12 June 2022, 11:36 WIB

Gaya Hidup Kunci Atasi Hipertensi


Dinda Shabrina |

AGUNG, 45, mengetahui ia menderita hipertensi secara tidak sengaja. Ketika itu, ia menemui dokter gigi karena salah satu giginya yang goyang. Ia berpikir, giginya akan dicabut.

Sebelum dokter melakukan tindakan, tekanan darah Agung diperiksa dan ternyata hasilnya tinggi, 180/90, padahal ia mengaku tidak ada riwayat hipertensi sebelumnya. "Dokter menolak mencabut gigi dan menyarankan untuk check up dulu," kata dia kepada Media Indonesia, pekan lalu.

Ia kemudian menemui dokter penyakit dalam dan didiagnosis menderita darah tinggi. "Padahal saya tidak merasa apa-apa. Tidak pusing-pusing atau sakit kepala," ujarnya.

Baca juga: Jamaah Calon Haji Indonesia Diingatkan Pakai Alas Kaki di Tanah Suci

Hipertensi merupakan penyakit tekanan darah tinggi yang melampaui batas normal, yakni tekanan darah sistolik di atas 120 dan tekanan diastolik di atas 80. Meskipun bukan penyakit menular, itu bisa mengancam nyawa. Hipertensi bisa datang tanpa diketahui penderitanya dan pelan-pelan merusak berbagai sistem dalam tubuh. Hipertensi juga bisa mengakibatkan komplikasi seperti penyakit jantung, ginjal, strok, gangguan saraf, gangguan saraf tepi, dan kerusakan retina.

Dokter spesialis penyakit Surya Wijaya mengatakan sering kali pasien datang ke rumah sakit dalam keadaan hipertensi yang sudah cukup parah. Tidak jarang dari mereka baru sadar dengan kondisi tubuh mereka yang telanjur tumbang dan terkena komplikasi karena hipertensi.

"Bahaya hipertensi sering kali karena tidak ada gejala. Makanya diperlukan untuk melakukan cek secara berkala tekanan darah kita. Hipertensi itu sendiri punya tingkatan, dari stadium satu, dua, sampai tiga dan kondisi stadium tiga itu sudah stadium kritis, tekanan darahnya jauh melebihi normal dan ini bisa membahayakan," kata Surya dalam webinar tentang bahaya hipertensi.

Pencegahan hipertensi itu sangat diperlukan mengingat angka penderita hipertensi di Indonesia sangat tinggi. Hipertensi bisa menyerang orang tua dan anak muda, dan tidak terpatok pada genetik. Surya mengatakan, meski orang tua atau secara garis keturunan keluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit hipertensi, bisa saja kita terkena.

Gaya hidup

Menurut Surya, faktor yang paling berpengaruh pada hipertensi ialah buruknya gaya hidup. "Zaman sekarang makanannya semua yang asin-asin, goreng-goreng. Genetik bisa berpengaruh, tapi tidak menentukan 100%," ujar Surya.

Mengubah gaya hidup sehat menjadi kunci mengatasi penyakit hipertensi. Surya menyampaikan, ketika terserang hipertensi, jangan terlalu cepat memutuskan mengonsumsi obat. Ada baiknya diubah terlebih dahulu pola makan, pola tidur, serta olahraga yang teratur. "Pertama bukan obat. Pertama adalah perubahan gaya hidup. Perubahan pola dan jenis makanan. Terakhir obat antihipertensi. Coba mulai olahraga kardio. Disarankan untuk melakukan olahraga ini 150 menit per minggu," imbuh dia.

Baca juga: Kemenag Tegaskan Daftar Sertifikasi Halal Itu Mudah dan Murah

Selain itu, Surya menjelaskan penerapan sleep hygiene atau tidur yang sehat dan berkualitas untuk menurunkan stres dan membantu menstabilkan tekanan darah. "Kita menjauhi kafein kira-kira 6-8 jam sebelum tidur. Bisa juga relaksasi dengan meditasi, yoga, membaca buku. Yang paling penting tidur yang baik itu ialah dengan kondisi gelap," jelas Surya.

Asupan makanan juga penting diperhatikan. Surya menyarankan mengadopsi pola makan DASH (dietary approaches to stop hypertension) dengan banyak konsumsi buah dan sayur. "Perbanyak konsumsi protein rendah lemak seperti ayam, ikan, ikan laut,� tambahnya.

Perubahan gaya hidup dan pola makan itu, lanjutnya, efektif menurunkan berat badan 10 kg dan secara bersamaan menurunkan tekanan darah sistolik sebanyak 5-20. Setelah itu, barulah pasien bisa mencari obat antihipertensi. Obat antihipertensi biasanya dikonsumsi jangka panjang, tetapi tidak perlu khawatir ketergantungan obat sebab dosisnya bisa dikurangi perlahan sampai akhirnya lepas obat. (H-3)

BERITA TERKAIT