06 July 2022, 14:45 WIB

BKKBN, Kemendagri, dan Tanoto Foundation Bekerja Sama Percepat Penurunan Stunting


mediaindonesia.com |

STUNTING adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan tidak mendapatkan stimulasi psikososial yang cukup terutama yang terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kehidupan).

Dampaknya, kemampuan kognitif anak menurun sehingga memengaruhi kapasitas belajar pada usia sekolah, nilai, dan prestasi anak.

Menurut berbagai penelitian, anak yang mengalami stunting berpeluang mendapatkan penghasilan 20% lebih rendah dari anak yang tidak stunting di saat dewasa.

Selain itu, stunting juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, dan stroke kelak ketika sang anak dewasa.

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, prevalensi anak Indonesia di bawah usia lima tahun yang mengalami stunting yaitu 24,4%, yang artinya sekitar 7 juta balita Indonesia mengalami stunting.

Prevalensi stunting ini telah menunjukkan penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.Namun demikian, Indonesia masih punya tugas yang cukup banyak dalam melawan stunting guna mewujudkan Generasi Emas 2045.

Baca juga: BKKBN Dorong KB Pascapersalinan Guna Tekan Prevalensi Stunting

Hal tersebut muncul dalam pembahasan pada Webinar Nasional: Generasi Bebas Stunting dengan tajuk Pembelajaran dari Daerah dalam Percepatan Penurunan Stunting yang diselenggarakan di Medan, Sumatra  Utara, Rabu (6/7), bentuk kerja samaTanoto Foundation dengan BKKBN dan Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri.

Kepala BKKBN Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menjelaskan, “Pesan khusus Presiden Joko Widodo bahwa keluarga-keluarga muda harus menjadi perhatian utama."

"Karena, keluarga-keluarga muda lah yang masih akan hamil dan akhirnya bisa melahirkan anak-anak yang stunting. Stunting menjadiancaman kualitas generasi muda dan kualitas bangsa kita. Maka stunting harus kita turunkan secara bersama-sama,” papar Hasto.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian yang diwakilkan oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kemendagri, Teguh Setyabudi menambahkan.

“Pada dasarnya memperkuat kelembagaan mulai di tingkat pusat dan daerah, memberikan kuasa penuh Pemerintah Daerah dalam mengambil langkah-langkah aksi konvergensi guna Percepatan Penurunan Stunting. Sehingga resolusi mencapai  target Nasional sebesar 14% pada tahun 2024 dapat terealisasi,” jelas Teguh.

Tanoto Foundation, organisasi filantropi independen di bidang pendidikan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto, berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam upaya percepatan penurunan angka stunting.

CEO Global Tanoto Foundation J. Satrijo Tanudjojo menekankan pentingnya semangat kerja sama antara berbagai pihak dalam menekan angka stunting di Indonesia.

“Kami di Tanoto Foundation percaya bahwa peran multi sektor sangat penting bagi keberhasilan program percepatan penurunan angka stunting. Kolaborasi dengan konsep penta-helix, antara pemerintah pusat dan daerah, dari hulu ke hilir, secara bersama-sama dengan dukungan dari pihak swasta, akademisi, media, serta masyarakat diharapkan dapat mewujudkan generasi dengan anak-anak Indonesia bebas stunting,” kata Satrijo.

Sejauh ini Tanoto Foundation telah bekerja sama dengan Wold Bank dalam mendukung implementasi program INEY (Investing in Nutrition and Early Years), kampanye perubahan perilaku bersama UNICEF, dan pengembangan kapasitas Kader Pembangunan Manusia bersama Kementerian Desa, PDT, & Transmigrasi.

Kerja sama lainnya berupa peningkatan kapasitas Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan bersama Kementerian Sosial, pelatihan Tim Pendamping Keluarga bersama BKKBN, pendampingan dalam penyusunan serta implementasi strategi Komunikasi Perubahan Perilaku dan delapan aksi konvergensi di tingkat provinsi dan kabupaten atau kota bersama TP2AK/Setwapres dan Kementerian Kesehatan, serta beberapa program lainnya.

Seri Webinar Nasional: Generasi Bebas Stunting iniakan berlangsung hingga Oktober 2022, melibatkan Pemerintah Daerah dari 514 Kabupaten/Kota.

Dengan penggunaan metode peer-to-peer learning, seri webinar yang dijalankan inibertujuan untuk membagikan pembelajaran dari antar-daerah terkait dengan program percepatan penurunan stunting. (RO/OL-09)

 

BERITA TERKAIT