03 August 2022, 08:05 WIB

Ancaman Megathrust, BMKG Dorong Pembentukan Komunitas Siaga Tsunami di Pantai Selatan Jawa


Syeha Alhaddar |

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendorong Sekolah Lapang Gempa untuk membentuk komunitas siaga tsunami di masing-masing desa pesisir sebagai mitigasi terhadap potensi gempa megathrust 8.7 M disertai tsunami di sepanjang Pantai Selatan Jawa.

“Penting bagi pemerintah daerah merencanakan tata ruang pantai berbasis risiko tsunami yang bersumber dari pemodelan bahaya tsunami hasil kajian dari BMKG,” ujar Daryono, Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Tsunami BMKG dalam pernyataannya.

Selain itu, sambungnya, pemerintah daerah juga disarankan untuk memberikan pemahaman evakuasi mandiri untuk masyarakat pesisir, latihan evakuasi (drill) secara berkala, menyiapkan dan memasang jalur evakuasi yang layak dengan jumlah yang memadahi dan membangun titik kumpul yang aman.

Dalam hal ini BMKG juga telah menempatkan peralatan penerima informasi gempa dan peringatan dini tsunami WRS NewGen di pemeritah daerah (BPBD). Sistem Peringatan Dini Tsunami diakui BMKG dalam kondisi siap dengan performa sehat dan handal.

“Potensi gempa megathrust adalah nyata karena berdasarkan sumber gempanya, sejarah kejadian gempa dan tsunami masa lalu, dan aktivitas kegempaan terkini. Hanya saja kita belum dapat memprediksi kapan terjadinya gempa, untuk itu dalam ketidakpastian kapan terjadi gempa maka kita masih memiliki waktu untuk menata dan merencanakan mitigasi,” tambahnya

Adapun diketahui Potensi gempa 8.7 Magnitudo (M) di sepanjang Pantai Selatan Jawa dari Jawa Timur hingga Banten disebabkan oleh keberadaan sumber gempa potensial di Zona Megrathrust selatan jawa. Seperti segmen megathrust Jawa Timur, segmen megathrust Jawa Tengah dan Jawa Barat, segmen megathrust Banten dan Selat Sunda.

Di zona ini Lempeng Indo-Australia menyusup atau menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dimana Pulau Jawa bertengger.

Gempa megathrust sendiri terjadi karena adanya perlambatan proses penunjaman lempeng (slip deficit) pada bidang kontak hingga terjadi penguncian (locking) yang menyebabkan terjadinya akumulasi medan tegangan (stress) batuan dan jika tegangan yang terakumulasi ini melampaui batas elastisitas batuannya maka akan terjadi patahan batuan secara tiba-tiba dengan pelepasan energi yang dimanifestasikan sebagai guncangan gempa kuat. (H-2)

 

BERITA TERKAIT