15 August 2022, 12:30 WIB

Tim Peneliti Arkeologi BRIN Temukan Seni Figuratif Tertua di Dunia


Dinda Shabrina |

Tim Peneliti Arkeologi Nasional meraih penghargaan Achmad Bakrie XVIII 2022 dalam kategori Sains atas rentetan temuan aneka lukisan figuratif tertua di dunia di gua purba Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Temuan ini menggeser paradigma arkelogi Indonesia dan memperkaya pengetahuan tentang evolusi kognitif di Bumi.

Para peneliti itu bernama Adhi Agus Oktaviana dan Budianto Hakim yang merupakan Peneliti Pusat Riset Arkeometri (PRA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pindi Setiawan, Basran Burhan, dan Rustan LP Santari yang merupakan kalangan akademisi dan praktisi cagar budaya.

Penemuan lukisan di dinding gua bergambar babi hutan dinobatkan sebagai lukisan tertua di dunia. Lukisan yang diperkirakan berusia 45.500 tahun itu ditemukan di Gua Leang Tedongnge, Maros, Sulawesi Selatan pada Desember 2017. Adhi Agus menjelaskan proses pengambilan sampel hingga mendapatkan hasil.

"Sampel yang dambil pada lukisan tersebut dibawa ke lab, dan setelah dianalisis dengan metode uranium series, keluar umur 45.500 tahun yang lalu," kata Adhi, Minggu (14/8).

Tim peneliti arkeologi juga menemukan seni lukisan di situs lainnya yang berada di Leang Bulu Sipong, Sulawesi. Lukisan tersebut berusia antara 35.100 tahun hingga 43.900 tahun. Adhi Agus menceritakan di situs ini terdapat figur Therianthropy, yaitu gambar setengah manusia dan setengah binatang. Lukisan tersebut juga menggambarkan kegiatan perburuan tertua di dunia.

Hal senada dikatakan Rustan LP Santari, bahwa orang-orang jaman purba diduga telah membuat lukisan tersebut dengan cara melukis dengan menggunakan kuas yang bisa saja di masa itu dibuat dari bahan akar-akaran atau ranting-ranting yang dimodifikasi. "Cara yang kedua, khususnya untuk lukisan gambar tangan adalah dengan cara meletakkan tangan di dinding gua kemudian di beri pewarna," jelas Rustan.

Budianto Hakim mengutarakan bahwa setelah rentetan penemuan yang dimulai dari tahun 2014 hingga sekarang, menjelaskan bahwa leluhur kita di nusantara ini lebih menonjol dibanding leluhur bangsa Eropa. "Ini memperkuat pondasi ataupun konstruksi identitas kebangsaan kita," ujarnya. (Dis)

BERITA TERKAIT