04 August 2022, 11:52 WIB

Butuh Pemanfaatan Teknologi dalam Upaya Pelestarian Satwa Liar


 Atalya Puspa |

INDONESIA merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati. Pembagian bioregion di Indonesia didasarkan pada bio geografi flora dan fauna yang tersirat oleh adanya garis Wallace, garis Webern, dan garis Lydekker.

Namun, pada kondisi saat ini, khususnya perubahan iklim, banyak tantangan yang dihadapi untuk mengelola keanekaragaman hayati, khususnya pelestarian satwa liar.

"Saya sangat khawatir dengan adanya perubahan iklim. badak, bekantan, orang utan, dan satwa liar lainnya, agar mereka existing, mereka butuh pohon, butuh ekosistem agar mereka bisa bertahan hidup," kata Ahli Konservasi Alam dan Pengelolaan Margasatwa Prof.Dr. Hadi Sukadi Alikodra dalam webinar bertajuk Restorasi Ekosistem untuk Pelestarian Satwa Liar, Kamis (4/8).

Adanya perubahan iklim, kata dia, mengakibatkan banyaknya kejadian yang dapat merusak alam. Mulai dari kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, berkurangnya sumber air, matinya tumbuhan, dan sebagainya.

Untuk melestarikan satwa, kata dia, tidak cukup hanya mempelajari pola satwa itu. Namun, restorasi alam menjadi penting agar satwa bisa tetap bertahan hidup.

"Untuk itu, kita harus maju dengan teknolgi dan mencari cara agar spesies tetap bertahan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Ini harus dilakukan secara cepat," ucap Hadi.

Baca juga: Ribuan Spesies Terancam Punah, Masyarakat Diajak Selamatkan Satwa Liar

"Restorasi ekosistem landscape. Itu yang penting. Tapi saat ini Indonesia sudah sangat luar biasa. Karena negara-negara di Asia sudah banyak yang belajar dari kita. Jadi kita sangat luar biasa. Kita punya banyak spesies endemik dan Insya Allah kita akan terus berkembang," pesan dia.

Pada kesempatan itu, Pendiri Rangkong Indonesia Yoyok Hadiprakarsa mengakui, upaya pelestarian satwa liar bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dan keanekaragaman hayati yang sangat beragam.

"Tantangannya adalah, dari 270 juta jiwa masyarakat yang ada, berapa banyak sih yang bekerja untuk konservasi? Itu yang menjadi tantangan kita," ucap dia.

Namun, untuk menjawab tantangan itu, ada satu hal yang dapat dilakukan dalam upaya restorasi ekosistem untuk pelestarian satwa liar, yakni dengan melakukan pemodelan spasial.

"Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran, mengetahui proyeksi seperti deforestasi dan implikasinya pada satwa liar," ucap dia.

"Tapi pemodelan spasial hanya alat bantu. Kita harus mengetahui subjek dari yang akan kita kerjakan. Karena ini adalah pemodelan matematis jadi kita harus mengetahui apa yang akan kita kerjakan di tengah ketidakpastian," imbuh Yoyok. (Ata/OL-09)

BERITA TERKAIT