08 August 2022, 10:45 WIB

BMKG Dukung Petani dan Nelayan Antisipasi Cuaca Ekstrem


Atalya Puspa |

PERUBAHAN iklim yang tengah terjadi saat ini turut mengancam ketahanan pangan di Indonesia. Berbagai kejadian ekstrem dan bencana hidrometerologi mengakibatkan kegiatan pertanian dan perikanan semakin rentan terganggu, gagal dan bahkan mengancap produktivitas hasil panen dan tangkap ikan.

"Sebagai mata rantai terakhir dari penerima manfaat informasi cuaca dan iklim dan ujung tombak ketahanan pangan, petani dan nelayan perlu didukung oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam mengantisipasi cuaca dan iklim ekstrem yang berdampak pada kegiatan pertanian dan kegiatan melautnya," kata Kepala BMKG Dwikorita Karanwati dalam Rakornas BMKG 2022 bertajuk Peran Info BMKG Dalam Mendukung Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional, Senin (8/8).

Ia mengungkapkan, salah satu upaya yang dilakukan BMKG adalah dengan membuat sekolah lapang, yang diselenggarakan bersama mitra terkait. Sekolah lapang adalah platform yang didesain dan dilaksanakan untuk memfasilitasi literasi petani dan nelayan.

"Melalui sekolah lapang, info BMKG diperkuat dan disebaraluaskan agar dapat lebih dimanfaatkan oleh para petani dan nelayan serta berbagai pihak terkait dalam mendukung kegiatan pertanian dan perikanan secara lebih adaptif produktif dan tangguh," ucap dia.

Dwikorita menegaskan, pengenalan cuaca dan iklim pada nelayan dan petani diharapkan dapat meningkatkan pemahaman petani dalam mensiasati metode dan waktu tanam agar tidak gagal panen. Diharapkan pula para nelayan dapat mensiasati waktu dan penentuan target zona tangkap ikan agar dihasilkan tangkapan yang jauh lebih produktif dengan tetap terjaga keselamatannya dalam berlayar.

"Selain makin meningkatkan kapasitas SDM, teknologi serta daya analitik, pemodelan, prakiraan dan prediksi ataupun proyeksi perubahan iklim dan dampaknya BMKG secara menerus melaksanakan sekolah lapang iklim dan sekolah lapang cuaca nelayan untuk mewujudkan dan mendukung pertanian dan perikanan digital atau pertanian dan perikanan modern," bebernya.

Dalam 10 tahun terakhir, pelaksanaan sekolah lapang iklim telah menjangkau 451 lokasi di tingkat kabupaten di 33 provinsi dan telah melatih 16 ribu peserta.

"Capaian itu sejalan dengan peningkatan pemahaman para penyuluh dan petani tentang informasi iklm untuk pertanian yang berdampak pada luaran hasil produktivitas lahan di mana sekolah lapang iklim dioperasionalkan secara rata2 berhasil meningkatkan sekitar 30% untuk komoditas pangan seperti padi jagung dan hortikultura," ucapnya.

Selain itu, sekolah lapang cuaca nelayan sejak 2016 hingga saat ini sudah memfasilitasi 10.118 perserta di 159 lokasi yang tersebar di 33 provinsi. Dwikorita berharap, pemahaman lebih baik tentang informasi cuaca yang diintegrasikan dengan fishing ground akan membawa perubahan paradigma dari mencari ikan menjadi menangkap ikan sehingga diharapkan dapat meningkatkan keselamatan dan mengurangi risiko kecelakaan di laut akibat faktor cuaca. Sejalan dengan peningkatan pemahaman, kegiatan sekolah lapang cuaca nelayan ini dapat menbingkatkan secara rata2 hasil tangkapan ikan sekitar 20% hingga 30%. (H-1)

BERITA TERKAIT