10 August 2022, 20:10 WIB

Pembangunan Metaverse Sekolah Santa Ursula Jakarta Dimulai


Widhoroso |

BEKERJA sama dengan Medusa Technology, Sekolah Santa Ursula Jakarta akan membangun Metaverse Sekolah Santa Ursula. Kerjasama itu ditandai dengan penandatanganan MoU, Rabu (10/8) di Sekolah Menengah Atas Santa Ursula Jakarta. Penandatanganan MoU ini dilakukan Suster Moekti sebagai Ketua III Yayasan Satya Bhakti dengan Medusa Technology.

Suster Moekti mengatakan pembangunan Metaverse Sekolah Santa Ursula berawal dari misi Sekolah Santa Ursula menjadi komunitas pembelajar yang berkarakter Serviam, berwawasan global, dan berbasis teknologi. Dari misi inilah, jelasnya, Sekolah Santa Ursula memutuskan untuk merambah metaverse dan mempersiapkan para guru untuk menghadapi era dunia virtual reality yang berbeda dengan era sebelumnya.

"Harapan kami pada pembangunan Metaverse Sekolah Santa Ursula adalah membantu siswa untuk semakin berkreasi, menjadi makin kreatif dan dapat mengikuti perkembangan zaman atau perkembangan teknologi. Dan untuk para guru supaya menjadikan pembelajaran jadi lebih menarik. Semoga semua pengguna Metaverse Sekolah Santa Ursula dapat menggunakannya dengan bijak, untuk membantu dirinya berkembang secara utuh," kata Suster Moekti.

Selain melakukan pembangunan sekolah virtual dalam bentuk 3-dimensi yang bisa diakses siswa Santa Ursula dari mana pun, Medusa Technology juga memberikan pelatihan cyber pedagogy buat para guru. "Medusa Technology mengkhususkan diri untuk menjadi penyedia metaverse bagi dunia pendidikan, sehingga kami juga memberikan layanan pelatihan bagi guru untuk mempelajari cyber pedagogi, selain itu kami juga memberikan pelatihan gamifikasi belajar di dalam dunia virtual bagi guru-guru Sekolah Santa Ursula,” kata Maria Magdalena, Project Manager pada Medusa Technology.

"Jika bicara tentang metaverse, siswa-siswa ini mengenal metaverse terlebih dahulu dibandingkan orang dewasa. Mereka telah memanfaatkannya untuk berkolaborasi dalam game bersama teman-temannya. Mereka adalah digital native, sehingga dalam bereksplorasi di dalam metaverse pun tidak akan mengalami kesulitan. Orang dewasalah yang sering mengalami kesulitan. Itu sebabnya jika ingin menjangkau mereka dalam aktivitas belajar, kita harus masuk ke dalam dunia mereka," tambah Maria.

Saat ini metaverse sedang trend sebagai media untuk belajar dan berkolaborasi. "Metaverse sudah ada sejak tahun 2000-an, tapi baru booming akhir-akhir ini. Sekitar 2015, mulai banyak kampus-kampus di dunia yang melirik metaverse sebagai tempat belajar, sehingga penggunaan metaverse di sekolah-sekolah Indonesia sangat layak dipertimbangkan," kata Maria.

Sedangkan Komisaris Medusa Technology, Prof. R. Eko Indrajit mengatakan  metaverse sebagai sarana belajar juga memiliki kelebihan dalam hal interaksi antar manusia. Di dalam metaverse, jelasnya, wajah pengguna bisa didigitalisasi untuk membentuk avatarnya.

Dikatakan, selama berinteraksi pun, avatar yang sudah berwajah pengguna itu bisa memiliki ekspresi yang sama dengan manusia yang mengendalikannya. Misalnya, ketika pengguna menghadap ke kanan, avatarnya juga tampak menghadap ke kanan. Dari sinilah interaksi antar pengguna terjadi.

“Nah jika kita pakai zoom dalam belajar daring, ketika video dimatikan kita tidak tahu apakah orang itu masih ada di ruangan tersebut, bisa jadi dia sedang ada di ruang makan. Interaksi belajar jarak jauh pun akan makin menyenangkan, karena siswa merasa seperti main games,” lanjutnya. (RO/OL-15)

BERITA TERKAIT