16 June 2022, 07:15 WIB

Agar tak lagi Dianggap Kolot


Wan/Hym/X-6 |

KONON di seluruh Asia Tenggara, terdapat lebih dari 250 rempah dan bumbu. Ternyata, setelah diidentifikasi, 135 di antaranya berada dan digunakan di Indonesia. Kekayaan rempah yang melimpah tersebut tentu saja memiliki prospek besar dalam menyejahterakan rakyat. Hal itu pula menjadi alasan perlunya pembentukan Tim Kosmopolis Rempah UGM.

Tim mendorong masyarakat agar mencintai produk Indonesia. Kami memiliki program memasukkan minuman dari rempah Nusantara ke kafe-kafe di Yogyakarta supaya menjadi pilihan anak milenial. Harapannya, rempah tidak lagi dianggap sebagai jamu dengan kesan kolot atau tradisional, tetapi suatu minuman yang enak dan menyehatkan.

Gerakan back to nature yang dewasa ini gencar digaungkan justru menjadi momentum penting bagi Indonesia. Fungsi dan manfaat rempah-rempah untuk meningkatkan daya tahan tubuh pun makin dikenal masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19.

Kita harus mengubah pemikiran bahwa mengembangkan rempah berarti menjadi petani yang identik dengan orang desa atau orang miskin. Padahal, jika melihat kebutuhan pangan dunia, rempah sungguh menjanjikan lantaran setiap saat diperlukan.

Kehadiran teknologi canggih pun membuat penanaman rempah bisa dilakukan dengan sistem pertanian hidroponik. Artinya, pengembang rempah tidak lagi dimonopoli orang desa dengan lahan yang luas. Inovasi harus kita lakukan meskipun memiliki keterbatasan lahan. Tim Kosmopolis Rempah pun hadir untuk memopulerkan hal tersebut.

Pengembangan rempah juga justru berbasis pada penyelamatan lingkungan. Jadi, kalau kita mengembangkan rempah, otomatis ikut memperpanjang usia bumi karena rempah termasuk penghasil oksigen yang baik. Hal itu pula menjadi alasan negara Barat banyak menyokong proyek lingkungan. (Wan/Hym/X-6)

BERITA TERKAIT