ini yang dimaksud dengan pasukan ialah amarah, syahwat, dan hawa nafsunya. Sedangkan maksud dari rakyat ialah lisannya kedua matanya, kedua tangannya, dan seluruh anggota tubuhnya yang lain. Jika berhasil mengendalikan itu semua, jadilah dia raja bagi dirinya sendiri.

Berbeda dengan raja di suatu wilayah yang mengendalikan pasukan dan rakyatnya menggunakan peraturan undang-undang dan semacamnya, alat untuk mengendalikan pasukan dan rakyat dalam diri manusia yakni menggunakan hati dan akalnya. Jadi jangan sampai terjadi yang sebaliknya yakni seorang manusia justru dikendalikan oleh hawa nafsunya sendiri. (OL-14)

BERITA TERKAIT