01 July 2022, 17:51 WIB

Seniman Silat Dharmasraya Berbagi Ilmu ke Pemuda di Program Belajar Bersama Maestro 2022


Mediaindonesia.com |

DIREKTORAT Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menggelar kegiatan Belajar Bersama Maestro (BBM) di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat.

Program itu memberikan kesempatan istimewa kepada puluhan pegiat seni budaya dari Sumatra Barat, Riau dan Jambi untuk berguru langsung dengan seorang Maestro pencak silat legendaris Silek Pingian selama seminggu.

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbudristek, Judi Wahjudin mengatakan, BBM adalah program pembelajaran di mana sejumlah pegiat seni budaya muda akan belajar dan bertukar pengetahuan deengan tokoh seni budaya (Maestro) yang memiliki pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan keterampilan yang mendalam. 

Pada 2022, BBM dilaksanakan di 12 tempat dengan 12 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Salah satu tempat penyelenggaraan BBM tahun ini adalah Dharmasraya dengan OPK Silek Pingian dan maestro Zainir Dato’ Mangku yang merupakan keturunan guru keempat atau pemimpin generasi keempat dari Perguruan Silek Pingian Rantau Batanghari. 

"Kegiatan ini diharapkan menjadi simpul utama dalam penyebaran, pertukaran nilai dan pengetahuan serta ajang pembelajaran bagi sumber daya manusia kebudayaan, sehingga kelak mereka akan menjadi pelopor dalam upaya pemajuan kebudayaan," kata Judi.

Judi menjelaskan, Indonesia dengan begitu banyak suku dan etnik memiliki kekayaan dan keragama yang luar biasa. Kekayaan dan keragaman tersebut harus dilestarikan dan dikembangkan agar tidak hilang atau punah. 

Salah satu cara untuk melestarikan kekayaan dan keragaman tersebut adalah dengan cara meningkatkan kapasitas para pelaku budaya melalui proses berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Penyelenggaraan kegiatan BBM di Dharmasraya dilaksanakan secara luring pada 1-7 Juli 2022 yang bertempat di Laman Tuo Silek Pingian, Jalan Lama Sungai Dareh Jorong Koto Gadang, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. 

Penyelenggaraan kegiatan BBM luring ini merupakan kelanjutan dari kegiatan BBM daring yang sudah dilaksanakan sebelumnya pada 22 dan 23 Juni 2022.

Peserta BBM Silek Pingian berjumlah 30 orang dengan usia rata-rata 25 tahun. Hal ini sesuai dengan tujuan dari kegiatan BBM, yaitu menyasar para pelaku seni budaya muda untuk menjadi pelopor dalam melestarikan seni budaya yang bersangkutan. 

Baca juga : Laskar Rempah dan KRI Dewaruci Tiba di Surabaya

Semua peserta tersebut merupakan anggota dari Silek Pingian Rantau Batanghari yang berasal dari berbagai daerah di luar Sumatra Barat, seperti Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau dan juga Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. 

Pada akhir pelaksanaan BBM, seluruh peserta akan membuat dramaturgi tentang perjalanan menjadi seorang murid mulai dari membantai limau (syarat masuk sasaran), menerima gerak, hingga ujian hingga masuk ke dalam hutan.

Pencak silat merupakan salah satu seni bela diri khas Indonesia yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Seni bela diri ini berawal dari Sumatra Barat dan Jawa Barat yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. 

Silat di berbagai daerah tersebut memiliki perkembangan masing-masing menyesuaikan dengan adat dan tradisi di daerah.

Pada 2019, Tradisi Pencak Silat ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada siding ke-14 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage yang berlangsung di Bogota. 

Silek Pingian sebagai salah satu jenis silat di Indonesia termasuk dalam warisan budaya dunia UNESCO dan sudah seharusnya dilestarikan agar tidak hilang atau punah. Oleh karena itu, BBM hadir di Kabupaten Dharmasraya dengan OPK Silek Pingian agar nantinya para peserta dapat tetap melestarikan seni tradisi tersebut.

Silek Pingian adalah salah satu jenis silat di Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Dimulai dari pria yang Bernama Duli, seorang pemuda Sungai Dareh yang merantau ke Malaysia pada 1890. Disana ia belajar silat yang berazaskan agama Islam. Kemudian pada tahun 1901, ia pulang ke kampung halamannya untuk mengajarkan silat. Ia kemudian membuat Perguruan Silek Pingian Rantau Batanghari. 

Hingga sekarang perguruan tersebut bertahan dan sekarang dipimpin oleh generasi keempat, yaitu Zainir Dato’ Mangku. Perguruan Silek Pingian Rantau Batanghari memiliki tiga aspek pembelajaran, yaitu bela diri, pengobatan tradisional, dan tasawuf. Pada Kegiatan BBM kali ini akan berfokus pada salah satu dari tiga aspek pembelajaran, yaitu bela diri.

Lebih dari 100 tahun berdiri, Perguruan Silek Pingian Rantau Batanghari memiliki murid hingga 2.000 orang yang tersebar di berbagai daerah di dalam Sumatera Barat hingga luar Sumatera Barat, seperti Jambi dan Riau. Hingga tahun 2021, laman, sebutan untuk tempat latihan Silek Pingian sudah berada di dua tempat, yaitu di Sumatera Barat dan juga di Riau. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT