26 July 2022, 17:15 WIB

Dukung Promosi Pariwisata Lewat Narasi di Platform Digital


Faustinus Nua |

Hadirnya dunia digital dengan berbagai kelebihan dan manfaatnya yang luar biasa perlu dimaksimalkan untuk mendukung pembangunan nasional. Di sektor pariwisata yang terdampak parah karena pandemi covid-19, promosi secara digital bisa menjadi solusi.

Direktur Pemberitaan Media Indonesia Gaudensius Suhardi mengatakan bahwa hampir semua negara mengalami persoalan yang sama karena pandemi. Untuk keluar dari krisis, khususnya terkait pariwisata maka jawabannya adalah mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan asing.

"Jika kita mau mendatangkan wisatawan asing, bagaimana cara kita menarik minat mereka? Pada titik ini sangat dibituhkan apa yang namanya digital," ujarnya dalam Talk Show 'Strategi Kolaborasi Bisnis Digital Pariwisata melalui Digitalisasi', yang digelar oleh Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti, Selasa (26/7).

Menurutnya, digital memudahkan informasi masuk ke ruang publik. Bahkan keunggulan digital bisa sampai pada ruang privat.

Akan tetapi, Gaudensius mengatakan bahwa digital hanyalah platform. Tanpa narasi yang kuat, maka digital itu tidak bisa memberi informasi atau menarik minat masyarakat terkait destinasi wisata.

"Digital itu tidak bisa hidup di ruang hampa, dia selalu bergantung pada isi atau kontenya. Kita membicarakan promosi pariwisata di digital, itu tentu saja bicara daerah tujuan wisatanya. Akan tetapi lebih besar dari itu, wisata itu adalah narasi itu sendiri. Borobudur hanya seonggok bangunan tapi di balik itu ada filosofi. Bagaimana mendeskripsikan Borobudur itu? Itulah yang disebut narasi," terangnya.

Gaudensius pun menekankan pada pentingnya dunia pendidikan untuk mendukung promosi pariwisata secara digital. Mahasiswa di STP Trisakti dan perguruan tinggi lain perlu dibekali kemampuan komunikasi

"Cara penyampaian itu adalah bagian menarik yang mestinya diajari di perguruan tinggi. Atau dengan kata lain teknik komunikasi perlu diberikan kepada mahasiswa karena itu juga persoalan yang selalu dikeluhkan dunia kerja. Mampu bekerja tapi tidak mampu berkomunikasi itu persoalannya," sambungnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa dari kacamata media atau pers, pariwisata bukan sekadar keindahan alam. Sebab, alam merupakan sebuah pemberian. Persoalan yang dihadapi dan harus diperjuangkan adalah bagaimana pariwisata dinikmati oleh rakyat.

Misalnya di daerah wisata super prioritas, pembangunan pariwisata justru lebih menguntungkan perusahaan luar. Sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. "Ini yang menjadi persoalan yang sangat serius yang mestinya juga disuarakan juga oleh lembaga-lembaga pendidikan terkait dengan penentuan daerah tujuan pariwisata yang tidak melibatkan aspirasi masyarakat," kata dia.

"Jangan sampai pembangunan pariwisata mengeliminasi masyarakat lokalnya. Dalam kaitan itu peran jurnalistik di situ sebenarnya. Digital itu adalah platformnya tetapi kontennya itu menyangkut teks dan itu kadang-kadang kita dijauhkan dari konteks," imbuhnya.

Gaudensius pun berharap STP Trisakti tetap memperjuangkan amanah Trisakti. Trisakti tidak hanya kedaulatan ekonomi dan politik tetapi juga budaya. Dan budaya itu menyangkut pariwisata juga. Bagaimana budaya yang hidup di masyarakat juga dipromosikan lewat digital.

CEO - Co Founder TRIPWE, Sofian Lusa mengungkapkan bahwa transformasi digital sudah banyak dibicarakan. Hal ini sangat penting untuk mengembangkan bisnis di era industri 4.0 ini.

Di sektor pariwisata, pemanfaatan digital merupakan keharusan. Mau tidak mau semua orang yang terlibat di dalam sekrto tersebut harus terus meng-update atau mengikuti perkembangannya.

"Pariwisata kalau tidak diadaptasi dengan teknologi sebagai motornya itu akan ketinggalan," ucapnya.

TRIPWE yang bergerak di sektor pariwisata pun melihat digital sebagai potensi pengembangan bisnis. Meski beradaptasi dengan dunia digital tidak mudah dan sangat dinamis, harus diakui bahwa digital mebajdi andalan saat ini. "Harus realistis bahwa pandemi ini juga membuat orang bergantung pada teknologi," kata Sofian.

Sementara itu, alumni STP Trisakti Trias Fajar Anugrah mengungkapkan bahwa sebagai pelaku seni, digitalisasi menjadi tantangan baru sekaligus peluang. "Saya melakukan pekerjaan musik yang sekarang sudah masuk digital," ucapnya.

Dia mencontohkan K-POP Korea sebagai bentuk promosi budaya yang benar-benar mencapai puncaknya dengan memaksimalkan platform digital. Hal itu perlu menjadi contoh bagi Indonesia untuk mempromosikan budayanya seperti musik dangdut ke berbagai negara yang sekaligus meningkatkan minat asing datang ke Indonesia. (OL-12)

BERITA TERKAIT