30 July 2022, 23:05 WIB

Pondok Pesantren Al Hikmah Bogor Berbagi Ilmu Budi Daya Maggot BSF


mediaindonesia.com |

DALAM rangka pelaksanaan pengelolaan sampah, Pondok Pesantren Qur’an Al-Hikmah Kampung (Kp) Kramat Desa Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat berbagi tips dalam pengelolaan sampah melalui budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF) kepada beberapa perwakilan Institusi yang berkunjung ke pesantren.

Adapun beberapa institusi tersebut seperti Universitas Trisakti Jakarta, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Universitas Terbuka, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi .

Saat tiba di Pondok Pesantren Qur’an Al-Hikmah, pengasuh pondok pesantren Qur’an Al-Hikmah, Kp Kramat Desa Pabuaran Kecamatan Kemang yakni Ustadz Irfan Miftah dan jajarannya menyambut dengan hangat kunjungan yang dilakukan oleh beberapa institusi tersebut.

Ustad Irfan Miftah mempersilahkan kepada seluruh tamu yang berkunjung untuk berdiskusi di ruangan aula pondok pesantren.

Dalam sambutannya, ustadz Irfan Miftah menyambut baik kunjungan tersebut dan menjelaskan bahwa pada awalnya pondok pesantren kesulitan dalam mengelola sampah organik. 

"Sekarang pondok pesantren sudah tidak memiliki masalah lagi tentang sampah organik karena telah dikelola melalui budi daya maggot BSF," jelas ustad Irfan dalam keterangan pers, Sabtu (30/7) .

Dalam diskusi tersebut, ustad Muhtar selaku penanggung jawab kegiatan pengelolaan sampah memaparkan rahasia keberhasilan pengelolaan sampah melalui budi daya maggot BSF.

Dalam pelaksanaan pengelolaan sampah berkoordinasi dengan seluruh ustad dan pengurus kamar santri untuk bersinergi dalam menyelesaikan masalah sampah.

Lebih lanjut, ustad Muhtar juga menjelaskan bahwa pada awalnya belum mengenal mengenai cara penyelesaian sampah terutama yang berasal dari sampah sisa makanan dan sisa dari dapur.

Akan tetapi setelah menerima arahan dan bimbingan pengetahuan dari tim yang berasal dari Fakultas Teknik Universitas Pancasila. pondok pesantren dapat menyelesaikan masalah sampah sisa makanan dan sisa dari tersebut melalui budi daya maggot BSF.

Baca juga: Urus Sampah, Polisi di Pulau Pinang Raih Kalpataru 2022

Menyambung paparan tersebut, Dr Dino Rimantho dari Fakultas Teknik Universitas Pancasila selaku peneliti dan mentor budi daya maggot BSF di Pondok Pesantren Qur’an Al-Hikmah menyatakan bahwa pengelolaan sampah organik berupa sisa makanan dan sisa proses dari dapur melalui budi daya maggot BSF merupakan salah satu alternatif yang tepat selain melalui proses pembuatan kompos.

Lebih lanjut, Dino menjelaskan bahwa budi daya ini dapat dilakukan dalam skala yang kecil hingga skala industri dan dapat memberikan manfaat bagi dari perspektif lingkungan, sosial dan ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Setelah berdiskusi selanjutnya para tamu meninjau secara langsung ke lokasi budi daya maggot BSF.

Para pengujung banyak melakukan tanya jawab secara langsung untuk mendapatkan informasi yang dapat diaplikasikan di daerah yang lain.

Secara terpisah, beberapa kesan yang disampaikan oleh para pengunjung terkait pengelolaan sampah melalui budi daya maggot BSF.

Salah satu dosen dari Universitas Lambung Mangkurat, Dr.Yunandar menyampaikan kesannya bahwa budi daya maggot BSF tergolong relatif murah, mudah di aplikasikan, menginspirasi dan bernilai ekonomi.

Sementara itu, Dr. Dian dari KLHK menyampaikan kunjungan ke pengembangan maggot di  Pondok Pesantren Al Hikmah, Kemang, Bogor memberi gambaran bahwa penanganan food waste dapat dilakukan secara menyenangkan, tidak kotor, tidak bau, dan tidak menjijikan.

Penanganan sampah dengan magot tidak membutuhkan biaya besar bahkan tanpa biaya hanya dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitar.

Selain itu, ada manfaat ekonomi tambahan yang dapat diambil dari pengembangan berbagai produk berbasis maggot.

Sementara itu, Dr. Winnie Septiani dari Universitas Trisakti mengatakan bahwa pengelolaan sampah rapih, bersih dan ekonomis cocok untuk masyarakat.

 Selain itu, budi daya maggot-nya dibuat sederhana dan praktis tapi menggunakan  teknik dan ilmu.

"Semoga bisa teintegrasi dengan pengelolaan sayur, ternak dan lainnya untuk meningkatkan manfaatnya bagi pesantren," katanya.

Pada akhir acara kunjungan tersebut, Dino berharap bahwa hasil dari kunjungan untuk mengetahui budi daya maggot BSF dapat diaplikasikan di lokasi yang lain agar dapat memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat dan dapat mengurangi potensi pencemaran lingkungan.(RO/OL-09)

BERITA TERKAIT