11 June 2022, 08:30 WIB

Kemenkes Diharapkan Lebih Tanggap Tangani Hepatitis Akut


M Iqbal Al Machmudi |

EPIDEMIOLOG dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menilai pemerintah harus lebih memperhatikan penanganan hepatitis akut yang belum diketahui etiologinya (Hepatitis Akut Unknown Aetiology).

Padahal upaya preventif dengan cara kampanye menjaga kebersihan lebih efektif dibandingkan dengan mengobati pasien yang sudah terpapar.

"Pemerintah tidak terlalu concern dengan upaya peningkatan pengetahuan masyarakat, Kemenkes masih berpikir kuratif bahwa kesehatan identik dengan rumah sakit dan dokter," kata Masdalina saat dihubungi, Sabtu (11/6).

"Padahal masyarakat yang sakit itu jumlahnya sedikit, lebih banyak yang sehat. Hal ini bisa ditunjukkan dengan besaran APBN yang dikeluarkan untuk kuratif berkali lipat dibandingkan untuk promotif dan preventif," imbuhnya.

Baca juga: Kemenkes : 7 Pasien Dugaan Hepatitis Akut Meninggal Dunia-

Diketahui, Kementerian Kesehatan melaporkan per 9 Juni 2022 terdapat 25 kasus suspek hepatitis akut dengan klasifikasi 9 probable dan 16 pending classification dan 6 anak dinyatakan meninggal dunia.

"Yang harus dilakukan Kemenkes adalah peningkatan kemampuan deteksi dini di puskesmas dan rumah sakit rujukan v supaya bisa dikenali lebih cepat sebelum menjadi parah. Meninggal kita terbanyak di dunia untuk ini, dan itu tidak bagus dalam deteksi dini dan respon," ujar Masdalina.(OL-5)

BERITA TERKAIT