22 July 2022, 13:15 WIB

Hadapi Puncak Musim Kemarau, KLHK Intensifkan Penanganan Karhutla di Sejumlah Daerah


Atalya Puspa |

INFORMASI dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia telah memasuki musim kemarau dan akan berlangsung hingga Oktober 2022. Berkaitan dengan itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meminta semua pihak untuk besiap dan meningkatkan upaya untuk penanggulangan karhutla.

"Penurunan potensi hujan ini, akan menyebabkan peningkatan kerawanan karhutla, waspadai puncaknya mulai Agustus dan September 2022 hingga akhir 2022," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Basar Manullang saat dihubungi, Jumat (22/7).

Ia menyatakan, sebagai langkah antisipasi karhutla pemerintah telah melaksanakan upaya-upaya pengendalian karhutla di wilayah rawan karhutla meliputi Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur serta wilayah rawan lain di Indonesia termasuk di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan data KLHK, Hingga Juli 2022 kejadian kebakaran telah terjadi di 59.131 hektare hutan dan lahan. Adapun, yang tertinggi terjadi di Kalimantan Barat yakni 12.461 hektare, Sumatra Barat 9.159 hektare, Nusa Tenggara Timur 9.718 hektare, Lampung 4.204 hektare dan Papua 3.176 hektare.

Basar menjelaskan, upaya-upaya yang dilakukan antara lain dengan melaksanakan rapat koordinasi khusus yang dipimpin langsung oleh Menkopolhukam yang dihadiri oleh pimpinan kementerian/lembaga dan gubernur beberapa provinsi rawan karhutla.

"Selain itu, mendorong pemerintah daerah terutama di wilayah rawan karhutla untuk terus meningkatkan kewaspadaannya, serta mengedepankan upaya pencegahan dalam melakukan pengendalian karhutla," ucap Basar.

Upaya lainnya yakni memperkuat koordinasi antar stakeholder terkait pengendalian karhutla dari tingkat pusat, daerah hingga ke tingkat tapak serta peningkatan sistem deteksi dini dan monitoring hotspot melalui website www.sipongi.menlhk.go.id.

"Menggiatkan patroli pencegahan karhutla, baik patroli mandiri yang dilakukan Manggala Agni maupun patroli terpadu yang beranggotakan tim yang terdiri dari Manggala Agni bersama anggota POLRI, TNI, tokoh masyarakat dan Masyarakat Peduli Api (MPA) sepanjang tahun," ucap dia.

Selain itu, dialkukan pula penyadartahuan pencegahan karhutla melalui sosialisasi dan kampanye secara langsung ataupun melalui media, termasuk juga menggandeng organisasi keagamaan dalam kampanye pencegahan dan peningkatan peran serta masyarakat melalui MPA dan MPA-Paralegal yang berkesadaran hukum.

Upaya lainnya yang dilakukan ialah melakukan operasi teknologi modofikasi cuaca (TMC) . Operasi TMC diprioritaskan di wilayah provinsi yg kawasn gambut yg luas untuk mempertahankan tinggi muka air tanah (TMAT), dengan demikian TMC belum ada rencana untuk dilaksankan di NTT.

"Kemarin (21/7) TMC sudah mulai dilaksanakan kembali di Provinsi Riau yang rencananya dilaksanakan selama 11 hari. Sebelumnya juga telah dilaksanakan kegiatan TMC pada periode I yang dilaksanakan pada 14 April – 25 April 2022. Pada periode I tersebut kegiatan TMC telah berhasil mempertahankan kelembapan lahan gambut dan menurunkan jumlah hotspot yang terjadi di wilayah Provinsi Riau," pungkas Basar.

Dihubungi terpisah, Guru Besar IPB University Bambang Hero Saharjo mengungkapkan kejadian karhutla di 2022 bisa ditekan semaksimal mungkin dibanding tahun-tahun sebelumnya dengan upaya yang maksimal. Ia mengimbau kepada pemerintah agar jangan sampai kejadian karhutla terus meluas dan berlangsung lama karena penanganan yang tidak optimal. Penanganan karhutla tidak cukup hanya jargon dan seremonial tapi benar-benar harus dilakukan di lapangan," tegas bambang.(H-1)

BERITA TERKAIT