18 June 2022, 09:55 WIB

Wujudkan SDGs Lewat Pengolahan Sampah Secara Tepat


Faustinus Nua |

Konsep ekonomi sirkular sangat penting dalam konteks realisasi Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah didengungkan beberapa tahun ini. Konsep ini terkait dengan sampah dan pengelolaannya yang tidak sekadar mengurangi dampak pada lingkungan, tetapi sekaligus meningkatkan nilai tambah.
“Pengelolaan sampah kota telah menjadi perhatian global karena memiliki implikasi yang luas bagi masyarakat dan lingkungan. Dalam konteks Indonesia, pertumbuhan penduduk dan kemakmuran ekonomi membuat tantangan pengelolaan sampah perkotaan semakin sulit,” jelas Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih (PRLTB), Sasa Sofyan Munawar, menyampaikan urgensi dari pengelolaan sampah, Sabtu (18/6).

Didorong oleh keterbatasan sumber daya, Sasa merasa perlu adanya dukungan kerja sama dengan negara-negara yang lebih maju dalam pengelolaan sampah, salah satunya Korea. Korea telah dikenal dengan inovasi dan teknologi dalam Integrated Municipal Solid Waste (MSW) Management selama beberapa dekade.

Lantas, Indonesia sedang mencari peluang untuk mengambil langkah strategis guna meningkatkan pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan MSW. Ekonomi sirkular dipandang sebagai cara yang lebih menonjol untuk mengelola MSW.

“Ini memiliki spektrum yang luas yang mencakup lingkungan, sosial, kebijakan, serta ekonomi. Sehingga, akan menjadi jembatan untuk menghubungkan ide, pengetahuan, dan tindakan tentang pengolahan sampah kota untuk mendukung ekonomi sirkular,” harap Sasa.

Peneliti dari PRLTB, Wahyu Purwanta menguraikan isu-isu teknis yang terkait dengan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia. Isu yang diangkatnya mencakup potensi energi sampah, pre-processing sampah, dioksin dan polutan udara, serta isu gas rumah kaca dan ekonomi sirkular.

MSW di Indonesia memiliki potensi energi yang dapat dinyatakan dengan nilai kalori tertentu. Dalam prakteknya, diperlukan kehati-hatian dalam menghitung tingkat konversi energi. Sedangkan dalam proses pre-treatment, ada nilai optimal input dalam MSW yang akan memperbaiki kualitas bahan bakar sampah. "Persoalannya adalah terdapat perbedaan antara bobot terangkut dengan bobot dalam waste burner karena proses evaporasi, bulky waste, dan leachate, sehingga diperlukan win-win solution yang menjembatani kebutuhan pemerintah daerah maupun developer,” tutur Wahyu.

Pada dasarnya, setiap kegiatan menghasilkan emisi, termasuk pengolahan sampah, terutama pengolahan sampah plastik. Beberapa plastik dapat dibakar sampai 850 derajat Celcius, seperti polyehylene terephtalate yang dijadikan bahan kemasan botol dan kemasan kaca, ataupun polypropylene yang sering dijadikan sebagai bahan tupperware dan botol minuman lainnya. Dalam proses pembakaran jenis plastik seperti itu, dapat menghasilkan dioksin yang efeknya dapat menyebabkan kanker dan sistem reproduksi.

“Isu dioksi dan polutan lainnya dapat dikendalikan oleh flue gas treatment agar dapat memenuji standar kualitas emisi. Selain itu, WTE pada umumnya memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan dengan sanitary landfills, sehingga implementasi WTE dapat dijadikan bagian dari konsep ekonomi sirkular,” ungkap Wahyu.

Peneliti lainnya dari PRLTB, Sri Wahyono yang juga menguraikan biological-based municipal solid waste treatment. Menurut Wahyoni, teknologi pengolahan sampah secara biologis, memiliki posisi penting dalam manajemen persampahan, mengingat komposisi sampah organik dari rumah tangga sangat mendominasi prosentasenya dari keseluruhan sampah di Indonesia.

Pada intinya, setiap teknologi pengolahan sampah, membutuhkan input sampah tertentu, baik itu teknologi pengolahan sampah organik maupun sampah anorganik, baik itu yang bersifat aerobik seperti composting dan biodrying, maupun yang anaerob seperti anaerobic digestion. Dan dalam setiap proses pengolahan sampah, pemilahan merupakan jantung semua teknologi yang digunakan, terutama dalam teknologi pengolahan sampah berbasis biologis.

"Teknologi pemroses sampah berbasis biologis, yang termasuk composting technology, biogas, BSF cultivation, dan biodrying, telah diterapkan di beberapa kota di Indonesia, baik untuk skala rumah tangga, regional, maupun skala kota,” kata Wahyono.(H-1)

BERITA TERKAIT