29 June 2022, 10:00 WIB

Seni dalam Sunyi: Karya Lukisan dan Drawing 15 Anak Tuli


Humaniora |

KOMUNITAS Kelas Gambar Indonesia dan Yayasan Handai Tuli Indonesia berkolaborasi menggelar pameran seni rupa "Seni dalam Sunyi" di Kota Kasablanka, GF pada Sabtu, 25 Juni - 3 Juli 2022. Puluhan karya lukisan dan drawing 15 anak tuli dari Handai Tuli akan dipamerkan selama 9 hari dari pukul 10.00 - 22.00 WIB.

Anak-anak tuli dari Handai Tuli sebelumnya menjalani Pre Bootcamp dan Bootcamp Kelas Gambar di Creative IDN dan basecamp Kelas Gambar, Jakarta. Selama 8 pekan, 15 anak tuli yang lolos Pre Bootcamp lalu belajar drawing dan lukisan portrait hingga abstrak dengan
medium cat akrilik di atas kanvas serta krayon di atas drawing paper bersama relawan Kawan Kelas Gambar dan juru bahasa isyarat Handai Tuli.

Co-Founder Kelas Gambar Indonesia Galih Sakti mengatakan, rangkaian pendidikan seni pada Bootcamp hingga pameran "Seni dalam Sunyi" digelar untuk mendukung equality atau kesetaraan kesempatan atas akses pendidikan seni bagi semua anak. Sebab, pendidikan seni sejak dini penting untuk mendukung tumbuh-kembang anak.

Baca juga: Jus Bit Tekan Risiko Penyakit Jantung Akibat Inflmasi

Baca juga: Orangtua Berperan Besar Bantu Anak Pahami Cara Bersosialisasi

Tujuan pameran ketiga Kelas Gambar ini, sambung Galih, senada dengan rangkaian workshop hingga pameran Kelas Gambar sebelumnya, yakni "Krayon Kami, Karya Kami" (2019) dan "Warna-Warni Jakarta" (2020) bagi anak-anak marginal.

"Pada dua pameran lalu, Kelas Gambar ingin menjembatani anak-anak yang terbatas secara ekonomi, agar mendapat akses pendidikan seni. Di pameran kali ini, kami harap jangan ada lagi ada pandangan bahwa anak tuli tidak bisa berkarya. Menghadirkan kesempatan berkarya
hingga berpameran, serta perubahan pandangan terhadap anak tuli, itu yang kita jembatani," kata Galih.

Co-Founder Kelas Gambar Indonesia, Teddy Almuktady mengatakan, rangkaian Bootcamp hingga pameran "Seni dalam Sunyi" juga merupakan upaya meningkatkan awareness masyarakat dan terutama pemerintah bahwa pendidikan seni bagi anak tuli juga butuh perhatian.

"Kenapa mengajak anak tuli untuk berpameran? Mungkin ini yang paling bisa Kelas Gambar jangkau dalam hal mengajar. Di Bootcamp, Kelas Gambar cukup dibantu interpreter dari kawan-kawan Handai Tuli karena tidak semua Kawan Kelas Gambar bisa bahasa isyarat. Pada akhirnya, kita ingin menampilkan bahwa pendidikan seni ada untuk siapa pun," kata Teddy.

"Di dua pameran sebelumnya, kita juga mendapati bahwa keterbukaan akses pendidikan seni bagi semua anak ini bisa diterapkan, terlebih jika didukung support system anak, seperti orang tuanya," imbuh Teddy.

"Kita pernah collab sekali saat itu, dan karya anak-anak bagus sekali. Saya saat itu berpikir, kayaknya kita bisa bikin special edition pameran buat mereka. Koordinasi antara Handai Tuli dan orang tua anak juga sangat bagus. Karena itu di masa pandemi Oktober-November 2021,
orang tua mau mendukung anak-anaknya yang semangat belajar seni untuk rutin mengikuti Bootcamp offline sambil menerapkan protokol kesehatan," kata Teddy. (H-3)

BERITA TERKAIT