06 August 2022, 20:26 WIB

Cuti Melahirkan Penting untuk Optimalisasi Pemberian ASI Eksklusif


Mesakh Ananta Dachi |

KETUA Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Naomi Esthernita, mengatakan bahwa dibanding pemberian ASI yang dipompa atau didinginkan, pemberian ASI secara langsung jauh lebih baik, dalam segi nutrisi dan manfaat bagi sang ibu. Oleh karena itu, pihaknya menilai cuti melahirkan adalah hal yang penting untuk memastikan optimalisasi ASI.

“Di Indonesia, cuti melahirkan itu ada 6 bulan, dengan 3 bulan pertama gaji 100%, dan 3 bulan selanjutnya hanya 75%, dalam ILO Convention, hak cuti bagi ibu melahirkan itu sebenarnya 18 minggu dengan gaji 100%. Dan saat ini, hanya 11% negara yang mengikuti standar rekomendasi ini.” ujar dr. Naomi di Jakarta, Sabtu (6/8).

Baca juga: Cegah Stunting dengan ASI Eksklusif 

Tiap tahun, dunia merayakan pekan ASI sedunia yang jatuh pada 1-7 Agustus. Perayaan ini bertujuan untuk mendorong aktivitas menyusui demi kesehatan bayi di seluruh dunia. 

Hadir pada kesempatan itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, dr. Brian Sri Prahastuti mengatakan persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif dalam tiga tahun terakhir menurun.

Brian menyampaikan, jumlah bayi yang mendapat ASI Ekslusif di 2019 sekitar 65,8 persen. Namun jumlah tersebut menurun di 2021 menjadi 52,5 persen dari 2,3 juta bayi berusia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. Brian juga menekankan pentingnya dukungan untuk ibu menyusui, salah satunya yakni memberikan ruang laktasi di tempat-tempat umum.

Di Indonesia, peraturan mengenai ruang laktasi sudah diatur dalam pasal 128 Undang Undang No.39 tahun 2009, mengenai kewajiban pemerintah dalam menyediakan fasilitas berupa ruang dan waktu bagi ibu dalam melakukan aktivitas laktasi. Dengan berbagai syarat berupa ventilasi yang memadai dan bersih, bebas dari populasi.

Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah yang turut hadir dalam kesempatan itu mengatakan pihaknya juga turut mendukung pemenuhan ASI eksklusif ini dapat tercapai.

"Di klinik yang baru buka, biasanya tidak akan diberi izin kalau tidak ada ruang laktasi yang layak. Memang belum semua tempat ada, tapi kita bersama semua stakeholder akan mengusahakan ini bisa kita berikan.” imbuhnya.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan dari keluarga diberikan kepada ibu yang menyusui, salah satunya ketika ASI belum lancar keluar beberapa waktu setelah melahirkan. Dia juga mengingatkan kepada tenaga kesehatan untuk mengutamakan pemberian ASI eksklusif sebagai prioritas.

"Kuncinya adalah kesabaran semua pihak pada hari-hari pertama kehidupan bayi. Karena di situ kalau sudah kemasukan susu formula, bayinya kenyang menyedotnya lemah, kalau nyedotnya lemah ASI produksinya semakin seret," katanya. (Ant/OL-6)

BERITA TERKAIT