13 June 2022, 21:06 WIB

Petani Garam Di Indramayu Tidak Bisa Nikmati Kenaikkan Harga Garam


Nurul Hidayah |

PRODUK garam saat ini dihargai tinggi. Namun petani garam di Indramayu tidak bisa menikmati karena tidak lagi memiliki stok.

Robedi, seorang petani garam di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu menjelaskan saat ini garam dihargai tinggi. "Sudah Rp 1.200 per kilogram," tuturnya, Senin (13/6).

Padahal akhir musim kemarau tahun lalu harga garam masih di kisaran Rp700 hingga Rp800 per kilogram. Kenaikan harga garam ini menurut Robedi sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu.

Sekali harga tinggi, lanjut Robedi, petani garam justru tidak bisa menikmatinya karena petani saat ini tidak memiliki stok. Dijelaskan Robedi, masa produksi garam tahun lalu hanya sekitar dua  bulan karena singkatnya musim kemarau.

Hasil produksi yang sedikit itu pun sudah dijual lagi untuk memenuhi kebutuhan. "Saat ini petani garam di kami belum mulai masa produksi garam," tuturnya.

Dikatakan, hujan yang masih sering turun membuat produksi garam tidak bisa dilakukan. Rencananya produksi garam akan dilakukan sekitar Juli mendatang.

Ketua Asosiasi Petani Garam (Apgasi) Jawa Barat, M Taufik, membenarkan jika saat ini harga garam sudah mencapai Rp1.200 per kilogram. "Harga garam sekarang tinggi, tapi petani tidak bisa menikmati. Stok mereka sudah habis," tuturnya.

Penyebab tingginya harga garam, menurut Taufik, dikarenakan stok yang minim. Minimnya stok garam di tingkat petani dikarenakan masa produksi garam tahun ini belum dimulai. Sedangkan masa produksi garam pada 2021 lalu sudah berakhir sejak beberapa bulan yang lalu.

Hujan yang masih sering turun menyebabkan hingga kini petani garam belum memulai memproduksi garam. Dalam kondisi normal, masa penggarapan tambak garam dimulai pertengahan Juni hingga November. "Prediksi BMKG tahun ini kemarau basah. Masa penggararapan tambak akan sangat terdampak," tuturnya. (OL-15)

BERITA TERKAIT