02 July 2022, 13:15 WIB

Dosen IPB Ingatkan Proses Penyembelihan Berpotensi Timbulkan Pencemaran Wabah PMK


Atalya Puspa |

INDONESIA masih dilanda wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) menjelang hari raya Idul Adha. Berkaitan dengan itu, Dosen IPB University dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) Herwin Pisestyanti mengingatkan proses penyembelihan merupakan titik kritis dalam penyediaan stok daging yang aman, sehat dan halal. Hal itu dilakukan supaya penyebaran virus PMK ke wilayah rentan maupun yang belum terjangkiti dapat dihindari.

“Penyembelihan ini juga dapat berpotensi menimbulkan cekaman, kesakitan dan pencemaran yang harus diminimalisir. Hewan kurban harus diberi perlakuan, petugas penyembelih harus bersikap ihsan sehingga dapat menghasilkan daging halal dan thoyyib,” ujarnya dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu (2/7).

Petugas penyembelih dan masyarakat, katanya, harus senantiasa waspada pada penyebaran zoonosis. Terutama Indonesia ini masih belum terbebas dari pandemi covid-19. Selain waspada terjadi penambahan kasus PMK, penambahan kasus covid-19 juga patut dijaga bersama.

Ia menyebutkan kejadian stres pada hewan kurban lumayan tinggi pada proses penyembelihan. Jika stres hewan dan higienitasnya tidak diperhatikan, maka akan terjadi pencemaran pada daging dan sekitar lokasi penyembelihan. Menurutnya, perlu pemeriksaan sebelum pemotongan 24 jam sebelumnya atau pemeriksaan antemortem.

Dalam hal ini, SKHB IPB University turut turun tangan membantu Pemerintah DKI Jakarta dalam pemeriksaan hewan kurban.

“SKHB IPB University menurunkan mahasiswa untuk membantu petugas pemeriksaan hewan kurban di DKI Jakarta. Hal ini mungkin dapat membantu masyarakat langsung dalam penyediaan daging ASUH,” tutur Herwin.

Baca juga: Satpol PP Semarang Bongkar Lapak Pedagang Jual Hewan Kurban Terpapar PMK

Ia menambahkan, selain harus memenuhi persyaratan hewan kurban yang sah, faktor stres pada hewan juga dapat mempengaruhi kualitas daging. Sehingga harus ada penyuluhan kepada masyarakat mulai dari proses loading dan unloading, penggiringan, perubuhan dan penyembelihan yang baik.

“Tempat penampungan hingga penyembelihan juga harus sesuai persyaratan dan dapat menyediakan lingkungan yang nyaman bagi hewan,” imbuhnya.

Selain itu, lanjutnya, pemeriksaan kondisi fisik hewan secara berkala wajib dilakukan. Lebih baik lagi bila hewan tersebut memiliki SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan).

Bila hewan ditemukan sakit, wajib dilaporkan ke petugas dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) dan meminta nomor kontak dari dinas.

“Pemeriksaan post mortem setelah hewan disembelih juga wajib dilakukan. Hal ini penting karena terdapat penyakit yang tidak terlihat ketika dilakukan pemeriksaan antemortem,” tutup dia.(OL-5)

BERITA TERKAIT