05 August 2022, 04:45 WIB

Ayo Mengenal Pertempuran Ambarawa


Mesakh Ananta Dachi |

PERJUANGAN kemerdekaan Indonesia, bukanlah sebuah proses yang mudah. Dibutuhkan perjuangan dan juga pengorbanan besar untuk mencapai hal itu. 

Tiap perang, baik yang tercatat dan maupaun tidak tercatat, setiap kematian dengan nisan yang diberi nama dan tidak, menjadi alasan Indonesia kini terbebas dari penjajahan. Salah satu pertempuran yang paling dikenang adalah pertempuran Ambarawa, selepas proklamasi.

Latar belakang Pertempuran Ambarawa

Pertempuran Ambarawa dilatarbelakangi oleh kedatangan pasukan Sekutu, yang dipimpin Brigadir Bethell, pada 20 Oktober, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Kedatangan pasukan Sekutu itu untuk mengurus tawanan perang dari Jepang dan mengevakuasi pasukan Sekutu. 

Baca juga: Ini Usulan Dasar Negara dari Soekarno, Soepomo, dan Muh Yamin di Sidang BPUPKI

Awalnya, kedatangan pasukan Sekutu tersebut diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

Namun, penolakan dan perlawanan terjadi saat masyarakat mengetahui bahwa pasukan Sekutu membawa NICA (Netherland Indies Civil Administration) atau yang dikenal sebagai pemerintah Hindia Belanda, yang bertujuan membebaskan pasukan Belanda dan kembali menguasai Indonesia.

Selain itu, pasukan sekutu dan juga NICA melucuti senjata TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Tentara Keamanan Rakyat dari Resimen I Kedu pimpinan Letkol M Sarbini juga membalas tindakan tersebut dengan cara mengepung tentara Sekutu dari berbagai penjuru. Namun, pertempuran yang lebih besar bisa dicegah saat itu karena adanya dialog antara Presiden Soekarno dan Bethell.

Namun, dialog tersebut tidak menghentikan pertempuran sepenuhnya. Tepatnya, pada 23 November 1945, saat matahari mulai terbit, dimulailah tembak-menembak dengan pasukan Sekutu yang pada akhirnya bertahan di kompleks gereja serta kerkhof Belanda di Jl Margo Agoeng. Pasukan Indonesia pada saat itu terdiri dari Yon Imam Adrongi, Yon Soegeng. dan Yon Soeharto.

Tokoh Pertempuran Ambarawa

Dari pihak sekutu, pasukan dipimpin oleh Brigadir Bethell. Pasukan Indonesia pada saat itu yang terlibat adalah Letkol M Sarbini dan Letkol Isdiman, yang tewas di medan pertempuran, yang merupakan orang kepercayaan dari Jenderal Soedirman. Soedirman, pascakematian Letkol Isdiman langsung turun ke medan perang. (OL-1)

BERITA TERKAIT