11 August 2022, 07:35 WIB

Menikmati Panorama, Merekam Perjalanan


Fathurrozak |

DINI hari, pukul 01.00 WIB, sebuah jip Hardtop menghampiri sebuah hotel di Malang, Jawa Timur. Jip itu akan mengantar wisatawan menuju Bromo. Dengan perjalanan sekitar 2 jam, pukul 03.00 wisatawan sudah tiba di kawasan wisata tersebut. Muhammad Samsul Haris, yang ikut serta dalam rombongan, biasanya akan mengarahkan titik henti jip, lalu mengabadikan momen wisatawan yang diantarnya.

Di lain waktu, minibus yang akan mengantar wisatawan dengan jumlah rombongan besar dari Malang menuju pasar Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Dari pasar, barulah rombongan akan dipecah ke dalam beberapa kelompok untuk berganti tumpangan menggunakan jip.

Jalanan yang meliuk tajam dari Pasar Sukapura melewati Wonotoro, salah satu desa di bawah kawasan Bromo, memang tidak memungkinkan bus besar untuk lewat. Sebab itu, jip menjadi kendaraan yang memang kerap ditemui lalu-lalang dari dan ke Bromo. Pemandangan menuju Bromo, kita bisa melihat hamparan hijau hutan maupun tanaman warga. Selain tebing yang curam, tak jarang pula kita akan melihat beberapa kafe yang berdiri di samping kiri maupun kanan.

Sejak 2015, Haris memang sudah rutin mengantar para wisatawan asal luar kota, utamanya dari Jakarta, menuju Bromo. Ia bersama dua kakaknya mendirikan jasa perjalanan Kambing Gunung, dengan nama akun di Instagram (at)kambinggunung.

Keterlibatan Haris boleh dibilang yang ‘merevolusi’ inisiatif yang dimulai kedua kakaknya tersebut. Mulanya, kedua kakaknya sejak 2013 memang sudah beberapa kali memandu beberapa teman mereka dari luar kota yang akan berlibur di Malang ataupun beberapa tujuan wisata lain di Jawa Timur termasuk Bromo. Namun, ‘upah’ yang diterima lebih sekadar sebagai harga pertemanan. Ketika Haris bergabung dengan kedua kakaknya pada 2015, ia juga yang turut membangun branding digital bisnis jasa perjalanan mereka.

“Pada 2015 itu saya memang tertarik untuk ikut mengembangkan yang sudah dimulai kedua kakak saya. Karena latar belakang saya itu senang foto dan main, jadi sesuai. Seiring berjalannya waktu, pembagian urusan digital, posting, dan promosi itu saya yang pegang. Sementara kegiatan di lapangan kakak saya,” jelas Haris, yang merupakan lulusan desain komunikasi visual, saat berbincang dengan Media Indonesia melalui konferensi video, Kamis (4/8).

Pada awal Kambing Gunung bersalin menjadi bisnis perjalanan yang lebih profesional, Haris kemudian membuat beberapa kanal digital. Dari situs resmi, laman Facebook, dan Instagram. Modal yang dikeluarkan saat itu cuma untuk membuat situs resmi, yakni sekitar Rp3 juta.

Pada masa awal-awal, imbuh Haris, yang juga rutin dilakukan ialah beriklan di Instagram. Dalam sebulan sekitar Rp300 ribu bujet yang dialokasikan. Upaya itu cukup mengerek popularitas nama mereka hingga akhirnya datang reservasi dari satu rombongan berisi enam orang asal Bandung.

“Sebelum ada di digital kan, paling ya dari lingkup pertemanan. Tapi pas Kambing Gunung itu ada di digital, mulai ketemu dengan orang asing yang memang tidak kami kenal sebelumnya. Kami juga sudah mempersiapkan tarif perjalanan secara profesional,” sambung Haris.

Pada fase awal memang tidak begitu kencang peminatnya. Sebulan ada dua kali pengantaran, kata Haris, itu sudah top. Namun, kini setidaknya dalam sepekan, ada tiga hingga empat kali pengantaran wisatawan ke Bromo, dengan rata-rata per bulannya sekitar 100 orang yang turut dalam rombongan.

 

Foto dan endorse

Selain memanfaatkan iklan di Instagram, ujar Haris, di fase awal bisnis, mereka juga turut terbantu dengan ulasan-ulasan para tamu yang menceritakan pengalaman saat ditemani Kambing Gunung berwisata ke Bromo.

Namun, salah satu titik eksponensial Kambing Gunung bisa dibilang pada 2018. Ketika itu, Haris datang dengan ide untuk menambahkan layanan dokumentasi bagi wisatawan. Itulah yang kemudian melambungkan Kambing Gunung dengan omzet rerata per bulannya sekitar Rp50 jutaan. Bahkan di musim puncak, seperti libur sekolah, libur Lebaran, dan libur akhir tahun, bisa mencapai Rp80 juta-Rp100 juta.

“Dengan menambahkan fasilitas dokumentasi, itu menjawab permasalahan orang yang pengin liburan, sekaligus mendapat foto bagus. Makanya pada 2018 itu banyak yang tertarik. Orderannya pun meningkat. Bisa dilihat dari lalu lintas pesan masuk ke kami.”

Layanan dokumentasi ini menjadi nilai jualan utama bagi Kambing Gunung sebagai salah satu penyedia jasa perjalanan di Bromo. Haris pun mengakui itu. Menurutnya, untuk kendaraan, paling pengalamannya tidak jauh berbeda. Tapi, hasil foto yang diabadikan, tidak bisa ditawar.

Haris mengatakan, untuk mendukung itu, peralatan pun harus yang mumpuni. Dia tidak mau menginvestasikan pada peralatan kamera yang nanggung. Setidaknya Rp100 juta pun habis untuk menambah gear dokumentasi.

Hal lain yang ikut mengerek jumlah wisatawan yang menggunakan jasa Kambing Gunung ialah strategi menggaet para pemengaruh (influencer). Meski kocek yang dialokasikan untuk influencer ini juga cukup gede, hasilnya menurut Haris sepadan.

“Waktu pakai iklan Instagram, engagement memang tinggi. Cuma action orang untuk purchasing ke kami (reservasi) tidak terlalu tinggi. Memang Instagram jadi ramai, ada yang tanya ke kami dan follow, tapi endorsement influencer lebih tinggi lagi engagement-nya. Ditambah, keputusan orang untuk trip ke Bromo dengan jasa kami lebih tinggi. Orang akan percaya ke influencer ketika mereka bilang produknya oke. Itulah yang paling berasa juga,” terang Haris mengenai impak endorsement ke pemengaruh.

Hal itu dikonfirmasi ulang saat Haris survei ke para wisatawannya. Ketika mendampingi perjalanan, ia akan bertanya dari mana mereka tahu Kambing Gunung, dan banyak yang memberikan jawaban dari unggahan pemengaruh yang mereka ikuti, yang mengunggah pengalaman perjalanan bersama Kambing Gunung.

Ada harga, ada rupa tentu saja. Jika bujet untuk sekali iklan di Instagram paling Rp150 ribu-Rp300 ribuan, beda hal saat Kambing Gunung harus mengalokasikan bujet untuk pemengaruh yang diajaknya jalan-jalan. Setidaknya, sekali trip, butuh bujet Rp5 juta-Rp10 jutaan.

“Karena kan kami sistemnya kasih perjalanan gratis ke influencer-nya. Jadi kami undang, menanggung akomodasi, dan biarkan mereka merasakan pengalaman trip bareng kami. Untuk itu, endorsement ini tidak tiap bulan. Biasanya kami lakukan menjelang high season, sebulan atau dua bulan sebelumnya.”

 

Bangkit dari pandemi

Setelah dua tahun lesu akibat pembatasan sosial pandemi covid-19 yang turut menghantam dunia pariwisata, kini Kambing Gunung pun siap menggeliat kembali menyambut para wisatawan.

Selama dua tahun pandemi, otomatis tidak ada pemasukan dan kegiatan perjalanan. Mereka juga terpaksa harus merumahkan satu karyawan admin. Karena mereka memanfaatkan jasa pekerja lepas (freelancer) seperti fotografer maupun sopir jip, beban finansial pun tidak terlalu jeblok.

Saat pandemi, meski tidak ada perjalanan, Kambing Gunung pun tetap mengunggah foto-foto di Instagram mereka. Namun, bukan unggahan jualan wisata. Sebab, menurut Haris, momentumnya tidak tepat. “Yang penting kami posting-posting saja. Kami bahkan adakan giveaway voucer saldo e-wallet saat pandemi untuk aktivasi kami agar tidak tenggelam.”

Haris mengutarakan, per libur Lebaran tahun ini, peminat perjalanan pun membeludak. Ia pun berharap situasi akan terus membaik untuk pariwisata karena banyak juga yang bergantung pada bisnisnya. Termasuk para pekerja lepas yang menjadi mitra Kambing Gunung, dari sopir jip hingga fotografer.

Saat ini, selain perjalanan ke Bromo, Kambing Gunung juga membuka layanan untuk perjalanan ke Sumba dan Labuan Bajo, NTT. Sistemnya juga masih bekerja sama dengan rekanan pekerja lepas yang bisa memandu dan mendokumentasikan perjalanan wisatawan. (M-4)

BERITA TERKAIT