10 August 2022, 10:26 WIB

Orangtua Wajib Lindungi Anak dari Kejahatan Siber


Basuki Eka Purnama |

PERAN orangtua semakin bertambah di era transformasi digital, salah satunya sebagai garda terdepan agar sang buah hati terlindung dari kejahatan siber.

Selain menyiapkan anak untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial di dunia nyata, kini, orangtua juga wajib menjadi garda terdepan yang memantau dan menuntun anak agar bisa bijak berselancar di dunia digital.

"Orangtua tidak boleh gaptek. Orangtua harus jadi teman yang baik bagi anak dan jadi contoh nyata. Gunakan nada dan kalimat-kalimat yang menyenangkan bagi anak saat memberi tahu," kata Digital Traineer Graphologist Diana Alehteia dalam sebuah webinar, Selasa (9/8).

Baca juga: Orangtua Harus Ajak Anak Berkegiatan untuk Kurangi Kecanduan Gawai

Akibat pandemi covid-19, adaptasi pengguna perangkat teknologi menjadi tinggi tidak hanya di kalangan pekerja tapi juga di kalangan anak-anak.

Kini, setiap anak yang bersekolah, rasanya lekat sekali dengan gawainya akibat kebiasaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia 2022, 71% anak-anak usia sekolah di Indonesia telah memiliki gawai pribadi, 79% di antara mereka bahkan memiliki akses bebas menggunakan gawai selain untuk belajar.

Tidak sedikit yang mengakses hiburan seperti menonton video dan bermain gim, serta menggunakannya juga untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya.

Berkaca dari fakta itu, penting bagi orangtua menjadi garda terdepan bagi anak-anaknya memberikan pemahaman yang tepat agar sang buah hati tidak salah langkah di ruang digital.

Orangtua harus bisa memberikan semacam rambu-rambu, sehingga saat bertutur kata atau bersosialisasi lewat gawai, sang buah hati bisa bijak dan terhindar dari kejahatan siber.

Anak juga harus diberikan pemahaman bahwa ia tidak boleh sembarangan mengungkapkan data-data pribadinya seperti nama lengkap, alamat rumah, tempat tanggal lahir, ataupun hal-hal bersifat privat lainnya agar tidak menjadi korban pencurian data.

Di tengah kondisi pemberian akses bebas kepada gawai, orangtua ada baiknya mengimbangi hal tersebut dengan mengajak anak melakukan kegiatan fisik di luar ruangan.

Sebisa mungkin buat kesepakatan dengan anak terkait penggunaan gawai agar kehidupan mereka bisa seimbang baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Dengan demikian, orangtua tetap bisa menjaga anak mereka tetap cakap sebagai talenta digital namun juga memiliki keseimbangan hidup sebagai mahluk sosial di dunia nyata. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT