10 July 2022, 13:44 WIB

Gempa Bumi Lumajang tak Timbulkan Kerusakan dan Korban Jiwa


Atalya Puspa |

GEMPA bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 5.4 terjadi di selatan Pulau Jawa bagian timur, Sabtu (9/7) pukul 03.17 WIB. Menurut hasil monitoring Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi itu berpusat di 9.64 LS-112.91 BT pada kedalaman 10 kilometer.

Berdasarkan catatan BMKG per pukul 22.00 WIB, sudah ada 68 kali aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock dengan magnitudo terbesar yakni M 5.0. Dari keseluruhan kejadian fenomena gempa bumi itu, BMKG memastikan gempa bumi tidak berpotensi tsunami.

"Hasil monitoring di lapangan oleh BPBD Kabupaten Lumajang dan BPBD Kabupaten Malang, yang menjadi teritori wilayah terdampak guncangan gempa bumi menyatakan tidak ada kerusakan yang ditimbulkan. Laporan mengenai korban jiwa juga nihil," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan resmi, Minggu (10/7).

Ia menyatakan, berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang kepada Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sebagian besar masyarakat di Kabupaten Lumajang sontak terbangun dan berhamburan ke luar rumah saat guncangan gempabumi yang berlangsung selama 2-3 detik itu.

Kurang dari tiga jam setelah gempa bumi M 5.4 itu, BMKG mengeluarkan informasi gempa bumi lagi pada pukul 05.50 WIB. Untuk kali kedua ini, gempa bumi tercatat berkekuatan M 5.0 dan berpusat di 9.57 LS-113.93 pada kedalaman 10 kilometer. Tidak ada guncangan yang dirasakan oleh masyarakat untuk gempa bumi susulan tersebut.

Baca juga: Pasokan Obat PMK Tersendat, 6 Sapi di Lumajang Mati dalam Seminggu

Pada pukul 09.53 WIB, seismograf BMKG kembali merekam adanya getaran gempa bumi. Kali ketiga ini, gempa bumi berkekuatan M 5.3 dan terdeteksi di titik 9.61 LS-112.91 BT pada kedalaman 42 kilometer. Menurut BPBD Kabupaten Lumajang, getaran gempa bumi yang ketiga sempat dirasakan selama 1-2 detik, namun tidak menimbulkan kepanikan warga.

Hasil analisis sementara oleh BMKG, tiga rentetan kejadian gempa bumi itu adalah jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thurst fault.

Berdasarkan indeks kajian risiko gempa bumi dari InaRisk BNPB, wilayah selatan Pulau Jawa memiliki tingkat risiko sedang hingga tinggi. Wilayah selatan Pulau Jawa juga telah diketahui dilalui lempeng Indo-Australia yang membentang dari ujung Pulau Sumatra bagian barat hingga perairan Maluku Tenggara, sebelum akhirnya bertemu dengan lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik.

"Melihat dari kajian risiko tersebut, BNPB meminta agar pemangku kebijakan, masyarakat dan seluruh komponen di tiap-tiap daerah selalu meningkatkan kesiapsiagaan, kewaspadaan dan melakukan mitigasi bencana gempabumi serta tsunami, sehingga dampak dari kerusakan maupun korban jiwa dapat diminimalisir," tuturnya.

Di samping itu, BNPB berharap agar Desa Tangguh Bencana (Destana) Gempa bumi dan Tsunami yang telah dibentuk sejak 2019 lalu di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa dapat terus menjadi pelopor ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Abdul menegaskan, fenomena gempa bumi memang tidak membunuh, namun beberapa peristiwa jatuhnya korban jiwa adalah dikarenakan terdampak reruntuhan bangunan saat terjadi guncangan gempa bumi yang kuat.

"Untuk itu penguatan struktur bangunan terutama tiang rumah dan struktur atap perlu dilakukan secara bertahap, baik secara mandiri maupun didukung oleh dana desa," pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT