05 August 2022, 16:00 WIB

Jadi Juru Masak Andalan McD


Dinda Shabrina |

MURAH senyum dan pekerja keras. Begitulah kesan dari beberapa rekan kerja Restianto, seorang karyawan tuna rungu di McDonald’s Jatiwaringin, Bekasi. Lelaki usia 55 tahun itu rupanya telah bekerja sebagai juru masak di McDonald’s sejak tahun 1995. Kini, di usia yang tidak lagi muda dan jika dihitung-hitung selama 27 tahun lebih ia bekerja, Restianto harus pensiun.

“Beliau termasuk angkatan pertama yang menjadi special crew di McD. Special crew itu pekerja yang berkebutuhan khusus ya. Beliau orangnya pekerja keras sekali. Kalau kerja juga rapi, bersih, cekatan. Termasuk pekerja yang jadi andalan kami pak Anto itu,” kata Rastaurant General Manager McD, Fuad Luth kepada Media Indonesia, Jum’at (30/7).

“Orang seperti dia itu, meski tidak mendengar, tidak bisa berbicara, tapi ketika bekerja itu bagus sekali. Seperti misalnya sedang menggoreng ayam, penggorengan itu kan penandanya kalau sudah matang itu ada bunyinya. Sementara Pak Anto mana mungkin bisa mendengar. Saya cari tahu bagaimana dia bisa tahu kalau sudah matang, ternyata saya perhatikan dia hanya mengandalkan feeling. Dan feelingnya itu selalu tepat. Nggak pernah kejadian ayam gosong di tangan dia,” tutur Fuad.

Baca juga: Perempuan Sumba Timur Jadi Penjaga Budaya Tenun Ikat

Baca jugaSejumlah Jamaah Haji Tertahan Akibat Tak Ikuti Batasan Bagasi

Menurut Fuad, orang-orang seperti Restianto itu memang diberkahi keunggulan dalam hal konsentrasi. Berbeda dengan pekerja pada umumnya, Fuad mengatakan pekerja dengan tuna rungu itu tidak gampang terdistrak ketika mengerjakan sesuatu.

“Kenapa dia bisa bagus banget kerjanya? Karena orang seperti dia itu tidak gampang terdistrak, dia akan fokus dengan pekerjaan dia. Sementara kalau pekerja lain, yang biasa itu, mereka pasti gampang terdistrak sama lingkungan sekitarnya. Dan satu lagi, ingatannya itu tajam sekali,” imbuh Fuad.

Keterbatasan untuk mendengar dan berkomunikasi, diakui Restianto tidak pernah menjadi halangan baginya. Dia mengaku saat bekerja, dia lebih banyak mengandalkan indra pengelihatannya. Semua instruksi yang harus dikerjakan, dibacanya dari monitor.

“Saya memang sangat suka memasak. Terutama menggoreng ayam. Itu menjadi bagian yang paling saya suka. Ketika bekerja saya tidak bisa mendengar instruksi, jadi saya melihat monitor yang ada di dinding,” kata Anto, panggilan akrab Restianto dalam bahasa isyarat.

“Meski saya sempat mengalami kesulitan di awal-awal bekerja, capek banget, karena pekerjaannya cukup berat buat saya saat itu. Namun, setelah dijalani tahun demi tahun saya malah cinta dengan pekerjaan ini,” sambung dia.

Dalam kesehariannya, Anto juga dikenal humble dan senang bercengkerama dengan teman-teman kerjanya. “Saya suka dijahilin. Tapi saya kalau lagi iseng juga jahilin balik,” tutur dia sembari tertawa.

Sri, adik kandung Anto yang saat itu menemani juga mengatakan kakaknya itu bukan hanya pekerja keras di tempat kerja. Tetapi di rumahnya pun, selalu ada saja yang dikerjakan Anto.

“Dia ini nggak mau diem memang. Ada aja yang dikerjain. Ya nyapu lah, ngepel lah, sampe bersih banget rumah sama dia. Terus dia juga suka masak. Jadi masak bukan cuma buat kerjaan aja. Di rumah juga masak dia,” ungkap Sri.

Di pengujung di mana Anto akan pensiun dari McD, ia mengaku sangat sedih karena harus melepas pekerjaan yang dicintainya itu. Ia juga harus berpisah dengan rekan-rekan kerjanya yang selama ini sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri.

“Saya sedih sekali. Biasanya setiap pagi sampai sore bekerja sama mereka. Tapi sekarang harus berpisah. Saya berharap kita tetap jadi saudara. Komunikasinya tetap terjalin,” ujar dia.

Meski nanti tidak lagi bekerja sebagai juru masak, Anto mengatakan ia punya rencana akan membuka warung makan sendiri. Dia juga menyebut menu utama yang akan dijual ialah ayam goreng. “Saya mau jualan ayam goreng, biar bisa nyaingin McD,” pungkas Anto sembari bersoloroh. (H-3)

BERITA TERKAIT