19 June 2022, 08:15 WIB

USK Luncurkan Buku Psikologi Bencana dari Perspektif Pelaku dan Korban


Amiruddin A.R |

DOSEN Program Studi Psikologi dan peneliti pada Tsunami and Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (USK), Intan Dewi Kumala, S.Psi., M.Si resmi merilis buku berjudul "Psikologi Bencana: Sebuah Pengantar". Karya tersebut diterbitkan oleh Syiah Kuala University Press.

Intan Dewi Kumala meengatakan, buku ini mengulas bencana dan dampaknya dalam tinjauan psikologi sains dan terapan. Psikologi bencana menjadi suatu cabang terapan psikologi yang menelaah aspek kesehatan mental dan psikososial bencana, termasuk dampak serta penanganannya.

"Buku ini menguraikan bencana dalam perspektif psikologi ; Pandangan manusia terhadap risiko bencana, reaksi manusia terhadap peristiwa yang bersifat menakutkan, memiliki efek kejut luar biasa yang mengakibatkan ketidakberdayaan, serta efek riak yang ditimbulkan bencana," tutur Intan dalam peluncuuran bukunya, di Banda Aceh, kemarin.

Bencana sering kali hanya dilihat sebagai persoalan fisik akibat peristiwa alam, keterbatasan infrastruktur serta dampak kerusakan fisik dan penanganannya. Inilah kiranya yang melatarbelakangi penulis menguraikan konsep bencana dalam paradigma ilmu perilaku manusia yang masih belum terlalu banyak diulas.

Latar belakang akademis serta pengalamannya sebagai praktisi psikososial dalam misi kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak bencana di Indonesia menjadikan isi buku ini bukan hanya sebatas konsep teori tapi juga praktis dan aplikatif.

Lebih jauh, menerangkan juga mengenai karakteristik dan dampak pada kelompok rentan bencana meliputi kelompok usia anak, remaja, dewasa dan lanjut usia. Kemudian pada penyandang disabilitas fisik dan mental.

"Buku ini juga membahas potensi trauma sekunder, vicarious trauma, compassion fatique, dan burn-out yang dapat dialami oleh pekerja kemanusiaan saat bertugas di lokasi terdampak bencana," kata Intan Dewi Kumala.

Intan tidak lupa menjelaskan, model pendekatan pemberian dukungan psikososial untuk membantu pemulihan penyintas bencana. Berikutnya konsep Psychological First Aid (PFA) termasuk pelayanan PFA jarak jauh (remote PFA) yang banyak diberikan saat wabah COVID-19, peduli diri (self-care) dan relaksasi.

Pada bagian akhir buku disuguhkan suplemen berupa contoh asesmen mandiri yang dapat digunakan sebagai skrining awal untuk mengenali kondisi kesehatan mental pekerja kemanusiaan dalam konteks bencanabencana. (OL-13)

BERITA TERKAIT