02 June 2022, 21:45 WIB

Stockholm +50, Momentum Percepat Implementasi Pembangunan Berkelanjutan


Atalya Puspa |

AGENDA Stockholm +50, yang merupakan pertemuan lingkungan internasional tengah berlangsung pada 2 hingga 3 Juni 2022 di Stockholm, Swedia. Indonesia pun turut hadir langsung dalam agenda tersebut.

Dikatakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, agenda tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mempercepat implementasi pembangunan berkelanjutan yang telah tertuang dalam berbagai perjanjian internasional.

"Agenda ini akan memberikan refleksi bahwa persoalan lingkungan hidup dan keanegaragaman hayati dan perubahan iklim adalah hal serius yang harus kita tangani secara komperhensif," kata Siti, Kamis (2/6).

Keterlibatan Indonesia dalam agenda tersebut, ujar Siti, juga merupakan bukti bahwa Indonesia benar-benar serius dalam melaksanakan ketertiban dunia pada konteks alam dan iklim.

Hal itu telah terbukti dari ketegasan Indonesia yang tertuang dalam dokumen updated nationally determined contribution (NDC) 2030 dan Long-Term Strategy on Low Carbon and Climate Resilient Development 2050 serta dokumen implementasi FOLU net sink 2030. Dokumen tersebut berfungsi sebagai pedoman dalam implementasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di skala nasional.

"Di tengah ketidakpastian janji negara maju untuk menyalurkan pembiayaan untuk membantu negara berkembang dalam menangani perubahan iklim, pemerintah Indonesia terus bergerak nyata memperkuat kebijakan pengendalian perubahan iklim dalam negeri secara detil dan implementasinya dalam rangka menjaga kepentingan penurunan emisi gas rumah kaca sesuai dengan target nasional," beber Siti.

Untuk diketahui, Stockholm+50 mengangkat tema Planet yang Sehat untuk Kemakmuran Semua. Pertemuan ini berlangsung lima dekade setelah Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan Manusia tahun 1972.

Acara ini akan memberi para pemimpin kesempatan untuk memanfaatkan 50 tahun aksi lingkungan multilateral untuk mencapai tindakan berani dan mendesak yang diperlukan untuk mengamankan masa depan yang lebih baik di planet yang sehat.

Mantan Menteri Lingkungan dan Iklim Swedia Per Bolund mengatakan, pihaknya ingin Stockholm+50 memberikan kontribusi nyata untuk mempercepat transformasi menuju masa depan yang berkelanjutan setelah pandemi covid-19.

"Kami menyebut pertemuan ini untuk memperingati lima puluh tahun konferensi 1972. Kami kehabisan waktu dan tindakan segera diperlukan. Tantangan ini bersifat global, dan kita harus menghadapinya dengan respons global yang mendorong tindakan di lapangan,” ungkap dia.

Dialog kepemimpinan yang berlangsung di agenda tersebut akan membahas sejumlah hal. Di antaranya merefleksikan kebutuhan mendesak akan perlunya aksi untuk mencapai planet yang sehat dan kemakmuran bersama. Selain itu ada pula pembahasan mengenai mencapai pemulihan yang berkelanjutan dan inklusif dari pandemi covid-19 dan mempercepat implementasi dimensi lingkungan hidup pembangunan berkelanjutan dalam konteks dekade aksi dan penyelenggaraan pembangunan berkelanjutan.

Sekretaris Jenderal Stockholm+50 Inger Andersen mengatakan, kita perlu segera bekerja untuk mengubah ekonomi dan masyarakat kita, tetapi cabang-cabang kita akan menyebar hanya sejauh akar kita dalam.

"Dengan mengingat Stockholm pada usia 50, kita juga mengingat bagaimana dunia bersatu untuk menyembuhkan lapisan ozon pada tahun 2013, menghapus bahan bakar bertimbal tahun ini dan menghentikan kepunahan spesies yang terancam punah. Dengan berkumpul di Stockholm, kami juga berkomitmen kembali pada kesehatan manusia dan planet, tanggung jawab, kemakmuran, kesetaraan, dan perdamaian seperti yang telah kita lihat dengan sangat jelas di covid-19," beber dia. (H-2)

BERITA TERKAIT